KELOMPOK TANI SIDO MAKMUR DESA PIJI LAKUKAN GERDAL HAMA TIKUS AGAR PRODUKSI PADI TERJAGA

By DINPPKP 05 Mar 2024, 11:18:09 WIB Penyuluhan
KELOMPOK TANI SIDO MAKMUR DESA PIJI LAKUKAN GERDAL HAMA TIKUS AGAR PRODUKSI PADI TERJAGA

KELOMPOK TANI SIDO MAKMUR DESA PIJI LAKUKAN GERDAL HAMA TIKUS AGAR PRODUKSI PADI TERJAGA

 

Tikus sawah (Ratus argentiventer) merupakan hama yang relatif sulit dikendalikan. Perkembangbiakan hama tikus yang sangat cepat serta daya rusak pada tanaman yang cukup tinggi menyebabkan hama tikus selalu menjadi ancaman pada setiap pertanaman. Di Desa Piji Kecamatan Bagelen khususnya pada lahan Kelompok Tani Sido Makmur, kerusakan tanaman yang diakibatkan serangan tikus cukup besar, karena menyerang tanaman sejak di pertanaman hingga menjelang panen bahkan di tempat penyimpanan gabah di lumbung kelompok tani. Angka penyusutan gabah di lumbung kelompok tani mencapai 3,9% pada tahun 2023 lalu. Berkaitan dengan hal tersebut, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo melalui Bidang Sarana dan Perlindungan Pertanian bekerjasama dengan POPT dan BPP Kecamatan Bagelen mengadakan Gerakan Pengendalian (Gerdal) hama tikus di Kelompok Tani Sido Makmur.

Gerdal hama tikus dilakukan pada Hari Jumat, 1 Maret 2024 di lahan sawah milik kelompok tani mulai pukul 07.00 WIB. Acara gerdal tersebut dihadiri oleh POPT Ahli Muda, Bapak Muh Muslih, S.P., M.M. selaku wakil dari Bidang Sarana dan Perlindungan Pertanian, POPT Kecamatan Bagelen, Koordinator BPP Kecamatan Bagelen beserta segenap PPL Kecamatan Bagelen, ketua, pengurus dan anggota Kelompok Tani Sido Makmur. Acara gerdal diawali dengan penyampaian arahan dan penjelasan mengenai deskripsi hama tikus dan langkah-langkah pengendaliannya. Koordinator PPL Bagelen, drh. Nurani Utaminingputri menyampaikan bahwa tikus merupakan hewan yang cerdas sehingga diperlukan upaya pengendalian yang beragam dan berkelanjutan. Jika cara pengendaliannya selalu dilakukan dengan teknik yang sama misalnya dengan pengumpanan, maka tikus akan mengenalinya dan tidak mau lagi memakan umpan yang dipasang sehingga upaya pengendalian tidak akan berhasil. Upaya pengendalian yang direkomendasikan adalah pengendalian secara berkelanjutan dengan menggunakan metode yang berbeda, misalnya saat ini menggunakan metode pengumpanan maka pengendalian selanjutnya dapat menggunakan metode pengemposan, penggenangan, sanitasi dan lain sebagainya dipadukan dengan pengendalian secara hayati dengan pembuatan sarang burung hantu. Diharapkan akan ada burung hantu yang berdomisili di area sawah kelompok tani dan nantinya akan membantu petani dalam mengendalikan populasi tikus karena burung hantu merupakan pemburu dan predator tikus.

Acara dilanjutkan dengan penyampaian penjelasan mengenai teknik pengendalian yang akan dilaksanakan yaitu menggunakan teknik pengumpanan dengan cara mengumpan tikus menggunakan racun tikus antikoagulan berbahan aktif Brodifakum 0,005% yang dicampur kulit gabah atau merang kemudian diletakkan pada jalan lalulintas tikus. Pengendalian dengan pemasangan umpan ini dinilai tepat untuk kondisi lahan sawah Kelompok Tani Sido Makmur saat ini karena tanaman padi tengah berumur 5 sampai dengan 10 HST atau masih berada dalam fase vegetatif. Racun tikus yang berbentuk blok segiempat dihaluskan dalam karung dan plastik kemudian diaplikasikan ke jalan tikus di lahan sawah bersama dengan merang. Yang perlu diperhatikan yaitu pada saat penumbukan racun, dan aplikasi racun di lahan bersama umpan, petani wajib menggunakan sarung tangan plastik. Selain faktor keamanan dari bahaya racun, sarung tangan tersebut juga akan menghilangkan aroma manusia pada umpan yang dipasang. Karena tikus adalah hewan yang cerdas, maka ketika umpan yang dipasang terdapat aroma tangan manusia maka tikus akan mengenalinya dan tidak akan memakan umpan. Pengendalian juga harus dilaksanakan secara serentak karena jika tidak, tikus akan berpindah menyerang lahan yang tidak dilakukan pengendalian sehingga kerusakan tanaman di area tersebut akan meningkat.

Sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan gerdal tikus ini, anggota Kelompok Tani Sido Makmur dihimbau untuk melakukan pengamatan rutin akan serangan hama dan penyakit terutama tikus di lahan sawah masing-masing. Jika ditemukan adanya serangan hama dan penyakit, dapat segera dilakukan langkah pengendalian secara dini sehingga kerugian akibat kerusakan yang ditimbulkan dapat diminimalisir. Kelompok tani juga dihimbau untuk membuat rumah burung hantu di area sawah sehingga diharapkan akan ada burung hantu yang berdomisili di area tersebut dan nantinya akan membantu petani dalam mengendalikan populasi tikus karena burung hantu merupakan pemburu dan predator tikus. Langkah pengendalian tersebut penting dilakukan sebagai upaya pengendalian hama tikus yang ramah lingkungan.

 





Berita Purworejo

Counter Pengunjung