Mastitis Pada Kambing Kaligesing

By DINPPKP 02 Sep 2022, 13:09:47 WIB Peternakan dan Keswan
Mastitis Pada Kambing Kaligesing

Mastitis Pada Kambing Kaligesing

 

Mastitis merupakan peradangan pada ambing (kelenjar susu) mamalia yang disebabkan oleh berbagai agen infeksius seperti bakteri, virus, jamur maupun trauma fisik. Penyakit ini secara ekonomi sangat merugikan karena dapat menyebabkan kematian pada induk kambing dimana ini merupakan aset bagi peternak. Kejadian penyakit ini biasanya terjadi sesaat menjelang melahirkan, pasca melahirkan dan pasca penyapihan cempe. Faktor lain yang menjadi predisposisi mastitis adalah produksi susu yang tinggi.

Pada hari Selasa, 30 Agustus 2022 masuk laporan adanya induk kambing yang sakit milik Bapak Triyono yang beralamat di Kaliurip, Bener dengan keterangan kambing tidak mau makan, ambingnya bengkak dan nafsu makannya menurun.

Dokter hewan UPT PUSKESWAN yang memeriksa di kendang Bapak Triyono menemukan kondisi kambing habis menyapih anaknya, ambing bengkak, air susu berubah warna, bau dan konsistensinya.

Kondisi air susu sudah tidak homogen dan berwarna putih namun berwarna kekuningan, berbau busuk dan terdapat material endapan/jendalan.

Berdasarkan kondisi yang ada, kejadian mastitis ini dipicu oleh aktivitas penyapihan cempe sementara produksi susu induknya masih tinggi. Hal tersebut menyebabkan terjadinya akumulasi air susu dalam ambing yang semakin lama semakin banyak dan diikuti tumbuhnya agen penyakit dalam ambing tersebut. Penanganannya adalah dengan memerah(mengeluarkan) air susunya sampai habis dan diberikan obat intra mammary (kedalam putting). Selain itu juga pemberian antibiotic injeksi selama 3 hari, anti radang dan multivitamin. Pemilik dipesankan untuk memerah susunya setiap pagi dan sore.

Sebagai pembelajaran dikala penyapihan perlu diperhatikan status produksi susu indukan. Jika produksi susunya tinggi, pemilik harus mau untuk memerah susu tersebut sehingga tidak terakumulasi didalam ambing. Teknik pemerahannya dengan pola selang seling satu hari diperah satu hari tidak dan saat memerah tidak sampai apuh (habis air susunya) dengan tujuan agar induk tidak terangsang untuk mempertahankan produksi susunya.





Berita Purworejo

Counter Pengunjung