- Akselerasi Populasi Ternak, Program \"Subali Sapira\" Sukses Antarkan Sapi Peternak hingga Bunting
- Rangkaian Kegiatan Lapangan Program SUBALI SAPIRA DKPP
- MENUJU KEMANDIRIAN PANGAN, DUA PROYEK LUMBUNG PANGAN DI PURWOREJO RESMI SERAH TERIMA AKHIR
- Kelompok Tani Ngudi Makmur desa Clapar Giatkan Tanam Tembakau di Lahan Tegalan Sungai Bogowonto
- Gerakan Pengendalian Menggunakan Agen Hayati Ramah Lingkungan di Desa Kerep Kemiri
- RUMAH PANGAN KITA DKPP PURWOREJO SENANTIASA HADIR MENEMANI SETIAP JUM’AT PAGI
- PEMANTAUAN DISTRIBUTOR BAPOKTING OLEH PENGAWAS HARGA PANGAN DI KABUPATEN PURWOREJO
- Refilling Nitrogen Cair Guna Sukseskan Inseminasi Buatan Ternak
- Menyulam Ilmu di Hamparan Tembakau
- Gerakan Pengendalian Tikus Serempak di Lima Kecamatan Kabupaten Purworejo
Kawal PAT, Kadis KPP Dampingi Ubinan di Desa Dlangu

Kawal PAT, Kadis
KPP Dampingi Ubinan di Desa Dlangu
Musim tanam (MT) II padi kini sudah memasuki masa panen, bahkan di beberapa
lokasi ada yang sudah memulai musim tanam (MT) III. Desa Dlangu merupakan salah
satu pelaksana kegiatan Perluasan Areal Tanam (PAT) dan saat ini sudah memasuki
masa panen. Kegiatan PAT sendiri merupakan program untuk meningkatkan
produktivitas padi nasional melalui berbagai kegiatan, diantaranya adalah pompanisasi
di lahan tadah hujan.
Kamis, 5 September 2024 dilakukan ubinan di lokasi PAT. Kadis KPP
didampingi Kabid Sarlintan bersama Tim Satgas Darurat Pangan Kabupaten
Purworejo turut meninjau langsung hasil panen di lokasi PAT. Ubinan merupakan
salah satu metode dalam pertanian untuk mengetahui perkiraan dari jumlah hasil
yang akan diperoleh pada saat panen dalam satuan per hektar. Ubinan dapat
diterapkan dengan cara sederhana, cukup mengukur 2,5x2,5 meter untuk dijadikan
tolak ukur dari jumlah hasil per petak sawah yang ingin diketahui hasilnya.
Sehingga dengan metode pengubinan ini petani akan mengetahui perkiraan hasil
panen padi mereka sebelum di panen seluruhnya.
Ubinan dilakukan pada 3 titik sampel petak. Sampel pertama dan kedua
merupakan varietas Inpari 50 marem dengan hasil bobot ubinan 6,75 kg dan 6,21
kg menghasilkan rata-rata perkiraan hasil panen sebanyak 10,37 ton per hektar.
Sementara sampel ketiga dengan varietas Inpari 32 menghasilkan bobot 3,53 kg
atau setara dengan 5,64 ton per hektar. Inpari 32 dikenal di kalangan petani
dengan hasilnya yang tinggi, namun pada pertanaman ini terdapat penyakit jamur
sehingga hasilnya kurang maksimal.
Secara umum kendala yang dihadapi pada pertanaman MT II ini adalah jamur
dan hama penggerek batang padi. Dengan hasil yang ada saat ini, perlu adanya
tindakan preventif dari petani, monitoring, serta pengendalian secara berkala
dari petani bersama PPL dan POPT guna menekan serangan hama dan penyakit agar
potensi panen dapat dimaksimalkan.
Penulis: Jivana Zulfi, S.P.






