Mengenal Rhinitis pada Kucing

By DINPPKP 31 Des 2023, 20:55:55 WIB Penyuluhan
Mengenal Rhinitis pada Kucing

Mengenal Rhinitis pada Kucing

 

Bulan Desember tahun 2023 ini merupakan bulan dengan intensitas hujan sedang di awal bulan. Banyak kasus yang datang ke UPT Puskeswan Purworejo adalah kucing dengan keluhan bersin-bersin, batuk dan pilek. Penyakit ini merupakan penyakit sistem respirasi bagian atas yang sering dan umum terjadi pada kucing. Penyakit ini sering disebut dengan radang selaput lendir atau rhinitis. Hewan yang mengalami kejadian rhinitis dapat menunjukkan gejala klinis yang beragam seperti bersin, batuk, demam, mengalami kelainan bernafas (nafas cepat atau melambat), keluarnya leleran dari rongga hidung, hipersalivasi, kemudian terlihat produksi air mata berlebihan dan diikuti dengan pembengkakan limfonodus (Britton and Davies, 2010).

Rhinitis dapat digolongkan menjadi berbagai jenis berdasarkan kausa dan symptom utamanya, yaitu rhinitis alergi, rhinitis non alergi, rhinitis medicamentosa, rhinitis sicca, rhinitis atrofi kronis, rhinitis polipous, dan rhinitis infeksius (Brown dan Bernstein, 2015). Rhinitis infeksius adalah radang pada area nasal yang disebabkan oleh agen infeksius seperti bakteri, jamur dan virus. Rhinitis yang disebabkan oleh bakteri cenderung bersifat kronis, karena adanya invasi dari infeksi bakteri yang dapat menyebabkan produksi leleran berbentuk mucus berlebihan dan kegagalan fungsi mukosiliari mukosa hidung yang berfungsi dalam membersihkan kotoran (Kahn, 2011).

Rhinitis yang disebabkan oleh virus pada kucing adalah Feline Viral Rhinotracheitis (FVR) dan Feline Calicivirus (FCV). Sedangkan kapang atau fungi yang menyebabkan rhinitis pada kucing yaitu Cryptococcus spp. dan Aspergillus spp. Bakteri juga dapat menyebabkan rhinitis seperti Mycoplasma sp., Clamydophilia felis Pasteurella sp., Streptococcus sp., Staphylococcus sp., dan Klebsiella sp. Namun infeksi bakteri merupakan dapatan dari infeksi sekunder meskipun tidak menutup kemungkinan infeksi bakteri ini dapat menjadi penyebab primer rhinitis. (Ramaditya et al. 2018).

Salah satu yang berperan penting mempengaruhi tingginya Tingkat infeksi bakteri adalah suhu. Suhu pada dataran rendah berkisar antara 24-32 ˚C, suhu tersebut mendukung pertumbuhan bakteri karena mendekati suhu optimal pertumbuhan bakteri yaitu 37 ˚C, sehingga bakteri cenderung tumbuh lebih cepat pada dataran rendah. Sedangkan pada dataran tinggi suhu berkisar 15-20 ˚C membuat pertumbuhan bakteri pada suhu yang rendah cenderung mengalami perlambatan.

Peneguhan diagnose rhinitis dapat dilihat dari gejala klinis yang muncul seperti bersin-bersin dan keluar leleran dari hidung. Selanjutnya dapat dilakukan pemeriksaan fisik oleh dokter hewan. dapat juga dilakukan diagnose penunjang seperti tes darah ataupun tes leleran hidung.

Pencegahan rhinitis ini dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal kucing, ada baiknya kucing hanya tinggal di dalam rumah saja. Namun apabila hal ini tidak mungkin dilakukan, memberikan kekebalan lain pada kucing juga diperlukan seperti pemberian vitamin secara rutin. Selain itu, vaksinasi kucing sangat dianjurkan untuk menguatkan daya tahan kucing terhadap infeksi virus yang mematikan.

 

Referensi

Britton AP dan Davies JL. 2010. Rhinitis and Meningitis in Two Shelter Cats Caused by Streptococcus equi subspecies zooepidemicus. J Comp Path 143: 70-74.

Brown KR, Bernstein JA. 2015. Clinically relevant outcome measures of novel pharmacotherapy for nonallergic rhinitis. Current Opinion in Allergy and Clinical Immunology 15(3): 204–212.

Kahn CM. 2011. The Merck Veterinary Manual. 9 th Edition. USA. Merck and Co. Hlm. 1167- 1240.

Ramaditya NA, Tono PG, Suarjana IGK, Besung INK. 2018. Isolasi klebsiella sp. berdasarkan tingkat kedewasaan dan lokasi pemeliharaan serta pola kepekaan terhadap antibakteri. Buletin Veteriner Udayana 10(1): 26-32.





Berita Purworejo

Counter Pengunjung