- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
MANTAP!!! PETANI PURWOREJO GUNAKAN DRONE UNTUK KENDALIKAN KEONG MAS

MANTAP!!! PETANI PURWOREJO GUNAKAN DRONE UNTUK KENDALIKAN KEONG MAS
Hama merupakan salah satu kendala yang dihadapi oleh petani padi dalam kegiatan budidaya, salah satunya keong mas. Ia merusak tanaman padi dengan cara memarut jaringan tanaman dan memakannya serta menyebabkan adanya bibit yang hilang di pertanaman. Pada umumnya keong mas memakan tanaman muda yang baru ditanam. Bekas potongan daun dan batang yang diserang terlihat mengambang. Keberadaannya di lapang ditandai oleh adanya telur berwarna merah muda dan keong mas dengan berbagai ukuran dan warna. Serangan keong mas yang parah dapat mengakibatkan tanaman padi yang baru di tanam habis total. Pengendalian keong mas harus mengetahui tentang perilaku dan siklus hidupnya, sehingga pengendalian dapat berhasil dengan baik. Waktu kritis untuk pengendalian keong mas adalah pada saat 10 HST atau 21 HSS benih (semai basah).
Keburuhan merupakan salah satu desa di selatan Kecamatan Ngombol yang memiliki luas baku sawah 32 ha dan ditanami padi sebanyak 3 kali musim tanam. Memasuki musim tanam ke II, pada akhir Maret dilaksanakan gerakan pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) pada tanaman padi yaitu keong mas dengan meggunakan drone. Pengendalian keong mas menggunakan bahan kimia berbahan aktif niklosamide 250 g/l. Menurut Kepala Desa Keburuhan Trubus, pengendalian keong mas perlu dilakukan secara bersama-sama sehingga populasi keong mas di lahan sawah berkurang.
Bekerjasama dengan PT. Aria Agriculture Indonesia selaku penyedia jasa drone, penyemprotan pestisida dengan teknologi drone dilakukan di areal sawah Desa Keburuhan dengan luasan 19 Ha. Hadir dalam kegiatan ini antara lain PPL Wibi, perangkat Desa Keburuhan, tim dari PT. Aria Agriculture Indonesia dan petani Desa Keburuhan sejumlah 20 orang. Pelaksanaan penyemprotan dengan menggunakan drone berjalan dengan lancar, para peserta juga sangat antusias. Meskipun ini merupakan hal yang baru di tingkat petani, tetapi cukup mendapatkan respon yang sangat baik dari petani yang hadir.
Yeni selaku PPL Wibi Desa Keburuhan menyampaikan teknologi drone ini sangat efektif untuk penyemprotan atau pengendalian OPT pada tanaman yang diusahakan oleh petani. “Penyemprotan menggunakan drone ini dirasa lebih efektif dan kami tidak akan merasa kesulitan untuk mengemudikan karena sudah lengkap dengan pilotnya juga," ujarnya.
Menurutnya, drone yang digunakan mempunyai kapasitas 15 liter yang bisa dimanfaatkan untuk luasan 0,5 Ha. Keuntungan lain yang didapat dari penyemprotan dengan menggunakan drone adalah waktu yang diperlukan sangat singkat dan hasil penyemprotan yang merata. Untuk 1 kali dosis (1 kali terbang untuk 0,5 Ha) hanya diperlukan waktu kurang lebih 15 menit saja, hal ini tentunya sangat efisien apabila dibandingkan dengan penyemprotan secara manual. Dari segi pendanaan, Pemerintah Desa Keburuhan menggunakan dana desa dalam rangka untuk mendukung ketahanan pangan. PT. Aria Agriculture Indonesia menerapkan tarif sewa drone untuk 1 Ha lahan, biaya yang perlu dibayarkan sebesar Rp 250.000. Sedangkan untuk pestisida yang digunakan adalah hasil swadaya dari petani.
Senada, Trubus Kepala Desa Keburuhan menambahkan pemanfaatan teknologi baru di bidang pertanian ini merupakan salah satu solusi dalam menangani berkurangnya tenaga kerja di bidang pertaian. Selain itu juga sebagai cara untuk menarik minat generasi muda agar mau ikut serta membangun pertanian di daerahnya masing-masing. Perlahan dengan adanya penerapan teknologi di bidang pertanian, akan merubah stigma negatif di kalangan generasi muda bahwa usaha pertanian itu identik dengan lumpur dan kotor. Sehingga ke depan diharapkan semakin banyak generasi muda yang tertarik dan mau bergerak di bidang usaha pertanian, baik di bidang on farm maupun off farm nya. Tentunya menjadi harapan kita semua, pertanian kita akan lebih maju di masa yang akan datang, dengan generasi mudanya yang menjadi pelaku utamanya.
Yeni Rahmawati, A.Md,P
Penyuluh Pertanian BPP Ngombol






