- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
- JARINGAN IRIGASI TERSIER (PITER) TA. 2026
KEREN, UBINAN PADI HIBRIDA DI NGOMBOL TEMBUS 11,08 TON/HEKTAR

KEREN, UBINAN PADI HIBRIDA DI NGOMBOL TEMBUS 11,08
TON/HEKTAR
Tujuan
pembangunan pertanian adalah menyediakan pangan bagi 273 juta penduduk
Indonesia, meningkatkan kesejahteraan petani, serta menggenjot ekspor, hal ini
seperti dijelaskan oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian
(BPPSDMP), Dedi Nursyamsi. “Kita harus meningkatkan keunggulan komparatif, itu
yang harus digenjot. Indonesia mempunyai keunggulan komparatif yang bisa diolah
dengan cara cerdas. Salah satunya dengan menggunakan smart farming sebagai
pertanian cerdas, yang dilakukan orang cerdas dan cara cerdas serta menggunakan
varietas tinggi bermutu, ”tegas Dedi.
Dalam rangka untuk
menghitung perkiraan produktivitas padi, pada Awal Agustus 2024 dilaksanakan kegiatan ubinan padi Hibrida
Mapan 05 bertempat di Kelompok Tani Sri Dadi, Desa Briyan, Kecamtan Ngombol.
Kegiatan ini dihadiri PPL dan POPT Kecamatan Ngombol, Kepala Desa Briyan,
Pengurus dan anggota Kelompok Tani, Sponsorship Benih Padi Hibrida Mapan 05, Jawa
Green, dan Pestisida FMC. Ubinan merupakan salah satu cara memprediksi hasil
panen tanaman padi yang masih ada di lahan melalui penentuan sampel pengukuran
dan penimbangan, hasil ini dapat dijadikan dasar dalam penentuan produksi per
hektar lahan.
Siti
Lestari selaku PPL Wibi Desa Briyan menyampaikan teknik pengambilan sampel
ubinan. “Secara garis besar langkah dalam pengambilan ubinan yaitu menentukan
petak lahan yang akan dilakukan ubinan, mengambil titik berbentuk petak atau
bujur sangkar per hektar lahan tanaman, memberikan tanda pada hasil pengukuran,
menghitung jumlah rumpun atau batang didalam hasil pengukuran, mengambil sampel
ubinan dengan alat pemotong, memisahkan sampel dari daun, dahan, tanah, dll,
menimbang hasil ubinan dan selanjutnya menduga produktivitas hasil ubinan”,
ujarnya.
Adapun
hasil ubinan padi dengan varietas Mapan 05 dengan ukuran sampel 2,5 m x 2,5 m menghasilkan
berat sampel 6,925 Kg (dikalikan 1600),
sehingga konversi perkiraan produktivitas setara 11,08 ton/ha. Sutoyo selaku
pemilik lahan menyampaikan untuk lahan seluas 2.100 m² miliknya hanya
dibutuhkan 1,5 Kg benih, padahal biasanya dibutuhkan sekitar 8 Kg. Hal ini dikarenakan pada saat tanam, hanya
menggunakan satu batang bibit padi per
titik. Sutoyo menggunakan sistem tanam tegel dengan ukuran 25 cm x 25 cm.
Sedangkan
pemupukan yang dilakukan yaitu pupuk dasar menggunakan pupuk organik Jawa
Greeen sebanyak 200 kg dan Urea sebanyak 25 Kg. Sementara pemupukan susulan
menggunakan pupuk NPK sebanyak 25 Kg dan Urea sebanyak 25 Kg.
Woro
selaku Koordinator PPL Kecamatan Ngombol menyampaikan bahwa pemilihan benih
padi varietas unggul sangat menentukan tingkat produktivitas hasil panen yang
diharapkan oleh petani. “Dengan hasil ubinan ini, varietas MAPAN P-05 layak
untuk dipertimbangkan sebagai salah satu varietas padi hibrida yang dapat
ditanam khususnya di Desa Briyan”, untuk Varietas Mapan P-05 tidak bisa
diturunkan/ditaman kembali sehingga padi
harus berasal dari bibit baru, karena apabila hasil panen kemudian ditanam
ulang, hasil ini akan berbeda dengan bibit aslinya”, tambahnya.
“Semoga
dengan penggunaan benih padi hibrida yang mulai menyebar di Kecmatan Ngombol
dapat memacu peningkatan produksi padi di wilayah Kecamatan Ngombol. Hal ini
dapat menjadi contoh untuk mendorong petani meningkatkan produktivitas mereka,”
tandas Woro.






