- RUMAH PANGAN KITA DKPP PURWOREJO SENANTIASA HADIR MENEMANI SETIAP JUM’AT PAGI
- PEMANTAUAN DISTRIBUTOR BAPOKTING OLEH PENGAWAS HARGA PANGAN DI KABUPATEN PURWOREJO
- Refilling Nitrogen Cair Guna Sukseskan Inseminasi Buatan Ternak
- Menyulam Ilmu di Hamparan Tembakau
- Gerakan Pengendalian Tikus Serempak di Lima Kecamatan Kabupaten Purworejo
- BPP Purworejo Gelar Gerdal Tikus Susulan di Cangkreplor, Amankan Produksi Padi MT II
- Jamin Daging Kurban Aman, Tim DKPP Purworejo Sisir Belasan Kecamatan
- Prosesi Penyembelihan Sapi Kurban Bantuan Presiden Republik Indonesia ????✨
- PENYERAHAN BANTUAN PANGAN SECARA SIMBOLIS OLEH WAKIL BUPATI PURWOREJO DI DESA TEGALSARI
- DKPP Gelar Rakor Pengawasan Hewan Kurban 2026, Tekankan Kelayakan dan Higienitas untuk Hasilkan Daging ASUH
Ketosis, Penyakit Metabolik Pada Kambing Bunting

Ketosis,
Penyakit Metabolik Pada Kambing Bunting
Ketosis merupakan penyakit metabolik yaitu penyakit
yang disebabkan oleh adanya gangguan metabolisme tubuh bukan karena masuknya
agen infeksius. Penyakit ini juga dikenal dengan nama Pregnancy Toxemia karena
biasanya diderita oleh kambing bunting di fase akhir kebuntingan. Kondisi ini
terjadi karena tidak terpenuhinya asupan energi induk kambing saat bunting
sehingga memicu terjadinya keseimbangan energi negatif.
Pada hari
Rabu, 12 Pebruari 2025, masuk laporan dari Bapak Dhandung, Tlogoguwo,
Kaligesing, kambing indukan yang sedang bunting dalam beberapa hari terakhir
nampak lesu, malas bergerak dan nafsu makannya menurun drastis. Untuk
menindaklanjuti laporan tersebut, Kepala UPT Puskeswan menugaskan medik
veteriner untuk menangani kasus tersebut.
Dari hasil
pemeriksaan oleh medik veteriner ditemukan kondisi indukan kurus, bulu kusam,
lesu dan bola matanya menjorok ke dalam dengan kelopak mata yang sedikit
membengkak. Menurut pemilik, dalam beberapa hari terakhir nafsu makannya
berkurang banyak bahkan ampas tahu sebagai pakan tambahan sudah tidak pernah
dimakan. Berdasarkan anamnesa pemilik dan hasil pemeriksaan, indukan kambing
tersebut didiagnosa mengalami gangguan metabolisme yaitu Ketosis.
Kambing
yang mengalami Ketosis
Kejadian Ketosis
karena adanya peningkatan kebutuhan energi pada induk kambing di fase akhir
kebuntingan dimana pada fase itu pertumbuhan foetus sangat cepat. Jika asupan
energinya tidak mencukupi maka induk kambing akan membongkar cadangan energi
yang dimiliki yaitu jaringan lemak untuk mencukupi kebutuhan energinya. Kondisi
tersebut menyebabkan terjadinya akumulasi benda keton sebagai akibat
pembongkaran lemak dalam aliran darah dan air kencing. Untuk mendeteksi kondisi
tersebut bisa dengan mencium bau nafasnya maka akan tercium bau tengik.
Penyebab
Beberapa
kondisi berikut bisa memicu kejadian Ketosis, antara lain : Asupan
nurisi yang tidak mencukupi bisa meningkatkan risiko pregnancy toxemia ,
Nutrisi yang berlebih juga menjadi penyebab karena akan memicu terjadinya
obesitas yang merupakan faktor risiko ketosis, kebuntingan kembar dimana
akan membutuhkan energi yang besar untuk mendukung perkembangan dan pertumbuhan
foetus dan kurangnya exercise yaitu aktivitas fisik indukan
kambing bunting karena dalam pemeliharaan intensif, kambing hanya menempati
ruangan dengan ukuran 1.5 x 2 meter sehingga aktivitas fisiknya terbatas
Tanda-Tanda
Klinis
Indukan
kambing yang mengalami ketosis ditandai dengan penurunan nafsu makan,
penurunan berat badan dan jeleknya BCS (body condition score), lemah dan
lesu, gemetar dan kedutan pada otot-otot tubuh, langkah kaki yang tidak stabil
dan perubahan perilaku.
Penanganan
Kasus ketosis
harus cepat ditangani agar tidak menjadi fatal. Langkah pertama adalah
pemberian infus glukosa secara intra vena, dilanjutkan dengan pemberian
propylene glycol secara oral. Kemudian disiapkan diet baru yang asupan
energinya disesuaikan dengan kebutuhan dan monitoring kandungan benda keton
dalam darah. Selain itu pengaturan kandang perawatan yang hangat dan nyaman
serta membantu kambing untuk makan juga perlu dilakukan.
Deteksi
dini, manajemen yang proper dan asupan energi yang menyesuaikan
kebutuhan kambing merupakan faktor krusial dalam mencegah kejadian ketosis. Monitoring
kondisi skor tubuh (BCS) secara periodik dan menyusun diet pakan sesuai
kebutuhan atau sesuai fase produksi kambing merupakan faktor kunci mencegah pregnancy
toxemia. #d-Qosim
Pada hari
Selasa, 11 Pebruari 2025 masuk laporan dari Pak Slamet Khusen Kaliglagah, Loano
menyampaikan informasi bahwa kambing peliharaannya mengalami kelainan yaitu
pada bongornya muncul lepuh-lepuh basah kemerahan sehingga kesulitan saat akan
makan. Untuk menangani kasus tersebut Kepala UPT Puskeswan menugaskan medik
veteriner untuk menanganinya.
Dari
anamnesa diperoleh informasi bahwa sekitar seminggu yang lalu kambinya diberi
makan berupa hijauan dari jenis Pakchong tanpa dicacah terlebih dahulu. Pada
pagi harinya nampak adanya luka kemerahan pada bibir kambing yang selanjutnya
terus berkembang menjadi lepuh-lepuh yang menyulitkan kambing untuk makan. Dari
pemeriksaan umum ditemukan tiga ekor kambing yang bongornya melepuh, kulit
menebal dan timbul retakan-retakan kemerahan dari populasi total 15 ekor.
Berdasar hasil pemeriksaan dan anamnesa pemilik, kambing tersebut didiagnosa
terkena Orf atau Contagious ecthyma atau dalam bahasa lokal
disebut bengoren.
Kambing
yang terkena orf
Penyakit
orf atau Contagiousa ecthyma adalah jenis penyakit kulit terutama pada ternak kambing. Penyakit ini merupakan
penyakit menular yang bersifat
zoonosis. Penyakit ‘orf’ disebabkan
oleh virus
parapox dan mulai
terlihat 2-3 hari setelah kambing datang. Hal ini sesuai dengan
pendapat Mulyono (2004), bahwa masa inkubasi
virus berlangsung selama 2-3 hari. Masa inkubasi
adalah waktu masuknya patogen (penyebab
penyakit) ke dalam tubuh sampai
menimbulkan gejala pertama
kali
Penyakit
orf adalah jenis penyakit keropeng
yang menyerang daerah sekitar
mulut, kelopak mata, ambing,
dan bagian tubuh
yang tidak ditumbuhi bulu. Tanda
klinis yang terlihat yaitu adanya lepuhan di daerah
sekitar mulut di bagian pinggir bibir
sebelah kanan. Ternak yang terserang penyakit orf
terdapat lepuhan
di daerah sekitar
mulut yang berisi
cairan berwarna
putih kekuningan,kemudian lepuh tersebut
pecah dan membentuk
keropeng. Ternak
yang sakit ditandai dengan kurangnya nafsu makan dan tidak tenang seperti
menggesekkan daerah
sekitar mulut ke dinding
kandang untuk mengurangi rasa
gatal. Hal
ini sesuai dengan
pendapat Darmono (2011) bahwa
penyakit orf adalah penyakit kulit
yang menyebabkan gejala melepuh pada
kulit terutama pada daerah
sekitar mulut dan sering menyerang ternak
kambing dan domba.
Menurut Mulyono (2004),
gejala yang terlihat
yaitu sekitar bibir
dan lubang hidung
terjadi peradangan yang
menimbulkan benjolan menyerupai
bunga kol dan
hidung mengeluarkan bau
busuk. Peradangan juga dapat terjadi pada ambing, kaki, kelopak mata, dan alat
kelamin. Kemudian peradangan akan berubah menjadi lepuh-lepuh dan mengeluarkan cairan dan membentuk kerak. Setelah 7-14, hari kerak
mengelupas.
Manajemen
Kasus
Kejadian orf pada
kambing milik Bp. Slamet Khusen diawali adanya trauma fisik akibat gesekan
dengan pakan rumput pakchong yang tidak dicacah. Luka gesekan menjadi pintu
masuknya agen penyakit yaitu virus pox .
Untuk
medikasinya dengan memberikan injeksi antibiotik, antiradang dan multivitamin.
Antibiotik untuk mengobati infeksi sekunder yang terjadi, antiradang untuk
mengobati pembengkakan yang terjadi dan multivitamin untuk meningkatkan
kekebalan tubuh. Untuk area lepuh yang timbul diolesi dengan salep khusus untuk
mengobati luka dan melembabkan area lepuh yang mengering dan retak-retak. Salep
diberikan pagi dan sore sampai sembuh.
Untuk pakan
disiapkan hijauan segar dan muda yang dicacah sehingga memudahkan kambing dalam
makan. Dengan kombinasi medikasi, salep dan perlakuan pakan, orf biasanya
akan pulih dalam waktu 5-7 hari. #de-Qosim






