- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
KENDALIKAN KARAT DAUN KOPI, GAPOKTAN SARI MUKTI SIDOMUKTI ADAKAN GERAKAN PENGENDALIAN
KENDALIKAN KARAT DAUN KOPI, GAPOKTAN SARI MUKTI SIDOMUKTI ADAKAN GERAKAN PENGENDALIAN
|
|
Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan Indonesia yang banyak diproduksi dan diekspor. Dalam upaya peningkatan produktivitas dan kualitas kopi di perkebunan rakyat ditemukan beberapa kendala. Salah satunya adalah serangan penyakit penting yaitu penyakit karat daun. Penyakit ini disebabkan oleh jamur patogen Hemileia vastatrix B.et Br.
Penyakit ini dinilai penting karena menyerang bagian daun tanaman kopi, sehingga dapat mengganggu proses fotosintesis. Tidak hanya pada tanaman kopi yang sudah menghasilkan, bahkan penyakit tersebut juga menyerang tanaman kopi saat di pembibitan. Kerugian hasil yang diakibatkan oleh serangan penyakit ini dapat mencapai 70% terutama apabila terjadi musim hujan yang disertai suhu tinggi. Pada kondisi tersebut, intensitas serangan penyakit karat daun dapat meningkat.
Penyakit karat daun ini banyak ditemukan pada tanaman kopi milik petani yang berlokasi di Desa Sidomukti, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo. Tanaman kopi yang sakit ditandai dengan adanya bercak-bercak berwarna kuning muda di bagian bawah permukaan daun dan terbentuk tepung berwarna oranye. Serangan parah pada daun menyebabkan kerontokan, sehingga lama-kelamaan tanaman menjadi gundul.
Mayoritas kopi di sini berjenis Robusta. Menurut Semangun (2000), umumnya penyakit karat daun menjadi masalah utama pada tanaman kopi jenis arabika. Sedangkan pada tanaman kopi jenis robusta tidak masalah. Potensi serangan semakin berat terutama pada ketinggian di bawah 1.000 m dpl, sedangkan di atas 1.000 m dpl tingkat serangan penyakit biasanya rendah. Hal ini mengapa tanaman kopi di sini banyak mengalami serangan penyakit karat daun karena di Desa Sidomukti memiliki ketinggian tempat 400 – 500 m dpl.
Petani di desa ini sudah melakukan pengendalian terhadap serangan karat daun, namun belum berhasil. Selama ini mereka masih menggunakan fungisida kimia. Oleh karena itu, kami dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Bener mengajak petani yang tergabung dalam Gapoktan Sari Mukti melakukan Gerakan Pengendalian (Gerdal) penyakit Karat Daun menggunakan Pestisida Nabati. Petani didampingi oleh penyuluh pertanian bersama petugas POPT (Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan) wilayah Kecamatan Bener.
Pada hari Selasa tanggal 21 November 2023 sudah dilaksanakan Gerdal karat daun kopi yang ketiga kalinya. Gerdal yang pertama sudah dilaksankan pada tanggal 7 November 2023 dan Gerdal kedua pada tanggal 14 November 2023.
Berdasarkan hasil pengamatan, setelah dilakukan tiga kali perlakuan aplikasi pestisida nabati, diketahui bahwa karat daun tidak menyerang lagi secara meluas. Sehingga berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa pengendalian menggunakan pestisida nabati sangat efektif mengendalikan penyakit karat daun kopi. Namun untuk selanjutnya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan metode penelitian tertentu yang bertujuan untuk membantu petani dalam mengatasi permasalahan dalam budidaya kopi, sehingga harapannya petani dapat memperoleh produksi yang optimal dan berkualitas.
Desa Sidomukti sangat potensi dengan tanaman perkebunan, terutama kopi. Anggota Gapoktan Sari Mukti juga pernah menerima kegiatan SLPHT (Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu) Kopi. Namun, petani tetap harus banyak didampingi oleh Penyuluh Pertanian maupun POPT karena keterbatasan SDM mereka dalam hal budidaya kopi, terutama pada pengendalian hama dan penyakit tanaman. Selain itu, juga permasalahan yang kami hadapi adalah kurangnya minat petani milenial untuk mengusahakan kopi pada semua level, baik on farm atau budidayanya sampai off farm atau pada tingkat pengemasan hingga pemasarannya.
Penyusun :
Febtory Setyo Harsanti, S.P., M.M.A
BPP Bener






