KURANGI KETERGANTUNGAN PENGGUNAAN PUPUK KIMIA AJAK PETANI BERTANI ORGANIK

By DINPPKP 16 Agu 2023, 09:18:51 WIB Penyuluhan
KURANGI KETERGANTUNGAN PENGGUNAAN PUPUK KIMIA AJAK PETANI BERTANI ORGANIK

KURANGI KETERGANTUNGAN PENGGUNAAN PUPUK KIMIA AJAK PETANI BERTANI ORGANIK

Para petani di Kecamatan Purwodadi Bersama para penyuluh BPP Purwodadi belajar bersama untuk membuat pupuk organic padat, pupuk organic cair, biochar dan pestisida nabati dalam kegiatan Demplot CSA SIMURP yang mendukung program Gerakan Pertanian Pro Organik (Genta Organik) Kementerian Pertanian. Genta organik adalah suatu gerakan pertanian pro organik yang meliputi pemanfaatan pupuk organik, pupuk hayati, dan pembenah tanah sebagai solusi terhadap masalah pupuk mahal. Gerakan ini mendorong petani untuk memproduksi pupuk organik, pupuk hayati, dan pembenah tanah secara mandiri. Genta organik tidak berarti mengharamkan penggunaan pupuk anorganik (kimia), melainkan boleh menggunakan pupuk kimia dengan ketentuan tidak berlebihan atau mengikuti konsep pemupukan berimbang.

Ada 3 tujuan program Genta Organik :

1. Menyuburkan tanah-tanah Indonesia untuk meningkatkan produksi pertanian di saat harga pupuk mahal;

2. Menerapkan pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan;

3. Menekan biaya produksi pertanian dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia.

Selama tiga hari, dari tanggal 7-9 Agustus 2023, sebanyak 20 orang petani peserta mengikuti kegiatan Demplot CSA SIMURP mendukung Genta Organik. Kegiatan pembukaan dihadiri Koordinator Suyudiyono, S.ST bersama semua Penyuluh Pertanian BPP Purwodadi, dan dibuka oleh Penanggung Jawab Kegiatan SIMURP Kabupaten Purworejo, Turoso, S.TP. Kegiatan hari pertama dilanjutkan dengan sosialisasi tentang apa itu Program Genta Organik, maksud dan tujuan Genta Organik. Praktek pembuatan pupuk organik padat dengan bahan utama kotoran hewan (kohe) sapi dilakukan semua pserta dipandu PPL. Pada hari kedua, peserta dipandu untuk membuat biochar yaitu arang sekam dan pupuk organiK cair (POC) dari bahan kecambah, nanas, bonggol dan batang pisang.

Sebagai pelengkap kebutuhan petani untuk budidaya organik, pada hari ketiga SL, peserta mendapatkan materi tentang pestisida nabati dan pestisida hayati, dipandu oleh POPT Kecamatan Purwodadi, Wakhidatun Jamaliyah. Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan aktifnya bersumber dari tumbuh-tumbuhan, seperti akar, daun, batang atau buahnya. Bahan kimia yang terkandung di dalam tumbuhan memiliki bioaktivitas terhadap serangga, seperti bahan penolak atau repellent, penghambat makan atau antifeedant, penghambat perkembangan serangga atau insect growth regulator, dan penghambat peneluran atau oviposition deterrent.

Biopestisida atau pestisida hayati adalah pestisida yang bahan dasarnya berasal dari bahan hidup. Atau dapat diartikan sebagai semua bahan hayati, baik berupa tanaman, hewan, mikroba, atau protozoa yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman.

Pada kegiatan ini, POPT melakukan demonstrasi cara mengembangkan jamur Beauveria Bassiana yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama yang diantaranya wereng batang coklat dan ulat penggerek batang. Selain itu peserta juga diajarkan cara membuat pestisida nabati, menggunakan bahan sereh, lengkuas, daun sirsak dan buah mojo. Kegiatan diakhiri dengan komitmen peserta dengan membuat Rencana Tindak Lanjut (RTL) yaitu mendukung program Genta Organik untuk membuat pupuk organik dan pestisida nabati serta mengaplikasikan di lahan, guna mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida kimia.

(Desty Lina Erfawati, S.P – BPP Purwodadi)





Berita Purworejo

Counter Pengunjung