- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
HADAPI MUSIM TANAM II, KTNA KECAMATAN KEMIRI ADAKAN EVALUASI MUSIM TANAM I TAHUN 2023/2024

HADAPI MUSIM
TANAM II, KTNA KECAMATAN KEMIRI
ADAKAN EVALUASI
MUSIM TANAM I TAHUN 2023/2024
KEMIRI KEREN NEWS –– Meskipun padi dapat
ditanam sepanjang tahun, pada dasarnya padi ditanam berdasarkan ketersediaan
air. Musim tanam adalah pedoman waktu tertentu yang dijadikan sebagai tahap
permulaan menanam. Musim tanam ini memiliki peran yang memungkinkan pelaku di
sektor pertanian mendapatkan anjuran budidaya tanaman, khususnya tanaman
pangan. Ada beberapa manfaat pentingnya menggunakan musim tanam padi sebagai
pedoman, yaitu; mengurangi resiko gangguan hama dan penyakit tanaman, sehingga
secara tidak langsung dapat menekan penggunaan pestisida serta mengurangi
resiko gagal panen atau puso, akibat kekurangan air, kebanjiran, roboh terkena
angin, dan lain sebagainya.
Hal tersebut disampaikan Koordinator BPP
Kecamatan Kemiri, Umul Khasunah, SP., MAP., dalam Pertemuan KTNA Kecamatan
Kemiri pada Selasa (14/05/2024) di Aula BPP Kecamatan Kemiri.
Beliau memaparkan, bahwa produksi atau hasil
panen diharapkan bisa maksimal, apabila ditanam pada waktu yang tepat. Sebab,
keberhasilan budidaya tanaman sangat dipengaruhi kondisi lingkungan. Sama
halnya dengan adanya fenomena El Nino ini, ternyata masih memberikan dampak di
wilayah Kecamatan Kemiri. Setelah beberapa waktu lalu memberikan dampak pada
kemunduran MT I hingga 2 bulan, sebagai imbasnya untuk MT II ini tentu
mengalami kemunduran juga.
“MT I yang mundur
menyebabkan serangan hama penyakit pada tanaman padi meningkat. Seperti yang
terjadi di Wilayah Kecamatan Kemiri, terjadi ledakan hama wereng. Bahkan untuk
gerakan pengendalian hama wereng sudah dilakukan sebanyak 21 kali,” tambah
beliau.
Selain anggota KTNA yang hadir berjumlah 37
orang, turut hadir dalam acara tersebut Kepala UPT PJI Wilayah Kemiri, Suparmono,
S.ST, perwakilan Camat Kemiri, Ketua KTNA Kecamatan Kemiri, yang
diwakili oleh Fajar Alwani, Penyuluh Pertanian, Koordinator BPP Kecamatan
Kemiri, Umul Khasunah, SP., MAP, dan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan
(POPT) Wilayah Kecamatan Kemiri, Sugiyo.
Ketua KTNA Kecamatan Kemiri, yang diwakili
oleh Fajar Alwani menyampaikan, sebagian wilayah Kemiri seperti Rowobayem,
Kemirikidul, Kerep dan sekitarnya, telah berhasil serta sukses melakukan
penanaman padi. Hal ini tentunya perlu kita dukung serta berikan apresiasi,
karena petani, secara tidak langsung telah ikut berkonstribusi secara nyata
dalam peningkatan luas tanam, produksi dan produktivitas pangan, khususnya padi
di MT II ini. Namun sebagian wilayah juga belum bisa tanam bahkan olah tanah
karena kendala air.
“Melalui pertemuan KTNA ini, kita evaluasi MT I yang sudah mundur
hingga 2 bulan guna mempersiapkan MT II supaya kendala di MT I tidak terjadi
lagi di musim tanam berikutnya,” tegasnya.
Menjawab hal tersebut, Kepala UPT PJI Wilayah Kemiri, Bapak Supamono,
S.ST menjelaskan, tidak memungkiri problematika di lapangan, khususnya wilayah
sawah yang mengandalkan Bendung Kalimeneng dimana sumber air sangat bergantung
pada curah hujan.
“Fenomena
El Nino tentu memberikan dampak pada curah hujan yang jauh berkurang sehingga
menyebabkan volume air di Bendung Kalimeneng juga sangat kecil, imbasnya MT I
mengalami kemunduran,” tutur beliau.
Pihaknya juga sudah mengusahakan penambahan
debit air untuk aliran wilayah DI Kalimeneng Kanan yang bersumber dari Waduk
Wadaslintang sebanyak 6 kubik yang terbagi untuk 2 kecamatan yaitu Kutoarjo dan
Kemiri. Adapun jadwal
pembagiannya, 3 hari untuk wilayah Kemiri dan 3 hari untuk wilayah Kutoarjo.
“Terkait kerusakan infrakstruktur
saluran sekunder menjadi kewenangan pusat (Kementerian PUPR), baik itu
perbaikan ataupun rehabilitasi, sedangkan UPT PJI wilayah Kemiri hanya bisa
mendorong aspirasi masyarakat yang terimbas dari kerusakan saluran sekunder tersebut,”
tambahnya lagi.
Suparmono menegaskan, untuk persiapan tanam di
MT II ini, pihaknya sudah mengupayakan lagi untuk penambahan debit air, yang
sebelumnya hanya mendapat 3 kubik, saat ini ditambah 1 kubik sehingga menjadi 4
kubik dengan kecepatan aliran 1.200 liter/detik.
Dalam kesempatan yang sama, Petugas
Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Wilayah Kecamatan Kemiri,
Sugiyo menuturkan bahwa, terkait pengendalian hama wereng yang sedang meledak
di wilayah Kemiri imbas dari El Nino, pihaknya bersama penyuluh pertanian
setempat akan membantu semaksimal mungkin. Beliau juga meminta kepada petani
untuk melakukan pengamatan secara kontinue. Jika sudah ada indikasi serangan hama
ataupun penyakit tanaman diatas ambang batas pengendalian, segera menghubungi penyuluh
wibi masing-masing atau Petugas POPT setempat.
“Intensitas serangan
melebihi ambang batas pengendalian untuk hama wereng yaitu 3 ekor per rumpun.
Jadi jika petani menemukan ada indikasi adanya hama dengan intensitas serangan
melebihi ambang batas pengendalian, segera untuk melaporakan dan koordinasi
untuk gerakan pengendalian,” tambahnya.
Seperti yang dipaparkan, Sugiyo mengatakan
bahwa, gerakan pengendalian yang telah dilakukan hanya sebatas stimulan, yang
artinya tanpa pengendalian yang serempak dari petani sendiri, hama wereng ini
akan sulit dikendalikan dengan efektif.
Di akhir acara, Koordinator BPP Kecamatan
Kemiri mendorong pihak KTNA untuk segera berkoordinasi dengan petugas irigasi
wilayah Kemiri Timur yang meliputi DI Loning dan DI Rebug untuk menghadapi MT II.
Beliau juga menyarankan kepada petani di MT II ini, untuk tanam padi umur
pendek, guna mensiasati kemunduran musim tanam dengan harapan di musim tanam
berikutnya, petani masih bisa tanam padi. --






