KELOMPOK TANI SIDO DADI, DESA TURUS GELAR PERTEMUAN BAHAS PERSIAPAN TANAM PADI MT 1 DAN ADMINISTRASI KELOMPOK

By DINPPKP 05 Sep 2024, 15:19:39 WIB Penyuluhan
KELOMPOK TANI SIDO DADI, DESA TURUS GELAR PERTEMUAN  BAHAS PERSIAPAN TANAM PADI MT 1 DAN ADMINISTRASI KELOMPOK

KELOMPOK TANI SIDO DADI, DESA TURUS GELAR PERTEMUAN

BAHAS PERSIAPAN TANAM PADI MT 1 DAN ADMINISTRASI KELOMPOK


Kelompok Tani Sido Dadi, Desa Turus Kecamatan Kemiri gelar pertemuan rutin pada hari Kamis, 5 September 2024 (05/09/2024) bertempat di sekretariariat kelompok guna membahas persiapan tanam padi Musim Tanam (MT) 1 serta pengelolaan administrasi kelompok tani. Hadir dalam acara tersebut anggota, pengurus kelompok dan penyuluh pertanian wibi Desa Turus.

 

Pertemuan diawali dengan pembahasan persiapan tanam padi pada Musim Tanam 1, yang menjadi prioritas utama. Ketua Kelompok Tani Sido Dadi, Nahrowi dalam sambutannya menyampaikan bahwa Musim Tanam 1 (MT 1) merupakan waktu yang sangat krusial bagi para petani karena biasanya dilakukan saat curah hujan mulai tinggi, yang berdampak langsung pada hasil panen. Oleh karena itu, persiapan yang matang sangat diperlukan. Beliau juga menekankan pentingnya kesiapan lahan, ketersediaan benih unggul, dan penggunaan pupuk organik untuk meningkatkan produktivitas padi.

 

“MT 1 adalah musim tanam yang paling penting bagi kita. Dengan cuaca yang lebih stabil, kita harus memastikan semua persiapan dilakukan dengan maksimal, mulai dari benih hingga irigasi,” ujar Nahrowi.

 

Penyuluh pertanian wilayah binaan Desa Turus, Kasmirah, memberikan panduan teknis tentang penggunaan varietas benih padi yang tahan hama dan cocok untuk ditanam di kondisi lahan pada musim hujan. Selain itu, juga dibahas metode irigasi yang efisien untuk menjaga ketersediaan air selama masa pertumbuhan padi.

 

“Musim hujan menjadi waktu tanam yang strategis, namun tantangan seperti serangan hama dan penyakit juga meningkat. Oleh karena itu, pemilihan varietas benih padi yang tahan hama dan cocok untuk kondisi lahan basah menjadi faktor kunci dalam meningkatkan produktivitas dan ketahanan hasil panen,” jelas Kasmirah.

 

 

Lebih lanjut, Kasmirah merekomendasikan beberapa varietas padi unggul yang telah terbukti tahan terhadap serangan hama seperti wereng cokelat, penggerek batang, dan hawar daun bakteri, serta cocok untuk kondisi lahan di musim hujan. Di antaranya, Inpari 32, Ciherang, dan Inpari 42.

Selain benih dan irigasi, penggunaan pupuk dan pestisida juga menjadi bagian dari panduan teknis yang disampaikan. Penyuluh menyarankan penggunaan pupuk organik dan pestisida alami untuk menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Salah satunya dengan pembuatan mol (mikro organisme lokal). Kegiatan ini menggunakan bahan-bahan alami seperti rumen kambing, buah maja, air leri, dan tetes tebu. Pembuatan dekomposer ini diharapkan dapat mempercepat proses penguraian bahan organik pada lahan pertanian, sehingga meningkatkan kesuburan tanah.

“Pembuatan dekomposer dari bahan alami ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memanfaatkan limbah ternak dan sumber daya lokal yang mudah ditemukan di sekitar desa. Dengan menggunakan bahan-bahan alami seperti rumen kambing dan buah maja, kita tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga menjaga kualitas tanah agar tetap subur tanpa bahan kimia berbahaya,” tambahnya.

 

Menurut Kasmirah yang membimbing kelompok tani tersebut, proses pembuatan dekomposer ini cukup sederhana. Pertama, rumen kambing dicacah hingga halus dan dicampur dengan potongan buah maja yang sudah dihancurkan. Kedua, campuran tersebut diletakkan dalam wadah besar, kemudian ditambahkan air leri sebanyak 25 liter dan tetes tebu sebanyak 3 liter. Campuran ini diaduk rata hingga menjadi larutan dekomposer yang siap digunakan.

“Setelah semua bahan tercampur, adonan ini harus didiamkan selama kurang lebih 14 hari agar mikroorganisme di dalamnya berkembang dan siap digunakan sebagai dekomposer. Proses fermentasi ini akan menghasilkan mikroorganisme yang efektif dalam mempercepat pembusukan bahan organik di lahan pertanian,” jelasnya lagi.

 

Selain fokus pada aspek teknis pertanian, pertemuan kali ini juga membahas pengelolaan administrasi kelompok tani. Administrasi yang baik dianggap penting untuk memudahkan akses bantuan pemerintah, seperti subsidi pupuk, benih, dan alat-alat pertanian. Pengelolaan administrasi yang tertib juga diperlukan untuk pelaporan kegiatan kelompok dan perencanaan anggaran yang transparan.

 

Kasmirah menjelaskan, bahwa administrasi yang baik akan mempermudah kelompok tani dalam mendapatkan bantuan pemerintah. Ia juga menyarankan kelompok tani untuk memanfaatkan teknologi digital dalam mengelola data dan laporan keuangan.

 

“Administrasi yang tertib tidak hanya memudahkan kita mengakses bantuan, tapi juga menjadi bukti bahwa kelompok tani ini dikelola dengan profesional. Kami selaku penyuluh akan selalu mendukung penuh,” tambah beliau.

 

 

Lebih lanjut, beberapa aspek penting dalam administrasi yang dibahas meliputi pencatatan kegiatan, laporan keuangan, pembukuan aset kelompok, dan pelaporan rutin kepada instansi terkait. Administrasi yang baik juga memudahkan kelompok tani dalam merencanakan kegiatan secara lebih terstruktur dan transparan, termasuk dalam hal pembagian tugas antar anggota.

 

Kelompok tani yang administrasinya baik juga lebih mudah terhubung dengan program-program pemerintah yang berkelanjutan, seperti Program Kartu Tani atau bantuan alat-alat pertanian. Banyak program pemerintah yang mensyaratkan laporan tertulis dan dokumentasi lengkap dari kelompok tani. Jika administrasinya sudah rapi, akses ke program ini akan jauh lebih mudah,” ujarmya lagi.

 

Ketua kelompok tani, Nahrowi, menambahkan bahwa administrasi yang tertib tidak hanya bermanfaat dalam aspek formalitas, tetapi juga membantu kelompok tani dalam menjaga kepercayaan antar anggota.

“Dengan pencatatan yang jelas, semua anggota tahu bagaimana dana kelompok digunakan, sehingga tidak ada kecurigaan atau salah paham di antara kita,” katanya.

 

Acara ini ditutup dengan kesepakatan untuk segera memulai persiapan tanam, dimulai dari pembersihan lahan, pengaturan saluran irigasi, dan penyediaan benih. Selain itu, kelompok tani berkomitmen untuk memperbaiki dan menertibkan administrasi, sehingga semua anggota dapat menikmati manfaat dari kerjasama yang baik dan bantuan yang diberikan oleh pemerintah.

 

Anggota juga diberi kesempatan untuk berdiskusi dan mengajukan pertanyaan terkait kendala yang dihadapi dalam proses tanam padi pada musim-musim sebelumnya. Isu seperti serangan hama wereng dan ancaman saluran irigasi yang tidak terawat turut menjadi perhatian, dengan rencana tindak lanjut berupa kerja bakti membersihkan saluran air.

Seperti yang disampaikan oleh Bapak Daiman, beliau petani yang sangat getol menaman padi

“Hal yang tak kalah penting adalah jadwal tanam serempak. Hal ini dilakukan agar pengelolaan lahan lebih efisien dan meminimalkan serangan hama secara menyeluruh. Saya berharap anggota kelompok tani menyepakati untuk memulai penanaman setelah semua lahan siap dan benih tersedia,” tandas beliau.

 

Sejalan dengan hal tersebut, Bapak Muhtalim juga menyampaikan

“Pengelolaan air yang baik juga perlu perhatian. Ini penting agar tidak ada petani yang kekurangan air selama musim tanam. Sehingga perlu melakukan gotong royong memperbaiki saluran irigasi dan memastikan distribusi air merata di seluruh lahan,” tutur beliau.

 

 

Pertemuan yang berlangsung selama kurang lebih 2 jam ini, diakhiri dengan optimisme bahwa Musim Tanam 1 akan membawa hasil panen yang lebih baik dan pengelolaan kelompok tani akan menjadi lebih efisien dan profesional di masa depan. Dengan adanya pertemuan ini, diharapkan kelompok tani di wilayah Desa Turus dapat meningkatkan hasil produksi padi serta memperbaiki manajemen administrasi guna memperkuat organisasi kelompok tani secara keseluruhan. ––





Berita Purworejo

Counter Pengunjung