- Banter Melaju Disosialisasikan di Kemejing, Warga Antusias Sambut Peluang Ternak Kambing Jawa Randu
- Tindaklanjut Pengaduan Warga Mengenai Peternakan Ayam
- Gapoktan Desa Pakisarum Gelar Sosialisasi eRDKK 2027, Pastikan Petani Akses Pupuk Subsidi
- Ubinan Padi Varietas Inpari 32 di Desa Gowong Tunjukkan Produktivitas Menjanjikan
- Jalan Usaha Tani (JUT) DKPP Tahun Anggaran 2026
- DKPP Lakukan Pengujian Sampel PSAT Pasca Idul Fitri 1447 H
- Refilling Nitrogen Cair untuk Mendukung Kegiatan Inseminasi Buatan Ternak
- Seleksi Hibah Ternak 2027 Dimulai, DKPP Purworejo Verifikasi Proposal dari 14 Kecamatan
- PEMKAB PURWOREJO DAN PERUM BULOG SIAP SALURKAN BANTUAN PANGAN BERAS DAN MINYAK GORENG ALOKASI FEBRUARI-MARET 2026
- Pemantauan Harga Bahan Pokok Penting Pasca HBKN Idul Fitri 1447H
Mengenal Rhinitis pada Kucing

Mengenal
Rhinitis pada Kucing
Bulan Desember tahun 2023 ini
merupakan bulan dengan intensitas hujan sedang di awal bulan. Banyak kasus yang
datang ke UPT Puskeswan Purworejo adalah kucing dengan keluhan bersin-bersin,
batuk dan pilek. Penyakit ini merupakan penyakit sistem respirasi bagian atas
yang sering dan umum terjadi pada kucing. Penyakit ini sering disebut dengan
radang selaput lendir atau rhinitis. Hewan yang mengalami kejadian rhinitis
dapat menunjukkan gejala klinis yang beragam seperti bersin, batuk, demam,
mengalami kelainan bernafas (nafas cepat atau melambat), keluarnya leleran dari
rongga hidung, hipersalivasi, kemudian terlihat produksi air mata berlebihan
dan diikuti dengan pembengkakan limfonodus (Britton and Davies, 2010).
Rhinitis dapat digolongkan
menjadi berbagai jenis berdasarkan kausa dan symptom utamanya, yaitu rhinitis
alergi, rhinitis non alergi, rhinitis medicamentosa, rhinitis sicca,
rhinitis atrofi kronis, rhinitis polipous, dan rhinitis infeksius (Brown dan
Bernstein, 2015). Rhinitis infeksius adalah radang pada area nasal yang
disebabkan oleh agen infeksius seperti bakteri, jamur dan virus. Rhinitis yang
disebabkan oleh bakteri cenderung bersifat kronis, karena adanya invasi dari
infeksi bakteri yang dapat menyebabkan produksi leleran berbentuk mucus
berlebihan dan kegagalan fungsi mukosiliari mukosa hidung yang berfungsi dalam
membersihkan kotoran (Kahn, 2011).
Rhinitis yang disebabkan oleh
virus pada kucing adalah Feline Viral Rhinotracheitis (FVR) dan Feline
Calicivirus (FCV). Sedangkan kapang atau fungi yang menyebabkan rhinitis
pada kucing yaitu Cryptococcus spp. dan Aspergillus spp. Bakteri
juga dapat menyebabkan rhinitis seperti Mycoplasma sp., Clamydophilia
felis Pasteurella sp., Streptococcus sp., Staphylococcus sp.,
dan Klebsiella sp. Namun infeksi bakteri merupakan dapatan dari infeksi
sekunder meskipun tidak menutup kemungkinan infeksi bakteri ini dapat menjadi
penyebab primer rhinitis. (Ramaditya et al. 2018).
Salah satu yang berperan
penting mempengaruhi tingginya Tingkat infeksi bakteri adalah suhu. Suhu pada
dataran rendah berkisar antara 24-32 ˚C, suhu tersebut mendukung pertumbuhan
bakteri karena mendekati suhu optimal pertumbuhan bakteri yaitu 37 ˚C, sehingga
bakteri cenderung tumbuh lebih cepat pada dataran rendah. Sedangkan pada
dataran tinggi suhu berkisar 15-20 ˚C membuat pertumbuhan bakteri pada suhu
yang rendah cenderung mengalami perlambatan.
Peneguhan diagnose rhinitis
dapat dilihat dari gejala klinis yang muncul seperti bersin-bersin dan keluar
leleran dari hidung. Selanjutnya dapat dilakukan pemeriksaan fisik oleh dokter
hewan. dapat juga dilakukan diagnose penunjang seperti tes darah ataupun tes
leleran hidung.
Pencegahan rhinitis ini dapat
dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal kucing, ada
baiknya kucing hanya tinggal di dalam rumah saja. Namun apabila hal ini tidak
mungkin dilakukan, memberikan kekebalan lain pada kucing juga diperlukan
seperti pemberian vitamin secara rutin. Selain itu, vaksinasi kucing sangat dianjurkan
untuk menguatkan daya tahan kucing terhadap infeksi virus yang mematikan.
Referensi
Britton
AP dan Davies JL. 2010. Rhinitis and Meningitis in Two Shelter Cats Caused
by Streptococcus equi subspecies zooepidemicus. J Comp Path 143: 70-74.
Brown
KR, Bernstein JA. 2015. Clinically relevant outcome measures of novel
pharmacotherapy for nonallergic rhinitis. Current Opinion in Allergy and
Clinical Immunology 15(3): 204–212.
Kahn
CM. 2011. The Merck Veterinary Manual. 9 th Edition. USA. Merck and Co.
Hlm. 1167- 1240.
Ramaditya
NA, Tono PG, Suarjana IGK, Besung INK. 2018. Isolasi klebsiella sp.
berdasarkan tingkat kedewasaan dan lokasi pemeliharaan serta pola kepekaan
terhadap antibakteri. Buletin Veteriner Udayana 10(1): 26-32.






