Hadapi Cabai mahal, Penyuluh BPP Grabag Gandeng PT. Bayer Corp Science Yogya Guna Bekali Petani

By DINPPKP 11 Des 2023, 08:01:10 WIB Penyuluhan
Hadapi Cabai mahal, Penyuluh BPP Grabag Gandeng PT. Bayer Corp Science Yogya Guna Bekali Petani

HADAPI CABAI MAHAL, PENYULUH PERTANIAN GRABAG

GANDENG PT BAYER CORP SCIENCE, YOGYAKARTA

BEKALI PETANI TENTANG PENGELOLAAN TANAMAN CABAI

 

GRABAG NEWS – Seperti yang kita ketahui, cabai merupakan salah satu komoditas pertanian paling atraktif. Pada saat- saat tertentu, harganya bisa naik berlipat- lipat. Pada momen lain bisa turun hingga tak berharga. Hal ini membuat budidaya cabai menjadi tantangan tersendiri bagi para petani. Disamping fluktuasi harga, budidaya cabai cukup rentan dengan kondisi cuaca dan serangan hama. Untuk meminimalkan semua resiko tersebut, biaya untuk budidaya cabai bisa dikatakan cukup tinggi.

Hal tersebut disampaikan Kepala Desa Patutrejo, Kecamatan Grabag, yang diwakilkan oleh Bapak Sugino, pada pertemuan rutin Serikat Petani Cabai Urut Sewu Grabag, pada Rabu Malam (06/12/2023) di Desa Patutrejo, Kecamatan Grabag

“Walaupun saat ini biaya produksi untuk tanaman cabai bisa dikatakan sangat tinggi, kisaran Rp 35.000/batang tetapi Alhamdulillah kita masih bisa meraup keuntungan,” ungkap beliau mengawali sambutannya.

 

Menurut beliau, sistem penjualan satu pintu atau lelang merupakan langkah yang baik. Sistem lelang ini memerlukan keseragaman varietas, kualitas buah cabai yang bagus, volume tinggi dan kontinuitas. Hal ini terbukti nyata, sistem penjualan seperti ini bisa mendongkrak harga sampai kisaran Rp 1000 – 2000/kg, dibandingkan jika petani menjual sendiri ke pedagang.

Harga cabai yang melambung tinggi tentu akan memberi semangat baru bagi petani cabai.  Diharapkan anggota Serikat Petani Cabai Urut Sewu Grabag, dapat mengikuti acara ini dengan baik dan dapat memberikan manfaat kepada petani yakni memberikan informasi dan inovasi untuk meningkatan baik kualitas maupun kuantitas cabai yang ditanam petani.                 

 

“Melalui pertemuan rutin Serikat Petani Cabai Urut Sewu Grabag ini, harus semaksimal mungkin dapat dimanfaatkan petani untuk membahas permasalahan serta berdiskusi untuk mencari pemecahan masalah bersama- sama. Serikat Petani Cabai Urut Sewu Grabag ini, sebagai kelembagaan juga harus selalu aktif sebagai wadah untuk komunikasi antar petani dengan melakukan pertemuan rutin”, imbuhnya lagi.

 

Turut hadir dalam acara tersebut Penyuluh Wibi Desa Patutrejo, Suharyanto, A.Md selaku narasumber, KPL Karunia Padi, Suhardi dan perwakilan PT. Bayer Crop Science, Yogyakarta, Fachri. Acara tersebut diikuti oleh 100 anggota dari Desa Harjobinangun, Patutrejo, Ketawangrejo, Munggangsari, Pasaranom, Ukirsari dan Kertojayan yang tergabung dalam Serikat Petani Cabai Urut Sewu Grabag.

Acara dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Penyuluh Wibi Desa Patutrejo, Suharyanto, A.Md. Menurut narasumber, dalam budidaya cabai, yang menjadi kunci adalah pemilihan lahan dan ketersediaan air. Selain itu, pengolahan tanah juga penting seperti pembersihan sisa tanaman atau gulma, pembuatan bedengan, pengapuran, pemupukan dasar, dan penutupan mulsa,” tuturnya.

 

Pada musim hujan, sebaiknya jarak tanam cabai dibuat lebih lebar misalnya 40 x 45cm, atau 50cm x 60cm agar sinar matahari lebih banyak masuk dan mudah untuk melakukan penyemprotan. Penguatan bibit cabai juga harus diperhatikan, penanaman lebih baik dilakukan pada sore hari karena intensitas matahari tidak terlalu tinggi agar lebih survive,” ujarnya.

 

Beliau juga menambahkan, hal penting lainnya yang harus diperhatikan saat menanam cabai adalah pemilihan varietas yang diterima pasar, mempunyai produktivitas yang tinggi, sesuai kondisi lahan dan mempunyai keunggulan toleran terhadap hama dan penyakit.

 

Pemilihan waktu tanam cabai adalah sesuatu yang sangat penting. Sukses tidaknya budidaya atau usahatani cabai seringkali ditentukan juga oleh pemilihan waktu tanam yang tepat. Pertimbangan dalam memilih waktu tanam ada kaitannya dengan ketersediaan air, serangan hama penyakit serta kondisi pasar (harga),” tandas beliau.

 

Pada beberapa daerah atau lokasi ada yang memulai menanam cabai di awal musim penghujan. Hal ini dikarenakan lokasi lahan tersebut susah air atau bahkan tidak memiliki sumber air. Jenis lahan yang biasa ditanami cabai di musim hujan adalah lahan tegalan. Biasanya menjelang musim hujan, persiapan tanam berupa olah tanah sudah dilakukan. Selanjutnya tinggal menunggu datangnya hujan baru dilakukan penanaman. Menanam cabai di musim hujan, sebenarnya bukan tanpa resiko. Hal ini disebabkan akan terdapat kendala-kendala yang musti dihadapi petani, seperti serangan penyakit terutama layu, angin kencang yang berpotensi merusak tanaman serta potensi gagalnya penyerbukan.

“Sama halnya menanam cabai di musim penghujan, menanam cabai di musim kemarau juga terdapat beberapa kendala antara lain kendala kekeringan, ledakan hama serta serangan virus yang dahsyat. Terdengar seperti mengerikan memang, namun ini adalah fakta. Terutama saat ini hama sudah semakin kebal dan susah dikendalikan,” papar beliau lagi.

 

Ditambahkan lagi, menanam cabai di musim kemarau biasanya dilakukan pada sawah dengan irigasi teknis. Jadi walaupun nantinya kondisi cuaca panas, namun tanaman cabai masih memperoleh supai air yang cukup. Jadi, sebelum memutuskan akan tanam cabai di musim kemarau atau musim hujan, coba lihat apakah sudah sesuai kondisi lahan anda agar tanaman cabai bisa tumbuh baik kemudian bisa panen optimal atau maksimal.

 

Dalam kesempatan yang sama, perwakilan PT. Bayer Crop Science, Yogyakarta, Fahri menyampaikan bahwa PT. Bayer Crop Science, Yogyakarta mendukung petani cabai dari sisi sarana produksi berupa obat-obatan yang ramah lingkungan dengan harga terjangkau, serta melakukan demplot percontohan untuk tanaman cabai bagi petani.

“Pemantauan rutin merupakan kunci utama mendeteksi serangan hama sejak dini, tapi tidak semua orang bisa melakukan hal ini dengan baik. Pastikan juga untuk menjaga lahan agar selalu tetap bersih dan bebas dari sisa- sisa tanaman yang mati atau busuk. Hama sering berkembang biak di tempat- tempat yang kotor,” tandasnya.

 

Beliau juga memaparkan, penggunaan pestisida merupakan pilihan terakhir dalam pengendalian hama. Jika serangan hama terlalu parah dan tidak dapat diatasi dengan cara lain, maka dapat dipertimbangkan dengan penggunaan pestisida kimia. Namun, pastikan untuk menggunakan pestisida yang aman sesuai dengan petunjuk label.





Berita Purworejo

Counter Pengunjung