Ketosis, Penyakit Metabolik Pada Kambing Bunting

By DINPPKP 13 Feb 2025, 12:13:52 WIB Peternakan dan Keswan
Ketosis, Penyakit Metabolik Pada Kambing Bunting

Ketosis, Penyakit Metabolik Pada Kambing Bunting

 

 

Ketosis merupakan penyakit metabolik yaitu penyakit yang disebabkan oleh adanya gangguan metabolisme tubuh bukan karena masuknya agen infeksius. Penyakit ini juga dikenal dengan nama Pregnancy Toxemia karena biasanya diderita oleh kambing bunting di fase akhir kebuntingan. Kondisi ini terjadi karena tidak terpenuhinya asupan energi induk kambing saat bunting sehingga memicu terjadinya keseimbangan energi negatif.

 

Pada hari Rabu, 12 Pebruari 2025, masuk laporan dari Bapak Dhandung, Tlogoguwo, Kaligesing, kambing indukan yang sedang bunting dalam beberapa hari terakhir nampak lesu, malas bergerak dan nafsu makannya menurun drastis. Untuk menindaklanjuti laporan tersebut, Kepala UPT Puskeswan menugaskan medik veteriner untuk menangani kasus tersebut.

 

Dari hasil pemeriksaan oleh medik veteriner ditemukan kondisi indukan kurus, bulu kusam, lesu dan bola matanya menjorok ke dalam dengan kelopak mata yang sedikit membengkak. Menurut pemilik, dalam beberapa hari terakhir nafsu makannya berkurang banyak bahkan ampas tahu sebagai pakan tambahan sudah tidak pernah dimakan. Berdasarkan anamnesa pemilik dan hasil pemeriksaan, indukan kambing tersebut didiagnosa mengalami gangguan metabolisme yaitu Ketosis.

 

 

Kambing yang mengalami Ketosis

 

Kejadian Ketosis karena adanya peningkatan kebutuhan energi pada induk kambing di fase akhir kebuntingan dimana pada fase itu pertumbuhan foetus sangat cepat. Jika asupan energinya tidak mencukupi maka induk kambing akan membongkar cadangan energi yang dimiliki yaitu jaringan lemak untuk mencukupi kebutuhan energinya. Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya akumulasi benda keton sebagai akibat pembongkaran lemak dalam aliran darah dan air kencing. Untuk mendeteksi kondisi tersebut bisa dengan mencium bau nafasnya maka akan tercium bau tengik.

 

 

 

Penyebab

 

Beberapa kondisi berikut bisa memicu kejadian Ketosis, antara lain : Asupan nurisi yang tidak mencukupi bisa meningkatkan risiko pregnancy toxemia , Nutrisi yang berlebih juga menjadi penyebab karena akan memicu terjadinya obesitas yang merupakan faktor risiko ketosis, kebuntingan kembar dimana akan membutuhkan energi yang besar untuk mendukung perkembangan dan pertumbuhan foetus dan kurangnya exercise yaitu aktivitas fisik indukan kambing bunting karena dalam pemeliharaan intensif, kambing hanya menempati ruangan dengan ukuran 1.5 x 2 meter sehingga aktivitas fisiknya terbatas

 

Tanda-Tanda Klinis

 

Indukan kambing yang mengalami ketosis ditandai dengan penurunan nafsu makan, penurunan berat badan dan jeleknya BCS (body condition score), lemah dan lesu, gemetar dan kedutan pada otot-otot tubuh, langkah kaki yang tidak stabil dan perubahan perilaku.

 

Penanganan

 

Kasus ketosis harus cepat ditangani agar tidak menjadi fatal. Langkah pertama adalah pemberian infus glukosa secara intra vena, dilanjutkan dengan pemberian propylene glycol secara oral. Kemudian disiapkan diet baru yang asupan energinya disesuaikan dengan kebutuhan dan monitoring kandungan benda keton dalam darah. Selain itu pengaturan kandang perawatan yang hangat dan nyaman serta membantu kambing untuk makan juga perlu dilakukan.

 

Deteksi dini, manajemen yang proper dan asupan energi yang menyesuaikan kebutuhan kambing merupakan faktor krusial dalam mencegah kejadian ketosis. Monitoring kondisi skor tubuh (BCS) secara periodik dan menyusun diet pakan sesuai kebutuhan atau sesuai fase produksi kambing merupakan faktor kunci mencegah pregnancy toxemia. #d-Qosim

Penyakit Orf ini adalah penyakit pada kambing dan domba, merupakan penyakit viral yang sangat infeksius. Penyakit ini ditandai dengan terbentuknya lesi-lesi pada kulit berupa keropeng, bernanah, basah, terutama pada daerah moncong(bongor), bibir dan glandula mammaria. Anak domba dengan umur 3-6 bulan paling banyak menderita, meskipun yang berumur beberapa minggu dan hewan dewasa juga dapat menderita sangat parah. Diketahui juga bahwa penyakit orf pada kambing dapat menular ke manusia (zoonosis) lewat luka abrasi atau saat memerah susu.

Pada hari Selasa, 11 Pebruari 2025 masuk laporan dari Pak Slamet Khusen Kaliglagah, Loano menyampaikan informasi bahwa kambing peliharaannya mengalami kelainan yaitu pada bongornya muncul lepuh-lepuh basah kemerahan sehingga kesulitan saat akan makan. Untuk menangani kasus tersebut Kepala UPT Puskeswan menugaskan medik veteriner untuk menanganinya.

Dari anamnesa diperoleh informasi bahwa sekitar seminggu yang lalu kambinya diberi makan berupa hijauan dari jenis Pakchong tanpa dicacah terlebih dahulu. Pada pagi harinya nampak adanya luka kemerahan pada bibir kambing yang selanjutnya terus berkembang menjadi lepuh-lepuh yang menyulitkan kambing untuk makan. Dari pemeriksaan umum ditemukan tiga ekor kambing yang bongornya melepuh, kulit menebal dan timbul retakan-retakan kemerahan dari populasi total 15 ekor. Berdasar hasil pemeriksaan dan anamnesa pemilik, kambing tersebut didiagnosa terkena Orf atau Contagious ecthyma atau dalam bahasa lokal disebut bengoren.

 


 

Kambing yang terkena orf

Penyakit orf  atau  Contagiousa ecthyma adalah  jenis penyakit kulit terutama pada  ternak kambing. Penyakit  ini  merupakan  penyakit  menular  yang  bersifat  zoonosis.  Penyakit ‘orf  disebabkan  oleh  virus parapox  dan  mulai  terlihat  2-3  hari setelah kambing datang.  Hal ini sesuai  dengan  pendapat  Mulyono (2004), bahwa  masa inkubasi virus berlangsung selama 2-3 hari. Masa  inkubasi adalah waktu masuknya patogen (penyebab penyakit) ke dalam tubuh sampai menimbulkan gejala pertama kali

 

Penyakit orf adalah jenis penyakit keropeng yang menyerang daerah sekitar  mulut,  kelopak  mata, ambing,  dan  bagian  tubuh  yang  tidak  ditumbuhi bulu. Tanda klinis yang terlihat yaitu adanya lepuhan di daerah sekitar mulut di bagian pinggir bibir sebelah kanan. Ternak yang terserang penyakit orf  terdapat  lepuhan  di  daerah  sekitar  mulut  yang  berisi  cairan  berwarna  putih  kekuningan,kemudian lepuh  tersebut pecah dan  membentuk keropeng.  Ternak yang sakit ditandai dengan kurangnya nafsu  makan dan tidak tenang  seperti  menggesekkan daerah  sekitar  mulut  ke  dinding  kandang  untuk mengurangrasa  gatal.  Hal  ini  sesuadengan  pendapat  Darmono  (2011)  bahwa  penyakit  orf  adalah penyakit kulit yang menyebabkan gejala melepuh pada kulit terutama pada daerah sekitar mulut dan sering menyerang ternak kambing dan domba. 

 

Menurut  Mulyono  (2004),  gejala  yanterlihat  yaitu  sekitar  bibir  dan  lubang  hidung  terjadi peradangan  yang  menimbulkan  benjolan  menyerupai  bunga  kol  dan  hidung  mengeluarkan  bau  busuk. Peradangan juga  dapat terjadi  pada ambing, kaki, kelopak mata, dan alat kelamin.  Kemudian peradangan akan berubah menjadi lepuh-lepuh dan mengeluarkan cairan dan membentuk kerak. Setelah 7-14, hari kerak mengelupas.

Manajemen Kasus

Kejadian orf pada kambing milik Bp. Slamet Khusen diawali adanya trauma fisik akibat gesekan dengan pakan rumput pakchong yang tidak dicacah. Luka gesekan menjadi pintu masuknya agen penyakit yaitu virus pox .

Untuk medikasinya dengan memberikan injeksi antibiotik, antiradang dan multivitamin. Antibiotik untuk mengobati infeksi sekunder yang terjadi, antiradang untuk mengobati pembengkakan yang terjadi dan multivitamin untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Untuk area lepuh yang timbul diolesi dengan salep khusus untuk mengobati luka dan melembabkan area lepuh yang mengering dan retak-retak. Salep diberikan pagi dan sore sampai sembuh.

Untuk pakan disiapkan hijauan segar dan muda yang dicacah sehingga memudahkan kambing dalam makan. Dengan kombinasi medikasi, salep dan perlakuan pakan, orf biasanya akan pulih dalam waktu 5-7 hari. #de-Qosim





Berita Purworejo

Counter Pengunjung