- RUMAH PANGAN KITA DKPP PURWOREJO SENANTIASA HADIR MENEMANI SETIAP JUM’AT PAGI
- PEMANTAUAN DISTRIBUTOR BAPOKTING OLEH PENGAWAS HARGA PANGAN DI KABUPATEN PURWOREJO
- Refilling Nitrogen Cair Guna Sukseskan Inseminasi Buatan Ternak
- Menyulam Ilmu di Hamparan Tembakau
- Gerakan Pengendalian Tikus Serempak di Lima Kecamatan Kabupaten Purworejo
- BPP Purworejo Gelar Gerdal Tikus Susulan di Cangkreplor, Amankan Produksi Padi MT II
- Jamin Daging Kurban Aman, Tim DKPP Purworejo Sisir Belasan Kecamatan
- Prosesi Penyembelihan Sapi Kurban Bantuan Presiden Republik Indonesia ????✨
- PENYERAHAN BANTUAN PANGAN SECARA SIMBOLIS OLEH WAKIL BUPATI PURWOREJO DI DESA TEGALSARI
- DKPP Gelar Rakor Pengawasan Hewan Kurban 2026, Tekankan Kelayakan dan Higienitas untuk Hasilkan Daging ASUH
Menjaga Mutu dari Hulu: Evaluasi Penangkaran Benih Tembakau Purworejo

Menjaga Mutu dari Hulu: Evaluasi Penangkaran Benih Tembakau Purworejo
KEMIRI KEREN NEWS — Komitmen meningkatkan kualitas benih tembakau Purworejo kembali ditegaskan melalui kegiatan Evaluasi Penangkaran Benih Tembakau yang diselenggarakan pada Kamis, (11/12/2025), bertempat di Kelompok Tani Sidodadi, Desa Rowobayem, Kecamatan Kemiri. Kegiatan strategis ini menghadirkan narasumber dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB), dan diikuti oleh 15 peserta yang merupakan petani penangkar serta pengurus kelompok tani setempat.
Acara turut dihadiri oleh Koordinator BPP Kecamatan Kemiri, Umul Khasunah, SP., MAP, yang sekaligus membuka kegiatan dengan semangat penguatan kapasitas penangkaran. Dalam sambutannya, ia menyampaikan pesan kuat mengenai pentingnya kualitas hulu produksi.
“Jika benihnya unggul, petaninya percaya diri, dan hasilnya bisa bersaing. Evaluasi ini bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi investasi pengetahuan untuk memastikan tembakau Purworejo tetap berada di barisan terdepan,” tegasnya.
Pada sesi pertama, tim peneliti dari BRIN memaparkan hasil riset dan rekomendasi terbaru terkait peningkatan mutu benih tembakau. Materi meliputi penguatan kemurnian genetik, adaptasi varietas terhadap perubahan iklim, hingga inovasi metode seleksi tanaman induk.
“Penangkaran benih tembakau bukan proses sederhana. Ia menuntut ketepatan sejak pemilihan tanaman induk, perawatan tanaman, hingga pengeringan benih. Sedikit saja keliru, kualitasnya langsung turun,” ungkapnya.
Para peserta tampak antusias, terutama ketika narasumber menunjukkan contoh visual mengenai karakter fisik benih unggul serta kesalahan umum yang sering tidak disadari petani.
Pada sesi berikutnya, perwakilan BPSB menekankan pentingnya mengikuti standar sertifikasi agar benih yang diproduksi memiliki legalitas, mutu terjamin, dan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Penjelasan mencakup alur pemeriksaan lapangan, persyaratan administrasi, hingga proses penerbitan sertifikat.
“Benih bersertifikat bukan hanya soal stempel, tetapi jaminan bagi petani bahwa benih telah memenuhi standar mutu nasional. Dengan sertifikasi, benih dari kelompok tani Sidodadi bisa menjadi rujukan daerah lain,” ujarnya.
Penjelasan ini membuka perspektif baru bagi peserta mengenai potensi pasar benih lokal, sekaligus peluang usaha yang lebih luas jika proses penangkaran dilakukan sesuai SOP.
Suasana semakin hidup ketika memasuki sesi diskusi. Para peserta mengemukakan berbagai permasalahan, seperti: gangguan cuaca ekstrem yang memengaruhi pembungaan, serangan OPT pada fase reproduktif, keterbatasan lahan untuk menjaga isolasi jarak, serta kendala penyimpanan benih pascapanen.
Salah satu petani mengatakan,
“Selama ini kami lebih fokus pada hasil daun tembakau. Ternyata, urusan benih jauh lebih rinci dan sensitif. Penjelasan hari ini membuka mata kami bahwa banyak langkah yang harus diperbaiki,” ujarnya disambut anggukan peserta lain.
Narasumber dari BRIN dan BPSB memberikan solusi teknis yang realistis, menyesuaikan kondisi lapangan Desa Rowobayem yang terkenal dengan tanahnya yang subur namun cuacanya sering berubah cepat.
Kegiatan ini memperlihatkan kuatnya sinergi tiga unsur: petani sebagai pelaku utama, penyuluh sebagai pendamping, dan lembaga riset serta lembaga sertifikasi sebagai penguat kualitas. Kolaborasi seperti ini menjadi kunci dalam menghadapi tantangan sektor perbenihan lokal di tengah tuntutan pasar yang semakin ketat.
Koordinator BPP Kemiri kembali menegaskan komitmennya,
“Kami tidak ingin petani hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga produsen benih unggul. Dengan pendampingan berkelanjutan, saya yakin Kelompok Tani Sidodadi dapat menjadi pusat penangkaran tembakau yang diperhitungkan di Purworejo,” tuturnya.
Evaluasi menunjukkan perlunya perbaikan seleksi tanaman induk, penerapan isolasi jarak, dan pencatatan budidaya yang masih belum konsisten. Pengendalian OPT serta teknik pascapanen dinilai perlu diperketat untuk menjaga mutu benih. BRIN menyoroti pentingnya kemurnian genetik, sementara BPSB menekankan kelengkapan recording sebagai dasar sertifikasi. Kelompok Tani Sidodadi berkomitmen memperbaiki SOP penangkaran dan siap mengajukan sertifikasi pada batch berikutnya, sekaligus memperkuat kolaborasi dengan BRIN, BPSB, dan penyuluh dalam peningkatan kualitas benih tembakau Purworejo.
Acara ditutup dengan pesan optimistis dari Koordinator BPP Kemiri:
“Kita tidak sedang berjalan sendiri. Petani, penyuluh, BRIN, dan BPSB sedang melangkah bersama. Hasil terbaik akan lahir dari kolaborasi yang tidak pernah patah.” tegasnya. Semoga.–






