- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
*\"Lebih Banyak Mendengar, Lebih Sedikit Bicara: Perjalanan Menyemai Harapan\"*

*"Lebih Banyak Mendengar, Lebih Sedikit Bicara: Perjalanan Menyemai Harapan"*
_(Storytelling)_
______________
# Sutoyo : Penyuluh Pertanian, Pegiat Literasi dan Pemerhati Pemberdayaan Petani
# CybersquadX BPP Bruno
______________
*Gowong, Bruno (Jumat, 21 Maret 2025).* Matahari mulai merayap diantara hamparan sawah yang menguning menjelang panen. Udara pagi yang sejuk perlahan berganti menjadi hangat. Di kejauhan tampak beberapa petani terlihat sibuk memanen hasil kerja keras mereka. Aku merogoh saku mengeluarkan ponsel lalu mencoba menghubungi Ketua Kelompok Tani (Poktan) untuk menanyakan jadwal panen.
*"Ngobrol di rumah saja, Pak. Saya di rumah kok—ngopi atau ngeteh, pokoknya lengkap! Pas banget, teman-teman juga saya minta merapat,"* jawabnya ramah, nyaris tanpa jeda.
Benar saja tak lama setelah aku tiba, beberapa anggota Poktan mulai berdatangan. Mereka masih muda penuh energi dan harapan. Kunjungan kali ini memang berbeda—aku sengaja datang untuk lebih banyak mendengarkan. Mendengarkan cerita mereka tentang tanah yang digarap, mimpi yang dikejar, hingga tantangan yang terus membayangi perjalanan mereka didunia pertanian.
> *“Kita butuh lebih banyak mendengar, karena solusi yang baik selalu lahir dari memahami apa yang benar-benar dirasakan di lapangan.”*
Selama ini suara mereka kerap tenggelam—dianggap terlalu muda untuk didengarkan atau terlalu naif untuk menghadapi realitas dunia pertanian. Namun hari ini berbeda. Mereka mulai berbicara dan aku siap mendengarkan.
Seorang pemuda bernama Rizal 27 tahun mengangkat tangan. Dengan nada serius ia berbagi kegelisahannya.
*"Kami bisa menanam Pak. Tapi menjualnya? Itu soal lain. Kadang harga jatuh, kadang kami kalah bersaing dengan produk luar,"* keluhnya.
Beberapa pemuda lain pun mengangguk setuju. Mereka tak ingin hanya menjadi petani biasa. Mereka bermimpi menjadi petani yang berdaya—menguasai teknologi, memahami pasar, dan membawa hasil bumi mereka melampaui batas-batas desa.
Aku mendengarkan setiap kata mereka tanpa menyela. Bagi kami di BPP Bruno,
mendengarkan bukanlah sekadar formalitas. Ini adalah langkah awal membangun kepercayaan. Dan dari kepercayaan itulah, perubahan bisa dimulai.
> *“Kalian tidak sendiri. Kami di BPP Bruno siap mendampingi. Kita bisa mulai dari kelas tani muda—belajar teknik pertanian modern hingga pemasaran digital. Kalau kalian siap bermimpi besar, kami siap berjalan bersama kalian.”*
Kata-kataku ternyata disambut penuh semangat. Dimata mereka aku melihat percikan harapan yang mulai menyala. Mereka mulai membayangkan masa depan dimana pertanian bukan lagi sekadar pekerjaan warisan yang dipandang kuno, melainkan arena inovasi yang menjanjikan. Kini bayangan mereka tentang bertani mulai berubah—bukan hanya soal cangkul di tangan tapi juga teknologi di genggaman.
Saat matahari mulai condong ke barat pertemuan pun usai. Namun bagi Rizal dan teman-temannya, ini bukanlah akhir. Ini adalah awal dari perjalanan baru—perjalanan menyemai harapan dan membangun masa depan yang lebih baik.
Aku pulang dengan keyakinan yang semakin menguat:
> *Mendengarkan bukan sekadar cara memahami—mendengarkan adalah langkah pertama untuk mengubah masa depan.*
______________






