- JAMIN KEAMANAN PANGAN, SAMPEL PANGAN SEGAR ASAL TUMBUHAN (PSAT) DARI DUA PASAR TRADISIONAL DI PURWOREJO DISISIR DAN DIUJI RAPID TEST
- Kelompok Tani Rukun Tani dan Sumber Harapan, Panen Varietas Unggulan dengan Tantangan Cuaca dan Harga
- SELEKSI TENAGA FASILITATOR LAPANGAN KEGIATAN RJIT 2026
- Pelatihan Penguatan Kelembagaan Petani melalui Sekolah Lapang Tembakau di Kelompok Tani Ngudi Waluyo III Desa Keduren
- DKPP PURWOREJO SALURKAN BANTUAN PANGAN CPPD KE SEJUMLAH BNBA TERDAMPAK PUSO DAN KEKERINGAN DI DESA/KELURAHAN KECAMATAN PURWOREJO
- Gerak cepat tim kolaborasi tangani aduan masyarakat terkait pelaku usaha peternakan burung puyuh
- Pemeriksaan Ketat Bahan Pangan Asal Hewan: Langkah Nyata Wujudkan Keamanan Konsumen
- SUBALI SAPIRA (Suburkan Kembali Sapi Rakyat)
- DKPP Purworejo Kembali Pastikan Kualitas Kambing Jawa Randu untuk Penerima Hibah 2026
- KTNA Kecamatan Bener Gelar Pertemuan dan Tanam Benih Padi Metode PM-AAS
Kasus Abortus Pada Kambing Kaligesing
Penanganan Kasus Abortus Pada Kambing Kaligesing
Abortus merupakan kejadian dimana foetus/janin dilahirkan sebelum masa kebuntingannya terpenuhi. Pada ruminansia kecil seperti kambing dan domba masa kebuntingan berlangsung selama 150 hari. Banyak faktor yang menyebabkan kejadian abortus, bisa karena adanya infeksi, trauma fisik maupun nutrisi.
Pada tanggal 29 Agustus 2022 dilaporkan adanya seekor induk Kambing Kaligesing menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Kambing tersebut milik Bapak Bokir yang beralamat di Kalilo, Tlogoguwo, Kaligesing. Saat Medik Veteriner (dokter hewan) UPT PUSKESWAN sampai dilokasi dan kemudian memeriksa indukan kambing ditemukan fakta bahwa induk tersebut dalam kondisi kurus dan tidak mampu berdiri. Dari keterangan pemilik kambing
tersebut umur kebuntingannya baru 126 hari sehingga belum waktunya melahirkan. Berdasar hasil pemeriksaan ternyata saluran peranakan sudah terbuka dan ketuban telah keluar sehingga kemungkinan besar cempenya belum cukup umur.
Melihat kondisinya, alternatif pertama adalah menyelamatkan induknya dengan cara membantu mengeluarkan cempe dengan cara mereposisi secara manual sehingga cempe bisa dikeluarkan dari Rahim induk. Ternyata terdapat 3 ekor cempe dalam kondisi mati dimana yang dua ekor masih segar dan utuh sedangkan cempe yang satunya dalam keadaan membusuk. Fakta ini menunjukkan bahwa kemungkinan abortus ini terjadi akibat salah satu foetus (cempe) dalam kandungan mengalami kematian dan membusuk sehingga mencemari rahim induk. Kondisi Rahim yang tercemar menyebabkan kondisi yang tidak kondusif untuk tumbuh dan berkembangnya foetus dan kemudian terjadi aborsi.
Dengan melihat kondisi induk yang kurus dan foetus 3 ekor dalam kondisi mati dimana yang seekor sudah membusuk, kemungkinan besar aborsi ini dikarenakan tidak terpenuhinya nutrisi untuk mendukung pertumbuhan foetus dalam kandungan dan menjaga kondisi tubuh induk. Apalagi di fase akhir kebuntingan, pertumbuhan dan perkembangan foetus sangat cepat dan asupan membutuhkan energi yang tinggi untuk mendukungnya.
Tindakan selanjutnya adalah medikasi induk dengan antibiotik, multivitamin dan ATP. Kepada pemilik disampaikan saran untuk menambah porsi pakan untuk induk-induk yang sedang bunting sehingga asupan nutrisinya terpenuhi, induk kambing gemuk, sehat dan melahirkan cempe yang sehat.






