- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
Kawal PAT, Kadis KPP Dampingi Ubinan di Desa Dlangu

Kawal PAT, Kadis
KPP Dampingi Ubinan di Desa Dlangu
Musim tanam (MT) II padi kini sudah memasuki masa panen, bahkan di beberapa
lokasi ada yang sudah memulai musim tanam (MT) III. Desa Dlangu merupakan salah
satu pelaksana kegiatan Perluasan Areal Tanam (PAT) dan saat ini sudah memasuki
masa panen. Kegiatan PAT sendiri merupakan program untuk meningkatkan
produktivitas padi nasional melalui berbagai kegiatan, diantaranya adalah pompanisasi
di lahan tadah hujan.
Kamis, 5 September 2024 dilakukan ubinan di lokasi PAT. Kadis KPP
didampingi Kabid Sarlintan bersama Tim Satgas Darurat Pangan Kabupaten
Purworejo turut meninjau langsung hasil panen di lokasi PAT. Ubinan merupakan
salah satu metode dalam pertanian untuk mengetahui perkiraan dari jumlah hasil
yang akan diperoleh pada saat panen dalam satuan per hektar. Ubinan dapat
diterapkan dengan cara sederhana, cukup mengukur 2,5x2,5 meter untuk dijadikan
tolak ukur dari jumlah hasil per petak sawah yang ingin diketahui hasilnya.
Sehingga dengan metode pengubinan ini petani akan mengetahui perkiraan hasil
panen padi mereka sebelum di panen seluruhnya.
Ubinan dilakukan pada 3 titik sampel petak. Sampel pertama dan kedua
merupakan varietas Inpari 50 marem dengan hasil bobot ubinan 6,75 kg dan 6,21
kg menghasilkan rata-rata perkiraan hasil panen sebanyak 10,37 ton per hektar.
Sementara sampel ketiga dengan varietas Inpari 32 menghasilkan bobot 3,53 kg
atau setara dengan 5,64 ton per hektar. Inpari 32 dikenal di kalangan petani
dengan hasilnya yang tinggi, namun pada pertanaman ini terdapat penyakit jamur
sehingga hasilnya kurang maksimal.
Secara umum kendala yang dihadapi pada pertanaman MT II ini adalah jamur
dan hama penggerek batang padi. Dengan hasil yang ada saat ini, perlu adanya
tindakan preventif dari petani, monitoring, serta pengendalian secara berkala
dari petani bersama PPL dan POPT guna menekan serangan hama dan penyakit agar
potensi panen dapat dimaksimalkan.
Penulis: Jivana Zulfi, S.P.






