- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
- JARINGAN IRIGASI TERSIER (PITER) TA. 2026
KUTU DAUN DAN KUTU DAUN, HAMA PENTING PERTANAMAN TEMBAKAU
.jpg)
KUTU DAUN
DAN KUTU DAUN, HAMA PENTING PERTANAMAN TEMBAKAU
Selama
berbulan-bulan wilayah kecamatan Purwodadi jarang bahkan tidak mendapat curah
hujan. Dibeberapa tempat yang lahannya berada di pinggiran Sungai Bogowonto petani
yang tadinya bertanam padi beralih ke tanaman tembakau.Tanaman tembakau di Desa
Karangmulyo Kecamatan Purwodadi sudah mulai di budidayakan di awal Juni 2024
disusul Desa Ketangi Kecamatan Purwodadi mulai awal Juli 2024. Salah satu yang
menjadi kendala dalam budidaya tembakau adalah serangan organisme pengganggu
tanaman. Serangan hama yang mengakibatkan kehilangan hasil maupun penurunan
mutu salah satunya adalah serangan kutudaun dan kutukebul. Kutudaun yang
menyerang adalah Myzus persicae subsp. Nicotianae dan Acyrthosiphon pisum sedangkan kutukebul yang menyerang
tanaman tembakau di ke dua desa ini adalah Bemisia
tabaci.
Secara
langsung gejala serangan kutudaun dan kutukebul menyebabkan daun yang terserang
berkeriput, kekuningan, terpuntir, pertumbuhan tanaman terhambat, layu lalu mati.
Secara tidak langsung hama ini adalah sebagai vektor beberapa jenis penyakit
virus. Sistem metabolisme tanaman dapat terganggu karena infeksi yang
disebabkan oleh virus melalui pemanfaatan hasil fotosintesis untuk replikasi
dan sintesis partikel virus. Sehingga hal tersebut mengakibatkan penurunan
nutrisi untuk pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman. Kehilangan hasil yang diakibatkan oleh B.
tabaci diperkirakan mencapai 37,5%. Bila terjadi serangan penyakit virus
daun keriting kuning / virus krupuk pada tembakau (TLCV) kehilangan hasil dapat
mencapai 20 - 100%.
Dampak serangan kutudaun dan kutukebul pada kualitas daun tembakau
1.
menyebabkan daun menjadi lemah dan berwarna
pucat.
2.
mengurangi kualitas daun tembakau, membuatnya
kurang sesuai untuk digunakan sebagai bahan dasar rokok dan cerutu.
3.
menyebar penyakit lainnya ke tanaman tembakau
melalui cairan yang diisapnya, yang dapat memperburuk kualitas daun tembakau. Tobacco
Leaf Curl Virus (TLCV), Tobacco
Mosaic Virus (TMV) dan
Tobacco Etch Virus (TEV)
merupakan beberapa jenis virus yang ditularkan melalui serangga vektor B.
tabaci dan tidak dapat ditularkan secara mekanis melalui biji dan
penggosokan sap daun sakit.
Cara Penyebaran kutudaun dan kutukebul
1. Angin dan
badai membawa hama ini hingga jarak yang sangat jauh, sehingga berkontribusi
terhadap penyebarannya secara global.
2. Aktivitas
manusia juga memberi kontribusi bagi penyebaran kutudaun. Penyebaran berbagai
genotipe kutu di berbagai wilayah geografis sebagian besar disebabkan oleh pengaruh
antropogenik, seperti pergerakan tanaman yang terserang dan masuknya galur baru
melalui aktivitas manusia.
3. Di
pembibitan tanaman muda yang terserang hama ini dapat terbawa ke lokasi lain,
sehingga tersebar luas di luar lokasi pembibitan.
4. Di area dengan
iklim yang sesuai, M. persicae subsp. nicotianae bereproduksi secara
biologis. Di daerah subtropis, kutudaun betina bertelur, sementara di daerah
tropis, mereka bereproduksi secara partenogenetik, di mana kutudaun betina
vivipar melahirkan anak yang tumbuh di dalam tubuh mereka.
Faktor yang mempengaruhi perkembangbiakan kutudaun dan kutukebul
1. Kelembaban
dan Suhu:
Myzus persicae dapat berkembang biak pada
kelembaban yang kondusif antara 60%-80% dan suhu yang optimal antara 20-30°C.
2. Makanan:
Mereka membutuhkan sumber makanan yang kaya
akan cairan sel daun, seperti tanaman tembakau (Nicotiana tabacum).
3. Predator
dan Parasit:
Perkembangbiakan mereka dapat dipengaruhi oleh
predator alami dan parasit yang spesifik.
4. Penggunaan
Pestisida:
Penggunaan pestisida dapat mempengaruhi
populasi mereka, tetapi tidak ada musim tertentu yang spesifik untuk
pengendalian.
Strategi Pengendalian
1. Penggunaan
Pestisida:
Menggunakan pestisida yang spesifik untuk kutudaun
tembakau dapat efektif dalam mengendalikan populasi mereka. Meskipun penggunaan
pestisida kimia dapat efektif, namun perlu diingat bahwa penggunaan bahan kimia
dapat berdampak negatif pada lingkungan dan keanekaragaman hayati. Penggunaan
pestisida harus dilakukan dengan hati-hati dan hanya jika diperlukan.
2. Penggunaan
Predator dan Parasitoid Alami:
Menggunakan predator alami seperti ladybug (Coccinella spp.) yang dapat memakan kutudaun
tembakau. Parasitoid yang menyerang kutudaun atau kutukebul adalah Aphidius
sp. dan Aphelinus sp.
3. Penggunaan
Cendawan Entomopatogen (CEP):
Menggunakan Beauveria bassiana, Metarhizium anisopliae dan Trichoderma asperellum. CEP B.
bassiana dilaporkan dapat menyebabkan mortalitas terhadap nimfa kutukebul B.
tabaci hingga 70% (Flawerina et al. 2021), Trichoderma asperellum umumnya sebagai saprofit fakultatif memiliki
potensi sebagai CEP karena bersifat antifeedant mengendalikan nimfa kutukebul (Bemisia tabaci) hingga 73% pada tanaman
kapas.
4. Pengelolaan
Lahan:
Membuat lahan yang seimbang dan kaya akan
bahan organik dapat meningkatkan kekayaan spesies predator yang dapat
mengendalikan kutudaun tembakau.
Penulis:
Ruth Naftaly Liberty Simanjutak, SP, MSc
POPT Ahli Muda Wilayah Kerja Kecamatan Purwodadi






