KUTU DAUN DAN KUTU DAUN, HAMA PENTING PERTANAMAN TEMBAKAU

By DINPPKP 06 Sep 2024, 15:04:03 WIB Penyuluhan
KUTU DAUN DAN KUTU DAUN, HAMA PENTING PERTANAMAN TEMBAKAU

KUTU DAUN DAN KUTU DAUN, HAMA PENTING PERTANAMAN TEMBAKAU

Selama berbulan-bulan wilayah kecamatan Purwodadi jarang bahkan tidak mendapat curah hujan. Dibeberapa tempat yang lahannya berada di pinggiran Sungai Bogowonto petani yang tadinya bertanam padi beralih ke tanaman tembakau.Tanaman tembakau di Desa Karangmulyo Kecamatan Purwodadi sudah mulai di budidayakan di awal Juni 2024 disusul Desa Ketangi Kecamatan Purwodadi mulai awal Juli 2024. Salah satu yang menjadi kendala dalam budidaya tembakau adalah serangan organisme pengganggu tanaman. Serangan hama yang mengakibatkan kehilangan hasil maupun penurunan mutu salah satunya adalah serangan kutudaun dan kutukebul. Kutudaun yang menyerang adalah Myzus persicae subsp. Nicotianae dan Acyrthosiphon pisum sedangkan kutukebul yang menyerang tanaman tembakau di ke dua desa ini adalah Bemisia tabaci.

Secara langsung gejala serangan kutudaun dan kutukebul menyebabkan daun yang terserang berkeriput, kekuningan, terpuntir, pertumbuhan tanaman terhambat, layu lalu mati. Secara tidak langsung hama ini adalah sebagai vektor beberapa jenis penyakit virus. Sistem metabolisme tanaman dapat terganggu karena infeksi yang disebabkan oleh virus melalui pemanfaatan hasil fotosintesis untuk replikasi dan sintesis partikel virus. Sehingga hal tersebut mengakibatkan penurunan nutrisi untuk pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman. Kehilangan hasil yang diakibatkan oleh  B. tabaci diperkirakan mencapai 37,5%. Bila terjadi serangan penyakit virus daun keriting kuning / virus krupuk pada tembakau (TLCV) kehilangan hasil dapat mencapai 20 - 100%. 

Dampak serangan kutudaun dan kutukebul pada kualitas daun tembakau

1.     menyebabkan daun menjadi lemah dan berwarna pucat.

2.     mengurangi kualitas daun tembakau, membuatnya kurang sesuai untuk digunakan sebagai bahan dasar rokok dan cerutu.

3.     menyebar penyakit lainnya ke tanaman tembakau melalui cairan yang diisapnya, yang dapat memperburuk kualitas daun tembakau. Tobacco Leaf Curl Virus (TLCV), Tobacco Mosaic Virus (TMV) dan Tobacco Etch Virus (TEV) merupakan beberapa jenis virus yang ditularkan melalui serangga vektor  B. tabaci dan tidak dapat ditularkan secara mekanis melalui biji dan penggosokan sap daun sakit.

 

Cara Penyebaran kutudaun dan kutukebul

1.      Angin dan badai membawa hama ini hingga jarak yang sangat jauh, sehingga berkontribusi terhadap penyebarannya secara global.

2.      Aktivitas manusia juga memberi kontribusi bagi penyebaran kutudaun. Penyebaran berbagai genotipe kutu di berbagai wilayah geografis sebagian besar disebabkan oleh pengaruh antropogenik, seperti pergerakan tanaman yang terserang dan masuknya galur baru melalui aktivitas manusia.

3.      Di pembibitan tanaman muda yang terserang hama ini dapat terbawa ke lokasi lain, sehingga tersebar luas di luar lokasi pembibitan.

4.      Di area dengan iklim yang sesuai, M. persicae subsp. nicotianae bereproduksi secara biologis. Di daerah subtropis, kutudaun betina bertelur, sementara di daerah tropis, mereka bereproduksi secara partenogenetik, di mana kutudaun betina vivipar melahirkan anak yang tumbuh di dalam tubuh mereka.

 

Faktor yang mempengaruhi perkembangbiakan kutudaun dan kutukebul

1.     Kelembaban dan Suhu:

Myzus persicae dapat berkembang biak pada kelembaban yang kondusif antara 60%-80% dan suhu yang optimal antara 20-30°C.

2.     Makanan:

Mereka membutuhkan sumber makanan yang kaya akan cairan sel daun, seperti tanaman tembakau (Nicotiana tabacum).

3.     Predator dan Parasit:

Perkembangbiakan mereka dapat dipengaruhi oleh predator alami dan parasit yang spesifik.

4.     Penggunaan Pestisida:

Penggunaan pestisida dapat mempengaruhi populasi mereka, tetapi tidak ada musim tertentu yang spesifik untuk pengendalian.

 

Strategi Pengendalian

1.     Penggunaan Pestisida:

Menggunakan pestisida yang spesifik untuk kutudaun tembakau dapat efektif dalam mengendalikan populasi mereka. Meskipun penggunaan pestisida kimia dapat efektif, namun perlu diingat bahwa penggunaan bahan kimia dapat berdampak negatif pada lingkungan dan keanekaragaman hayati. Penggunaan pestisida harus dilakukan dengan hati-hati dan hanya jika diperlukan.

2.     Penggunaan Predator dan Parasitoid Alami:

Menggunakan predator alami seperti ladybug (Coccinella spp.) yang dapat memakan kutudaun tembakau. Parasitoid yang menyerang kutudaun atau kutukebul adalah Aphidius sp. dan Aphelinus sp.

3.     Penggunaan Cendawan Entomopatogen (CEP):

Menggunakan Beauveria bassiana, Metarhizium anisopliae dan Trichoderma asperellum. CEP B. bassiana dilaporkan dapat menyebabkan mortalitas terhadap nimfa kutukebul  B. tabaci hingga 70% (Flawerina et al. 2021), Trichoderma asperellum umumnya sebagai saprofit fakultatif memiliki potensi sebagai CEP karena bersifat antifeedant mengendalikan nimfa kutukebul (Bemisia tabaci) hingga 73% pada tanaman kapas.

4.     Pengelolaan Lahan:

Membuat lahan yang seimbang dan kaya akan bahan organik dapat meningkatkan kekayaan spesies predator yang dapat mengendalikan kutudaun tembakau.

 

 

Penulis:

Ruth Naftaly Liberty Simanjutak, SP, MSc

POPT Ahli Muda Wilayah Kerja Kecamatan Purwodadi

 

 

 

 

 





Berita Purworejo

Counter Pengunjung