- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
Jaringan Irigasi: Fondasi Utama Produktivitas Pertanian dan Ketahanan Pangan

Jaringan Irigasi: Fondasi Utama Produktivitas Pertanian dan Ketahanan Pangan
_____________
# Sutoyo : Penyuluh Pertanian, Pegiat Literasi dan Pemerhati Pemberdayaan Petani
# CybersquadX BPP Bruno
# Bruno Gasspool on Fire
______________
Sikempong, Tegalsari – 16 April 2025
Kondisi jaringan irigasi di wilayah Sikempong, Desa Tegalsari, Kecamatan Bruno menunjukkan tanda-tanda kerusakan serius yang dapat mengancam produktivitas pertanian dan ketahanan pangan lokal. Berdasarkan pantauan lapangan Tim LTT BPP Bruno yang dikomandani Duwi Hartoto , S.S.T ditemukan bahwa papan informasi dan peil scale—alat ukur tinggi muka air—hilang sehingga tidak dapat memberikan informasi debit air yang mengalir. Selain itu, pintu-pintu pembagi air rusak dan tidak berfungsi optimal.
"Air sudah tidak dapat diukur dan diatur sebagaimana mestinya. Dengan kondisi seperti ini, status jaringan irigasi teknis sudah tak lagi layak dipertahankan. Ini bisa dikatakan sudah turun level menjadi irigasi setengah teknis," ujar seorang petugas lapangan yang enggan disebut namanya.
Jaringan irigasi teknis idealnya mampu mendistribusikan air secara terukur sesuai dengan kebutuhan tanaman baik dari segi jumlah maupun waktu. Namun kerusakan pada sistem kontrol seperti pintu air dan alat ukur membuat fungsi tersebut lumpuh total. Akibatnya, distribusi air menjadi tidak efisien dan berpotensi menurunkan produktivitas pertanian secara signifikan.
Padahal dalam konteks ketahanan pangan, pengelolaan air yang tepat adalah kunci. Tanpa kontrol yang baik terhadap debit dan waktu distribusi air, risiko gagal panen meningkat dan beban petani pun bertambah berat. Hal ini tentu bertentangan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
Pemerintah daerah dan dinas teknis terkait diharapkan segera turun tangan untuk melakukan rehabilitasi jaringan irigasi. Perbaikan harus dilakukan tidak hanya pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada sistem monitoring dan manajemen air.
"Tanpa air yang terukur dan teratur, mustahil kita bisa bicara soal produktivitas dan ketahanan pangan," tegas Duwi Hartoto.
Kejadian ini harus menjadi pengingat pentingnya keberlanjutan sistem irigasi sebagai fondasi utama dalam membangun sektor pertanian yang tangguh dan mandiri.






