- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
GANDENG PENYULUH PERTANIAN PADA KEGIATAN P5 , SISWA-SISWI SMP 28 PURWOREJO SEMANGAT MANFAATKAN SAMPAH ORGANIK MENJADI PUPUK

GANDENG PENYULUH PERTANIAN PADA KEGIATAN P5 , SISWA-SISWI SMP 28 PURWOREJO SEMANGAT MANFAATKAN SAMPAH ORGANIK MENJADI PUPUK
Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau dikenal dengan istilah P5 adalah pembelajaran lintas disiplin ilmu dalam mengamati dan memikirkan solusi terhadap permasalahan di lingkungan sekitar untuk menguatkan berbagai kompetensi dalam Profil Pelajar Pancasila.
Profil Pelajar Pancasila sendiri dirumuskan dengan enam dimensi kunci yakni (1) Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia; (2) Berkebinekaan global; (3) bergotong royong; (4) mandiri; (5) bernalar kritis; (6) kreatif. Perwujudan dari keenam dimensi tersebut dalam Kurikulum Merdeka disebut projek penguatan Profil Pelajar Pancasila. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) merupakan upaya untuk mendorong tercapainya Profil Pelajar Pancasila dengan menggunakan paradigma baru melalui pembelajaran berbasis projek.
Melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), peserta didik dikenalkan dengan beragam tema dan isu yang ada di sekeliling mereka. Projek penguatan Profil Pelajar Pancasila diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk “mengalami pengetahuan” sebagai proses penguatan karakter, sekaligus kesempatan untuk belajar dari lingkungan sekitarnya.
pada hari Kamis, 11 Januari 2024 bertempat di Aula SMP 28 Purworejo pada hari Kamis, 11 Januari 2024, dilaksanakan sosialisasi praktek pembuatan pupuk organik dengan metode ember tumpuk. Hadir pada acara ini, seluruh PPL Kecamatan Butuh, Dewan Guru kelas 7 dan 8 serta siswa-siswi SMP 28 Purworejo sejumlah 400 murid yang terdiri dari seluruh kelas 7 dan 8. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menyosialisasikan pemanfaatkan limbah sampah organik untuk dijadikan pupuk menggunakan metode ember tumpuk. Manfaat yang diharapkan dari kegiatan ini adalah siswa-siswi tahu, mau dan mampu dalam memanfaatkan sampah-sampah organik di lingkungan sekitar dengan membuangnya ke dalam instalasi ember tumpuk, sehingga selain menjaga kebersihan lingkungan juga hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair, padat dan maggotnya dapat dijadikan pakan ternak atau ikan.
Acara diawali dengan Sambutan dari salah satu dewan Guru yang menyampaikan potensi sampah organik yang ada di lingkungan sekolah maupun rumah masing-masing sangat banyak. Namun, sampah organik tersebut belum dimanfaatkan dengan baik tetapi hanya menjadi sampah yang mencemari lingkungan. “Harapan Kami setelah adanya pelatihan ini siswa-siswi bersemangat untuk mengolah sampah organik yang dimilki menjadi pupuk organik cair dan padat yang dapat diapikasikan pada tanaman yang dimiliki, sehingga dapat menambah nutrisi dan hara bagi tanah dan tanaman budidaya”.
Acara selanjutnya diisi oleh salah satu PPL yaitu Jivana Zulfi, S.P. yang menyampaikan tentang teori pemanfaatan sampah organik menjadi pupuk dengan metode ember tumpuk. Kegiatan dilanjutkan dengan praktek pembuatan instalasi ember tumpuk oleh setiap siswa yang sudah dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang masing-masing beranggotakan 8 orang siswa. Prarktek dilakukan dengan pendampingan Bpk/Ibu Guru dan seluruh PPL yang hadir.
Alat dan bahan yang digunakan antara lain:
1. 2 Buah Ember
2. Pisau, solder, gunting
3. Kran Air
4. Lem Pipa
5. Sampah Dapur (Limbah Buah untuk 2 minggu awal, setelah 2 minggu bisa dimasukkan nasi sisa)
Metode Pembuatan Ember Tumpuk:
a. Ember Bagian Bawah
Berfungsi sebagai penampung lindi, yang kemudian akan diolah menjadi pupuk organik cair.
1. Melakukan pemasangan kran (kran dispenser yang ada seal ganda dipilih agar rapat) dengan posisi di samping bawah ember, sekitar 5 cm di atas dasar.
2. Tutup ember dipotong, diambil bagian tepinya saja, digunakan sebagai penyangga ember atas.
b. Ember Bagian Atas
Berfungsi sebagai penampung sampah yang di olah.
1. Membuat lubang-lubang kecil (diameter 5 mm) sebanyak mungkin pada bagian bawah untuk pengatusan.
2. Membuat lubang kecil sebanyak empat buah (diameter 5 mm), pada bagian samping atas ember di bawah tutup. Fungsi lubang kecil tersebut untuk mengatur sirkulasi udara dan tempat masuk telur atau larva muda yang baru saja menetas.
Cara kerja ember tumpuk :
1. Sampah organik sisa sampah rumah tangga dimasukkan secara berkala ke dalam ember, apa adanya, tidak perlu dipotong-potong atau dicuci. Ember ditutup kembali hingga rapat. Suasana panas dan lembab di dalam ember membuat mikrobia bawaan dari sampah rumah tangga akan cepat berkembang.
2. Lindi yang dihasilkan dibiarkan saja di dalam ember bawah selama kurang lebih satu bulan. Setelah itu baru dapat diteruskan proses pematangan menjadi pupuk organik cair (POC). Proses pematangannya yaitu dengan cara membuka kran, Kemudian lindi dimasukkan ke dalam botol bening, separuh saja, tutup dikendorkan, kemudian dijemur di terik matahari sampai warna berubah menjadi hitam coklat dan aroma lembut di hidung.
3. POC yang sudah jadi dapat dipakai dengan cara diencerkan menjadi 5%, sekitar tiga sendok makan POC ditambahkan 1 liter air. POC dapat pula disimpan dalam drum untuk digunakan pada musim berikutnya.
4. Kompos, dapat dipanen secara berkala (Yowono 2016). Kompos yang dihasilkan dapat ditiriskan dan diayak untuk dipakai langsung. Kompos dapat juga dipakai sebagai sumber mikroba perombak untuk pengomposan bahan yang lain seperti kotoran kandang ternak atau dedaunan.






