- RUMAH PANGAN KITA DKPP PURWOREJO SENANTIASA HADIR MENEMANI SETIAP JUM’AT PAGI
- PEMANTAUAN DISTRIBUTOR BAPOKTING OLEH PENGAWAS HARGA PANGAN DI KABUPATEN PURWOREJO
- Refilling Nitrogen Cair Guna Sukseskan Inseminasi Buatan Ternak
- Menyulam Ilmu di Hamparan Tembakau
- Gerakan Pengendalian Tikus Serempak di Lima Kecamatan Kabupaten Purworejo
- BPP Purworejo Gelar Gerdal Tikus Susulan di Cangkreplor, Amankan Produksi Padi MT II
- Jamin Daging Kurban Aman, Tim DKPP Purworejo Sisir Belasan Kecamatan
- Prosesi Penyembelihan Sapi Kurban Bantuan Presiden Republik Indonesia ????✨
- PENYERAHAN BANTUAN PANGAN SECARA SIMBOLIS OLEH WAKIL BUPATI PURWOREJO DI DESA TEGALSARI
- DKPP Gelar Rakor Pengawasan Hewan Kurban 2026, Tekankan Kelayakan dan Higienitas untuk Hasilkan Daging ASUH
Manajemen Kasus Osteodystrophia Fibrosa Pada Kambing

Manajemen
Kasus Osteodystrophia Fibrosa Pada Kambing
Osteodystrophia
Fibrosa (ODF) merupakan penyakit metabolik pada
sistim rangka (tulang) tubuh di mana tulang gagal berkembang secara normal atau
mengalami metabolisme abnormal meskipun tulang tersebut sudah matang(Nimi PS,
Bini J, 2022). Kerusakan tulang yang berlebihan, tidak terpenuhinya
mineralisasi tulang dan pembentukan tulang yang tidak normal, mengakibatkan
terjadinya penumpukan jaringan ikat fibrosa di dalam tulang yang
terkena. Mandibula (tulang rahang bawah) merupakan tulang yang paling
rentan terhadap kasus ODF.
Pada hari Selasa,
18 Pebruari 2025, masuk laporan dari Bapak Iwan, Tawangsari, Kaligesing, anakan
kambing lepas sapih, yang menunjukkan
kelainan pada profil mukanya dan mengalami perubahan cara makan. Untuk
menindaklanjuti laporan tersebut, Kepala UPT Puskeswan menugaskan medik
veteriner untuk menangani kasus tersebut.
Dari hasil
pemeriksaan oleh medik veteriner ditemukan kondisi tubuhnya normal, bulu agak
kusam, suara agak berubah dan nampak area muka dibawah kedua mata nampak
membengkak. Informasi dari pemilik, kambing tersebut baru dibeli dari pasar
pada tanggal 15 Pebruari 2025, setelah dimasukkan kandang nampak adanya
kelainan pada area muka kambing, nampak adanya pembesaran area bawah matanya. Berdasarkan
anamnesa pemilik dan hasil pemeriksaan, indukan kambing tersebut
didiagnosa mengalami gangguan metabolisme yaitu Osteodystrophia fibrosa (ODF)
Kambing
yang mengalami ODF
Dari
literatur, kejadian Osteodystrophia fibrosa (ODF) lebih tinggi kasusnya
pada kambing-kambing yang dipelihara secara intensif di dalam kandang
dibandingkan sistim umbaran/digembalakan (Pavarini et.al, 2011).
Penyebab
ODF muncul sebagai akibat asupan pakan
dengan kandungan kalsium yang rendah dan tingginya kandungan fosfor dalam
jangka panjang. Pola makan ini menyebabkan hipokalsemia dan hiperfosfatemia,
yang menyebabkan peningkatan kadar Paratyroid hormon (PTH) secara
berkelanjutan. Pakan konsentrat berbasis wheat brand (dedak gandum)
memicu perubahan rasio Ca:P yang disarankan yaitu 2:1 (Radostits et.al,
2007) menjadi 1:12,6 (Heuze et.al, 2015). Kelenjar Tyroid
memegang kendali level kalsium dalam tubuh dengan memproduksi PTH . Pada saat
level kalsium dalam darah rendah, PTH menstimulasi pembongkaran cadangan
kalsium yang tersimpan di dalam tulang.
Tanda-Tanda
Klinis
Anakan kambing
yang mengalami ODF pada awal kasus biasanya belum menimbulkan perubahan
perilaku maupun kondisi badannya. Bagi peternak yang berpengalaman mampu
menangkap perubahan kecil pada profil mukanya terutama area di bawah mata yaitu
nampak adanya sedikit pembengkakan. Seiring berjalannya waktu, tulang yang
mengalami fibrosis membesar menyebabkan rongga mulut menyempit, lidah
terjulur, keluarnya saliva yang berlebihan, kesulitan bernafas, makan
dan memamahbiak. Dampak ikutannya tubuh kambing menjadi kurus dan lemah.
![]()
![]()
![]()
Hasil Rontgen ODF, nampak jaringan fibrous dalam tulang rahang
Manajemen
Kasus
Kejadian ODF pada
kambing milik Bp. Iwan tidak diketahui secara persis penyebab awalnya karena
kambing tersebut baru dibeli dari pasar. Dari literatur penyebabnya diketahui
karena rendahnya asupan kalsium dan tingginya asupan phospor dalam pakan yang
diberikan.
Untuk
medikasinya dengan memberikan injeksi dan suplemen dalam pakan untuk yang
diberikan selama lima hari. Calsium gluconas, Posphate binder,
multivitamin dan anabolic steroids.Medikasi ini diikuti dengan diet
pakan berupa hijauan segar minimal dari tiga jenis hijauan, lebih banyak lebih
baik. Konsentrat harus dipastikan kandungan kalsium dan posphornya memiliki
rasio 2:1.
Dengan pola
tersebut di atas, biasanya dalam wktu lima hari sudah nampak adanya perbaikan
dan akan sembuh dalam waktu empat belas hari.#de-Qosim






