- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
- JARINGAN IRIGASI TERSIER (PITER) TA. 2026
Mengenal Padi Gogo: Bukan Sekadar Padi Lahan Kering, tapi Solusi Masa Depan

Mengenal Padi Gogo: Bukan Sekadar Padi Lahan Kering, tapi Solusi Masa Depan
Diskusi edukatif dengan Ketua Poktan Margodadi desa Plipiran
_____________
Plipiran, Bruno, 17 April 2025__Istilah padi gogo masih sering disalahartikan oleh masyarakat. Banyak yang menganggapnya sebagai padi yang hanya bisa ditanam di lahan kering. Padahal secara ilmiah dan teknis, padi gogo adalah varietas padi yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap kondisi lahan kering atau terbatas air, tetapi bukan berarti hanya cocok di lahan kering semata.
Salah satu contoh nyata dari potensi padi gogo adalah Inpago Unsoed 1, varietas hasil pengembangan Universitas Jenderal Soedirman yang dirancang untuk tahan terhadap cekaman kekeringan. Dalam uji lapangan, varietas ini menunjukkan hasil yang luar biasa: provitas mencapai 9,5 ton per hektar. Sebagai perbandingan, varietas padi sawah unggulan seperti Ciherang hanya mampu menghasilkan sekitar 4,5 ton per hektar dalam kondisi optimal dilahan sawah tadah hujan yang sama di desa Pekacangan, Kecamatan Pituruh beberapa tahun yang silam.
Perbandingan ini membuka mata kita bahwa padi gogo bukanlah opsi kedua, melainkan alternatif unggulan ditengah perubahan iklim, keterbatasan lahan produktif, dan tantangan krisis air. Dengan karakter akar yang lebih dalam dan kebutuhan air yang lebih rendah, padi gogo sangat cocok dikembangkan di lahan tadah hujan, perbukitan, dan lahan-lahan marginal yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Lebih dari itu, padi gogo juga mendukung praktik pertanian konservasi dan ketahanan pangan berkelanjutan, terutama di wilayah dengan curah hujan tidak menentu dan ketiadaan jaringan irigasi seperti di desa Plipiran. Dengan dukungan teknologi benih unggul dan bimbingan budidaya yang tepat, petani bisa memperoleh hasil panen yang tinggi sekaligus menjaga kesuburan lahan.
Kini saatnya mengubah cara pandang:
Padi gogo bukan sekadar padi lahan kering—tetapi padi yang mampu menghadirkan masa depan pertanian yang lebih tangguh dan produktif.
Ketua Poktan Margodadi Pak Sarino menyambut baik informasi ini dan menyatakan kesiapannya untuk mencoba menanam padi gogo di lahan kelompok sebagai langkah awal. Ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan komunikasi yang tepat, edukasi langsung, dan pemberian contoh nyata, transformasi pola pikir petani sangat mungkin dilakukan.
Langkah kecil dari Desa Plipiran ini adalah representasi dari upaya besar menuju pertanian yang lebih adaptif, efisien, dan berkelanjutan. Literasi agronomi yang ditingkatkan secara bertahap menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan pangan lokal yang kuat dan mandiri.






