- Banter Melaju Disosialisasikan di Kemejing, Warga Antusias Sambut Peluang Ternak Kambing Jawa Randu
- Tindaklanjut Pengaduan Warga Mengenai Peternakan Ayam
- Gapoktan Desa Pakisarum Gelar Sosialisasi eRDKK 2027, Pastikan Petani Akses Pupuk Subsidi
- Ubinan Padi Varietas Inpari 32 di Desa Gowong Tunjukkan Produktivitas Menjanjikan
- Jalan Usaha Tani (JUT) DKPP Tahun Anggaran 2026
- DKPP Lakukan Pengujian Sampel PSAT Pasca Idul Fitri 1447 H
- Refilling Nitrogen Cair untuk Mendukung Kegiatan Inseminasi Buatan Ternak
- Seleksi Hibah Ternak 2027 Dimulai, DKPP Purworejo Verifikasi Proposal dari 14 Kecamatan
- PEMKAB PURWOREJO DAN PERUM BULOG SIAP SALURKAN BANTUAN PANGAN BERAS DAN MINYAK GORENG ALOKASI FEBRUARI-MARET 2026
- Pemantauan Harga Bahan Pokok Penting Pasca HBKN Idul Fitri 1447H
Mastitis, Infeksi Ambing Pada Kambing Kaligesing

Mastitis,
Infeksi Ambing Pada Kambing Kaligesing
Kambing Kaligesing merupakan sumber daya
genetik hewan asli Kaligesing yang merupakan hasil persilangan kambing lokal
dengan Kambing Jamnapari/Etawa yang berasal dari India yang didatangkan oleh
Belanda pada tahun akhir 1920-an dan awal 1930-an. Dengan ketekunan dan kesabaran masyarakat Kaligesing, lahirlah kambing
persilangan yang awalnya dinamakan Kambing Peranakan Etawa (PE) dan semenjak
tahun 2010 oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Kambing PE ini
ditetapkan sebagai galur tersendiri dengan nama Kambing Kaligesing. Berdasarkan
performanya, Kambing Kaligesing merupakan kambing dual purpose atau dwi
guna, penghasil daging dan susu yang baik, bahkan kini sudah berkembang menjadi
triple purpose dengan menjadikan Kambing Kaligesing sebagai pet
animal, sebagai kambing kontes dengan harga yang fantastis.
Pada hari Kamis,
27 Pebruari 2025, masuk laporan dari Bapak Samsul, Trirejo, Loano, kambing
indukan yang sudah beberapa bulan telah menyapih anaknya, nafsu makannya turun
dan kesulitan berdiri. Untuk menindaklanjuti laporan tersebut, Kepala UPT
Puskeswan menugaskan medik veteriner untuk menangani kasus tersebut.
Dari hasil
pemeriksaan oleh medik veteriner ditemukan kondisi indukan dalam posisi nderum,pakan
utuh baik hijauan maupun pakan tambahan. Dari hasil pemeriksaan air susunya,
ditemukan kelainan yaitu air susu pecah, ada jendalan kental dan cairannya
encer. Temperatur sedikit naik, ambing teraba panas dan agak besar pada puting
sebelah kiri sedangkan yang puting sebelah kanan kondisinya normal baik air
susunya maupun bentuknya. Dari anamnesa pemilik, kambing tersebut telah menyapih
anaknya dua bulan yang lalu dan memiliki riwayat mastitis pada periode laktasi
sebelumnya... Berdasarkan anamnesa pemilik dan hasil pemeriksaan, indukan Kambing
Kaligesing tersebut didiagnosa mengalami infeksi radang ambing atau mastitis.
Kambing Kaligesing
yang mengalami Mastitis
Mastitis
merupakan salah satu penyakit pada kambing yang umumnya merupakan infeksi non
tunggal. Kambing dual purpose dengan produksi susu yang tinggi memiliki
kerentanan terhadap penyakit ini. Kejadian penyakit biasanya pada waktu
menjelang dan beberapa hari pasca partus serta pada periode pasca penyapihan
terutama pada indukan yang produksi susunya tinggi.
Penyebab
Agen
penyebab mastitis bisa berupa agen infekius maupun non infeksius. Agen
infeksius biasanya non tunggal, melibatkan berbagai agen patogen seperti
bakteri, virus, fungi dan mycoplasma. Bakteri yang umum adalah Streptococcus aureus, Staphylococcus agalactiae, Staphylococcus
dysagalactiae, S uberis, S Capri, Pseudomonas
aeruginosa, E Coli, and Clostridium spp. Virus
yang sering ditemukan pada penyakit ini adalah Caprine
arthritis-encephalitis virus (CAEV) serta golongan mycoplasma (Mycoplasma
capricolum, M mycoides, and M putrefaciens)
menjadi penyebab pada kambing.
Sejumlah kecil spesies yeast, penggunaan obat anti
radang yang berlebihan dan luka pada ambing dan putting juga dapat menyebabkan mastitis.
Ada
beberapa hal yang dapat menjadi faktor timbulnya mastitis, antara lain :
buruknya sanitasi dan hygiene kandang dan lingkungannya, kepadatan
populasi yang tinggi, kelembaban tinggi dan cuaca ekstrim, perubahan pakan
secara mendadak dan abnormalitas anatomi ambing dan puting susu.
Tanda-Tanda
Klinis
Manifestasi
klinis kasus mastitis pada kambing dapat bersifat klinis maupun
subklinis, tergantung tingkat keparahan penyakit.
Pada kasus
ini tanda-tanda yang teramati kambing mengalami sedikit demam, penurunan nafsu
makan, lesu, lemah dan kesulitan berdiri. Air susunya pecah terdapat material
padat yang menjendal, terpisah dengan cairannya yang lebih encer.
Diagnosa Mastitis
Kasus mastitis pada
kambing dapat didiagnosa dengan cara berikut:
·
Riwayat kejadian mastitis sebelumnya baik pada tingkat individu
maupun farm.
·
Tanda-tanda klinis yang spesifik.
·
Determinasi sel somatik di dalam air susu yang angkanya 100.000/ml.
·
California Mastitis Test (CMT).
·
ELISA untuk
bakteri yang spesifik.
Pengobatan
Kambing yang sakit sebaiknya
dipisahkan dari yang lainnya. Obat yang digunakan adalah kombinasi dari
beberapa komponen obat yaitu antibiotik yang kompatibel dengan agen
penyebabnya, NSAID (nonsteroid anti inflamatory drug) dan antiseptik intramammary
dan diberikan untuk waktu lima hari atau sampai sembuh..
Pemerahan dilakukan pagi dan
sore sampai apuh, susunya diafkir tidak boleh dikonsumsi manusia maupun anak
kambing. Pengobatan diikuti dengan pemeriksaan air susu dengan menggunakan CMT
atau bisa juga dengan mastitis detector untuk memastikan bahwa kambing
yang diobati benar-benar telah sembuh.
Pencegahan
dan Kontrol Mastitis
Ada pepatah yang familier
bahwa pencegahan lebih baik daripada mengobati. Tindakan-tindakan yang bisa
diambil untuk mencegah dan mengontrol kejadian penyakit mastitis antara
lain :
·
Menjaga sanitasi
kaandang dan lingkungannya
·
Membersihkan
lantai kandang secara reguler
·
Mengurangi
tingkat stress di dalam kandang
·
Mengurangi
tingkat kepadatan di dalam kandang
·
Lakukan
perlakuan antiseptik pada lubang puting setelah pemerahan
·
Asupan
pakan tidak boleh diubah secara mendadak.
#de-Qosim






