Manajemen Kasus Osteodystrophia Fibrosa Pada Kambing

By DINPPKP 20 Feb 2025, 15:38:51 WIB Peternakan dan Keswan
Manajemen Kasus Osteodystrophia Fibrosa Pada Kambing

Manajemen Kasus Osteodystrophia Fibrosa Pada Kambing

 

 

Osteodystrophia Fibrosa (ODF) merupakan penyakit metabolik pada sistim rangka (tulang) tubuh di mana tulang gagal berkembang secara normal atau mengalami metabolisme abnormal meskipun tulang tersebut sudah matang(Nimi PS, Bini J, 2022). Kerusakan tulang yang berlebihan, tidak terpenuhinya mineralisasi tulang dan pembentukan tulang yang tidak normal, mengakibatkan terjadinya penumpukan jaringan ikat fibrosa di dalam tulang yang terkena. Mandibula (tulang rahang bawah) merupakan tulang yang paling rentan terhadap kasus ODF.

 

 

Pada hari Selasa, 18 Pebruari 2025, masuk laporan dari Bapak Iwan, Tawangsari, Kaligesing, anakan kambing lepas sapih,  yang menunjukkan kelainan pada profil mukanya dan mengalami perubahan cara makan. Untuk menindaklanjuti laporan tersebut, Kepala UPT Puskeswan menugaskan medik veteriner untuk menangani kasus tersebut.

 

Dari hasil pemeriksaan oleh medik veteriner ditemukan kondisi tubuhnya normal, bulu agak kusam, suara agak berubah dan nampak area muka dibawah kedua mata nampak membengkak. Informasi dari pemilik, kambing tersebut baru dibeli dari pasar pada tanggal 15 Pebruari 2025, setelah dimasukkan kandang nampak adanya kelainan pada area muka kambing, nampak adanya pembesaran area bawah matanya. Berdasarkan anamnesa pemilik dan hasil pemeriksaan, indukan kambing tersebut didiagnosa mengalami gangguan metabolisme yaitu Osteodystrophia fibrosa (ODF)

 

 

Kambing yang mengalami ODF

 

Dari literatur, kejadian Osteodystrophia fibrosa (ODF) lebih tinggi kasusnya pada kambing-kambing yang dipelihara secara intensif di dalam kandang dibandingkan sistim umbaran/digembalakan (Pavarini et.al, 2011).

 

 

Penyebab

 

ODF muncul sebagai akibat asupan pakan dengan kandungan kalsium yang rendah dan tingginya kandungan fosfor dalam jangka panjang. Pola makan ini menyebabkan hipokalsemia dan hiperfosfatemia, yang menyebabkan peningkatan kadar Paratyroid hormon (PTH) secara berkelanjutan. Pakan konsentrat berbasis wheat brand (dedak gandum) memicu perubahan rasio Ca:P yang disarankan yaitu 2:1 (Radostits et.al, 2007) menjadi 1:12,6 (Heuze et.al, 2015). Kelenjar Tyroid memegang kendali level kalsium dalam tubuh dengan memproduksi PTH . Pada saat level kalsium dalam darah rendah, PTH menstimulasi pembongkaran cadangan kalsium yang tersimpan di dalam tulang.

 

Tanda-Tanda Klinis

 

Anakan kambing yang mengalami ODF pada awal kasus biasanya belum menimbulkan perubahan perilaku maupun kondisi badannya. Bagi peternak yang berpengalaman mampu menangkap perubahan kecil pada profil mukanya terutama area di bawah mata yaitu nampak adanya sedikit pembengkakan. Seiring berjalannya waktu, tulang yang mengalami fibrosis membesar menyebabkan rongga mulut menyempit, lidah terjulur, keluarnya saliva yang berlebihan, kesulitan bernafas, makan dan memamahbiak. Dampak ikutannya tubuh kambing menjadi kurus dan lemah.

 

 



Hasil Rontgen ODF, nampak jaringan fibrous dalam tulang rahang


Manajemen Kasus

Kejadian ODF pada kambing milik Bp. Iwan tidak diketahui secara persis penyebab awalnya karena kambing tersebut baru dibeli dari pasar. Dari literatur penyebabnya diketahui karena rendahnya asupan kalsium dan tingginya asupan phospor dalam pakan yang diberikan.

Untuk medikasinya dengan memberikan injeksi dan suplemen dalam pakan untuk yang diberikan selama lima hari. Calsium gluconas, Posphate binder, multivitamin dan anabolic steroids.Medikasi ini diikuti dengan diet pakan berupa hijauan segar minimal dari tiga jenis hijauan, lebih banyak lebih baik. Konsentrat harus dipastikan kandungan kalsium dan posphornya memiliki rasio 2:1.

Dengan pola tersebut di atas, biasanya dalam wktu lima hari sudah nampak adanya perbaikan dan akan sembuh dalam waktu empat belas hari.#de-Qosim





Berita Purworejo

Counter Pengunjung