- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
- JARINGAN IRIGASI TERSIER (PITER) TA. 2026
GERAKAN PENGENDALIAN WERENG BATANG COKLAT DI WILAYAH KECAMATAN KUTOARJO
GERAKAN PENGENDALIAN WERENG BATANG COKLAT DI WILAYAH KECAMATAN KUTOARJO
Tanaman Padi merupakan salah satu komoditas utama yang dibudidayakan oleh petani di desa Karangwuluh Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo. Padi adalah komoditas unggulan yang pola tanamanya dua kali dalam musim tanam I dan musim tanam II. Padi merupakan komoditas ungulan karena aliran air di Desa Karangwuluh menggunakan irigasi tersier yang ketersediaan airnya cukup baik.
Dengan Pola tanam yang dibudi dayakan Petani di Kecamatan Kutoarjo Sebagian besar Padi – Padi – Palawija. Maka rantai ekosistem untuk organisme pengganggu tanaman bisa dikatakan tidak terputus sepanjang tahun. Pada musim tanam II yang dimulai pada bulan April 2023, petani melakukan budidaya tanaman padi dengan berbagai jenis varietas tanaman padi, antara lain yakni Ciheang dan Ketan IR.
Pada pengamatan yag dilakukan oleh petugas POPT (Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman) kecamatan Kutoarjo, ketika padi berusia 45-60 hst, organisme penganggu yang muncul yakni walang sangit. Sembari petugas mengawasi penyebaran serangan walang sangit, di beberapa tempat terlihat ada populasi Wereng Batang Coklat. Rata-Rata tanaman terserang wereng pada usia 80-95 hst. Penyebaran OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) utama tanaman padi ini disebabkan oleh perubahan cuaca yang tidak menentu. Selain itu juga petani masih enggan melakukan system tanam dengan metode Jajar Legowo dan menggunakan padi dengan benih bersertifikat.
Serangan Wereng Batang Coklat menjadi parah pada beberapa wilayah yang dinyatakan sebagai wilayah endemis Wereng Batang Coklat, seperti di wilayah lahan sawah Desa Karangwuluh, Desa Kebondalem, Desa Pringgowijayan, Desa Kiyangkongrejo, Desa Tuntungpait, dan Desa Kepuh.
Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens) sampai saat ini masih dianggap sebagai hama utama pada pertanaman padi utama pada pertanaman padi. Penggunaan Pestisida yang melanggar kaidah-kaidah PHT( Tepat jenis, tepat dosis dan tepat waktu aplikasi) turut memicu ledakan wereng coklat.
Hal ini juga merupakan konsekuensi dari penerapan Sistim Intensifikasi padi (Varietas unggul, pemupukan N Dosis tinggi, penerapan IP 200 dan sebagainya) Kerusakan yang disebabkan dapat terja di secara langsung maupun secara tidak langsung. Secara langsung karena kemampuan serangga wereng coklat mengisap cairan jaringan tanaman padi sehingga tanaman menjadi kering dan akhirnya mati. Secara tidak langsung karena serangga wereng coklat dapat menjadi Virus penyakir Kerdil rumput dan kerdil hampa.
Gejala yang tampak dari serangan dari serangan Wereng Coklat dapat terlihat dari daun yang menguning kemudian tanaman mengering dengan cepat ( seperti terbakar ). Gejala ini dikenal dengan istilah hoperbum. Dalam suatu hamparan gejala hopperbum terlihat sebahai bentuk lingkaran yang menunjukan pola penyebaran wereng Coklat yang dimulai dari satu titik kemudian menyebar ke segala arah dalam bentuk lingkaran. Dalam keadaan seperti ini populasi wereng coklat biasanya sudah sangat tinggi
Langkah-Langkah pencegahan hama wereng coklat secara umum dapat dilakukan dengan cara menggunakan varietas tahan, penanaman padi serempak dengan jarak tanam yang tidak terlalu rapat, pergiliran Varietas dan pengendalian dengan Insektisida.
Namun dengan melihat gejala kerusakan yang diakibatkan pada tanaman padi dipetakan sawah yang dapat mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit, maka pemberantasan hama ini perlu dilakukan dengan cara preventif, kuratif dan represif.
Tindakan Preventif, bisa dilakukan dengan; tanaman padi serentak, pengamatan wereng coklat, perangkap lampu
Sedangkan Tindakan Kuratif adalah tindakan pengendalian hama wereng coklat dengan cara menggunakan Insektisida yang direkomendasikan. Tindakan ini bukan merupakan langkah pencegahan lagi tetapi langkah pembasmian. Langkah ini bisa dilakukan dengan menggunakan insektisida berbahan aktif, Buprofen, BPMC, Pifronil, amitraz, carbupuran, dll. Penggunaan insektisida cair disemprotkan setiap seminggu sekali atau setiap 10 hari
Dengan banyaknya populasi Wereng Batang Coklat yang sudah melebihi ambang batas pengendalian, Petugas POPT bersama dengan PPL berkoordinasi dengan Kelompok Tani melaksanakan Gerakan Pengendalian Wereng Batang Coklat dengan beberapa cara. Salah satunya dengan menggunakan insektisida, seperti yang dilaksanakan oleh Kelompok Tani Maju Makmur Desa Karangwuluh, gerakan pengendalian dilakukan oleh 15 orang petani pada pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB. Petani kompak melakukan Gerakan Pengendalian (Gerdal) dengan menggunakan insektisida berbahan aktif Dimehipo 410 g/l. Cara kerja insektisida jenis ini adalah insektisida sistemik, racun kontak dan lambung. Adapun petunjuk penggunaan sebagai berikut:
- Gunakan air lapang biasa yang tidak mengandung lumpur dan kotoran lainnya. Bila perlu siapkan air satu malam sebelum penyemperotan agar lumpur dan kotoran lainnya mengendap.
- Waktu aplikasi pagi hari sebelum jam 9 atau sore hari setelah jam 4.
- Lakukan penyemperotan pada waktu cuaca cerah dan diperkirakan hujan tidak turun dalam waktu 4-6 jam setelah penyemperotan
- Gunakan dosis dan volume semperot yang dianjurkan
- Volume semperot: 500 l/ha.






