Eksplorasi Jamur Thricoderma Sp. Sebagai Biang Agensia Hayati pada kegiatan Pemberdayaan Petani Pemasyarakatan PHT (P4)

By DINPPKP 17 Feb 2022, 15:17:09 WIB Penyuluhan
Eksplorasi Jamur Thricoderma Sp. Sebagai Biang Agensia Hayati pada kegiatan Pemberdayaan Petani Pemasyarakatan PHT (P4)

Eksplorasi Jamur Thricoderma Sp. Sebagai Biang Agensia Hayati pada kegiatan Pemberdayaan Petani Pemasyarakatan PHT (P4)

Pengendalian Hama Terpadu (PHT) menjadi salah satu program pemerintah yang digalakkan untuk terwujudnya sistem pertanian berkelanjutan agar dapat menopang kebutuhan pagan umat manusia di masa depan. Salah satu hal penting dalam PHT adalah penggunaan pestisida sintetik apapun jenisnya menjadi sangat terbatas, digunakan apabila benar-benar diperlukan saja dan dalam jumlah yang terbatas. Pengendalian lainnya seperti secara kultur teknis, pengendalian fisik, dan pengendalian biologi menjadi teknik yang lebih didahulukan atau diprioritaskan. Sayangnya banyak petani yang khususnya di Desa Candingasinan, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo yang belum memahami hal tersebut dan malah menggunakan fungisida sintetik sejak awal tanam dengan alasan pencegahan atau tindakan pengendalian preventif. Padahal pengendalian preventif terutama yang berkaitan langsung dengan perlakuan terhadap tanaman dapat dilakukan dengan pengendalian biologi mislanya penggunaan fungisida hayati. Fungisida hayati adalah fungisida yang mengandung mikroorganisme sebagai agens pengendali hayati sehingga tidak memanfaatkan bahan aktif. Fungisida hayati sangat baik terutama bagi keberlangsungan ekosistem karena tidak menimbulkan resistensi pada target sasaran dan juga relatif lebih aman karena tidak meninggalkan residu berupa bahan kimia berbahaya pada produk pertanian. Lebih dari itu, fungisida hayati adalah ciri dari sebuah pengendalian organisme pengganggu tanaman yang berkelanjutan.

Jamur Trichoderma sp. adalah salah satu jenis jamur antagonis yang dapat digunakan sebagai fungisida hayati bagi tanaman. Jamur ini telah banyak diuji efetivitasnya dalam mengendalikan jamur patogen tumbuhan. Hartal dkk. (2010) melaporkan jamur Trichoderma sp. merupakan agen antagonis yang cukup efektif untuk menghambat perkembangan patogen Fusarium oxysporumyang merupakan penyebab penyakit layu pada tanaman krisan. Selain itu jamur ini juga mampu menyediakan unsur hara tanaman yang diperlukan untuk mendukung pertumbuhan organ vegetatif maupun reproduktif melalui proses dekomposisi bahan organik yang diberikan pada media tanam.

Eksplorasi adalah kegiatan untuk memperoleh jamur Trichoderma sp dari alam. Kegiatan Eksplorasi Trichoderma spp. bisa dilakukan dengan mengambil sampel tanah di habitatnya yaitu tanah disekitar perakaran tanaman yang tampak subur, perakaran bambu, tanah subur/humus di hutan. Metode yang digunakan biasanya menggunakan cara pengenceran terhadap sampel tanah sampai 10-3kemudian ditumbuhkan pada media PDA dalam cawan petridish. Jamur yang tumbuh pada media tersebut biasanya ada beberapa macam koloni jamur, koloni yang diduga jamur Trichoderma dengan ciri berwarna hijau/hijau keabuan diisolasi dan dimurnikan. Hasil eksplorasi dengan cara ini adalah berupa isolate murni jamur Trichoderma Sp.

Cara Eksplorasi lainnya yaitu dengan menggunakan umpan makanan yang disukai Trichoderma spp seperti: blimbing wuluh yang sudah tua, jagung rebus, daging buah kelapa tua dan media nasi. Langkah yang dilakukan yaitu mencari tanah yang diduga mengandung jamur Trichoderma spp seperti kriteria tersebut di atas. Tanah disortasi dan dibersihkan dari kotoran kayu, batu dll, kemudian dimasukkan ke dalam wadah plastik atau lainnya sesuai umpan yang dipilih, umpan diletakkan pada wadah yang telah berisi tanah sampel/terpilih kemudian diletakkan pada tempat yang lembab.

Bapak Yatimin selaku alumni anggota penerapan pengendalian hama terpadu (PPHT), anggota kelompok tani Ngudi Makmur Jaya dan pelaku utama dalam penggunaan agensia hayati ini menjadi salah satu alasan direktorat Perlindungan Tanaman menunjuk Kelompok Tani ini untuk melaksanakan kegiatan Pemberdayaan Petani Pemasyarakatan PHT (P4).

Kegiatan ini mengharuskan petani untuk lebih mandiri dalam membuat agensi hayati dari pencarian biang hingga pengaplikasian. Percobaan pencarian dilaksanakan pada hari Rabu, 16 Februari 2022 Bersama dengan anggota kelompok tani, turut didampingi Ibu Wakhidatun Jamaliyah selaku POPT Kec Banyuurip,Arga Bramantyo Ajie selaku PPL Wibi Candingasinan, Noormia Satyapeni dan Dianna Cholida selaku PPL Banyuurip melaksanakan eksplorasi jamur Thricoderma Sp di bawah tanaman bamboo. Pengambilan jamur dilakukan dengan bahan berupa bamboo yang diberi nasi sebagai media jamur tumbuh, serta menggunakan kelapa sebagai bahan tumbuh jamur, media yang digunakan sejumlah 5 bahan yaitu 2 kelapa dan 3 bambu. Kedua bahan di tanam atau di pendam di dalam tanah disekitar tumbuhan bamboo dengan harapan bisa didapatkan jamur thricoderma Sp. Dalam jumlah banyak.

Hasil dari eksplorasi bisa diliihat setelah 10 hari hingga 15 hari setelah penanaman tergantung dari banyaknya jamur yang telah tumbuh. Jamur thricoderma Sp. Yang diharapkan memiliki ciri-ciri berwarna hijau. Setelah dilakukan eksplorasi selanjutnya jamur yang telah didapatkan, selanjutnya dimurnikan di LAB Hama Penyakit Temanggung untuk didapatkan jamur Trichoderma Sp. Secara murni untuk selanjutnya bisa digunakan sebagai isolate untuk perbanyakan dan untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman.

 

            By : Arga Bramantyo Ajie

Penyuluh Pertanian Lapangan Banyuurip

 

 





Berita Purworejo

Counter Pengunjung