- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
KONDISI DAMPAK EL NINO PADA MUSIM TANAM PERTAMA (MT 1) DI KECAMATAN PURWODADI

KONDISI DAMPAK EL NINO PADA MUSIM TANAM PERTAMA (MT 1)
DI KECAMATAN PURWODADI
Pengertian
El Nino menurut BMKG, merupakan fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas
kondisi normalnya yang terjadi di Samudra Pasifik bagian tengah.
Jika pemanasan ini meningkat secara
terus-menerus, maka potensi pertumbuhan awan di Samudra Pasifik bagian tengah
pun ikut meningkat. Akibatnya, curah hujan khususnya di Indonesia akan
berkurang. Secara sederhana, El Nino adalah suatu fenomena alam yang memicu
terjadinya kekeringan. El Nino akan berdampak pada sektor pertanian, terutama
tanaman pangan semusim yang mengandalkan air. Rendahnya curah hujan
dikhawatirkan akan menyebabkan gagal panen.
Di
wilayah kecamatan Purwodadi biasanya pada Bulan Desember, hampir semua lahan
sawah tertanami padi, atau tutup tanam. Namun demikian hasil pengamatan PPL
wiilayah binaan Desa Sumberrejo Desty Lina Erfawati, S.P pada hari Rabu, 20
Desember 2023, lahan sawah Desa Sumberrejo seluas 81 ha belum terlihat tanaman
padi. Hampir semua lahan sudah dilakukan olah tanah dengan traktor untuk yang
pertama (istilah petani neras), namun kegiatan ini belum bisa
dilanjutkan karena keterbatasan air. Debit air dari Bendung Boro sangat kecil,
saat gilir air, air tidak sampai ke lokasi, sehingga tidak bisa melanjutkan
kegiatan olah tanah.
Sebagian
petani sudah membuat lahan persemaian, bahkan sudah ada persemaian tanaman padi
berumur sekitar 14 hari setelah sebar (hss) yang kondisi tanahnya mulai merekah
karena tidak teraliri air. Seperti yang dikatakan ketua kelompok Tani Tani
Makmur Desa Sumberrejo, Slamet Santoso, kegiatan olah tanah untuk menanam padi
sementara dihentikan karena air irigasi tidak sampai di sawah saat ada jadwal
gilir air.
Menanggapi
masalah tersebut, penyuluh berkoordinasi dengan Mantri pengairan wilayah
setempat, Bapak Edi dari UPT
Pemeliharaan Jalan dan Irigasi Purwodadi Dinas PUPR Kabupaten Purworejo,
yang mengatur air dari Daerah Irigasi (DI) Boro Kemantren I, melalui sambungan
telpon. Informasi dari Edi, hal ini terjadi karena debit air dari DI Boro
kecil, sebagai contoh, pada hari Selasa, tanggal 19 Desember 2023, debit air
yang keluar dari Bendung Boro 400 liter/detik, yang dialirkan ke wilayah Desa
Sumberrejo bagian Selatan sampai dengan Desa Bragolan. Dengan debit air tersebut,
hanya lahan di dekat saluran irigasi sekunder saja yang memungkinkan teraliri,
dan dibantu dengan pompanisasi. Debit air akan bertambah jika turun hujan
dengan intensitas yang cukup.
Petugas statistik
tanaman pangan Kecamatan Purwodadi Sri Sukmowati, S.P, pada hari Rabu, 20
Desember 2023, mencatat baru sebagian kecil lahan sawah di Kecamatan Purwodadi yang
tertanami padi, kurang lebih 521 hektar dari luas sawah 2.709 hektar, atau
sekitar 19% dari total luas sawah. Kondisi ini sangat berbeda dengan tahun
lalu, di Kecamatan Purwodadi pada bulan Desember tahun 2022, lahan sawah sudah
100% tertanami padi.
(Desty Lina Erfawati, S.P.- Penyuluh Pertanian BPP Purwodadi).






