DUKUNG TRANSFORMASI PETANI MILENIAL, DPD PERHIPTANI PURWOREJO ADAKAN DISKUSI PANEL

By DINPPKP 18 Agu 2023, 14:14:53 WIB Kegiatan
DUKUNG TRANSFORMASI PETANI MILENIAL, DPD PERHIPTANI PURWOREJO ADAKAN DISKUSI PANEL

DUKUNG TRANSFORMASI PETANI MILENIAL, DPD PERHIPTANI PURWOREJO ADAKAN DISKUSI PANEL

Bertempat di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Purworejo, pada Selasa 16 Agustus 2023 diselenggarakan Diskusi Panel bertajuk “Petani Milenial, Antara Harapan dan Kenyataan. Kegiatan ini terselenggara berkat dukungan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo, DPD Perhiptan dan Komisi Penyuluhan Kabupaten Purworejo. Kegiatan ini diikuti oleh Kepala Bidang Prasarana dan Penyuluhan Pertanian, DPP Perhiptani (semua anggota Perhiptani Kabupaten Purworejo), Komisi Penyuluhan Kabupaten Purworejo, KTNA Kabupaten Purworejo, Petani milenial Kabupaten Purworejo yang mengikuti acara secara offline maupun online di BPP se Kabupaten Purworejo serta peserta umum, terdiri dari formulator dan mahasiswa.

Totok Fitrianto selaku ketua panitia diskusi panel ini menyampaikan bukan yang pertama kali DPP Perhiptani Kabupaten Purworejo mengadakan acara semacam ini, harapannya kegiatan ini dapat memberikan semangat dan warna baru bagi pertanian di Kabupaten Purworejo.  “Dengan digelarnya kegiatan diskusi panel ini diharapkan menjadi sebuah era kebangkitan baru, bagi DPP Perhiptani melalui kolaborasi dengan beberapa pihak terkait, diharapkan kedepan DPP Perhiptani Kab. Purworejo bisa kembali berjaya bersama-sama dengan petani Purworejo dan milenialnya”, ujarnya.

Arie Sulistyani selaku Kabid Prasarana dan Penyuluhan Pertanian menyampaikan ucapan terima kasih atas terselenggaranya acara diskusi panel yang membahas tentang Petani Milenial Kabupaten Purworejo, di mana petani milenial merupakan solusi pertanian di masa depan sehingga perkembangannya harus dilanjutkan dan diperjuangkan seiring dengan perkembangan teknologi pertanian di era digital dan krisis tenaga kerja bidang pertanian.

“Perkembangan teknologi sektor pertanian yang cepat perlu diimbangi dengan regenerasi SDM pertanian yang cepat pula. Inilah pentingnya memperkenalkan dunia pertanian kepada generasi muda sejak dini. Tidak hanya milenial, kini pertanian juga menjadi sesuatu yang dekat dengan gen Z”, tambahnya.

Bertugas sebagai moderator Febtory Setyo Harsanti, SP, MMA menyampaikan Pertanian di Indonesia adalah salah satu roda penggerak utama perekonomian nasional. Selain menghasilkan bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sektor pertanian juga diharapkan selalu melakukan penelitian dan pengembangan terutama dalam hal produktivitas baik dihulu maupun dihilirnya. Saat ini sektor pertanian Indonesia dari sisi produksi merupakan sektor kedua paling berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, setelah industri pengolahan. Posisi sektor pertanian masih di atas sektor lainnya, seperti perdagangan maupun konstruksi. Sektor pertanian terus memberi kontribusi positif untuk perekonomian Indonesia. Kondisi ini tak lepas dari road map pertanian yang sudah disusun pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia tahun 2045.

Ir Amin Sutaryo (Komisi Penyuluhan Mantan Kepala BIPP Balai Informasi Penyuluhan Pertanian) sebagai panelis pertama menampilkan video kunjungan ke peternakan Ocano Mochi Farm di Ngaglik Gebang dan M Nur dari Kebumen yang mengelola bunga matahari. Petani milenial harus mengubah mindset tentang pertanian. Misalnya soal lahan yang sempit sebagai kendala utama, hal tersebut harus diubah. Karena lahan sempit sejatinya bukan halangan, dapat disiasati dengan mengintegrasikan semua kegiatan pertanian, salah satunya dengan metode hidroponik.

Amin juga menambahkan bagi petugas penyuluh pertanian dituntut menguasai perkembangan teknologi informasi agar dapat memberikan penyuluhan yang relevan kepada petani di wilayah binaanya pada kunjungan rutin ke kelompok di wilayah binaannya. Kehadiran penyuluh pertanian tetap dibutuhkan oleh petani selama penyuluh tersebut mempunyai kapasitas dan kredibillitas sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh pelaku utama. Untuk meningkatkan ilmu pengetahun tidak perlu menggantungkan pelatihan atau kegiatan dari dinas saja tetapi dapat melalui webinar yang diselenggarakan secara onlien oleh Kementerian Pertanian. Dalam berusaha tani, PPL harus mempunyai gambaran analisa usaha tani setiap produk pertanian sehingga menjadi pemicu petani untuk berbudidaya dalam pertanian.

Panelis kedua Suprayitno Pemilik Okane Mochi Farm, Perwakilan Petani Milenial Kabupaten Purworejo) yang menyampaikan memulai usaha bidang pertanian dari tahun 2017 ketika pulang dari Jepang, ditambah dengan pelatihan dan studi tiru ke beberapa wilayah di Indonesia untuk menambah ilmu pengetahuan. Ketika magang di Jepang memperoleh ilmu yang sangat luar biasa tentang pertanian tetapi dengan dukungan teknologi pertanian yang sangat modern yang beluk bisa diterapkan di Indonesia, lebih tertarik ke peternakan yang dipelajari selama 2 minggu di Jepang karena dapat mendatangkan keuntungan setiap hari dari hasil susu dan pakan ternak yang diolah secara berkelanjutan dan berkesinambungan.

“Adanya dukungan dari Dinas Pertanian berupa kegiatan SIMURP  dengan pemberdayaan KEP, informasi yang disampaikan melalui penyuluh pertanian, fasilitasi bintek, studi banding, diskusi, peralatan membuata usaha peternakan, pengolahan susu dan pembuatan silase yang dikelolanya menjadi berkembang pesat”, tambahnya.

Panelis ketiga Rina Widiastuti dari unsur ademisi dan dosen UMP bahwasanya para petani milenial harus mengikuti dan menguasai era teknologi 4.0 dalam upaya mencapai tujuan pembangunan pertanian nasional. Dengan pemanfaatan teknologi sangat efisien sehingga pertanian tumbuh dalam waktu yang cepat. Dengan demikian produk pertanian Indonesia dapat dengan mudah memnuhi kebutuhan pasar dalam negeri serta kebutuhan untuk ekspor. Petani milenial dapat mengembangkan usaha pertanian dalam arti luas mulai dari hulu – hilir dengan mencakup semua bidang usaha.

Panelis selanjutnya, Duwi Hartoto PPL Kabupaten Purworejo menyampaikan bahwa harga pangan dunia semakin tinggi tetapi yang menikmati adalah makelar, bukan petani, sehingga diperlukan regenerasi petani karena anak muda zaman sekarang enggan masuk dunia pertanian disebabkan kalah gengsi. Pemerintah mencanangkan petani milenial yang harapannya dapat memutus rantai pemasaran hasil pertanian, khusunya sektor tanaman pangan. Selain itu petani milenial juga dapat memberikan energi baru dengan teknologi digital (misalnya operasional traktor dengan menggunakan android), serta dapat menjalin kemitraan dengan semua stakeholder yang mencakup dinas instansi terkait, akademisi dan pelaku usaha. Petani milenial dapay mengembangkan inovasi teknologi baru sesuai dengan spesifik lokal yang ada di wilayahnya.

Dari apa yang dismapaikan panelis, ada beberapa tanggapan yang disampaikan peserta diantaranya Sayogo Yulianto Ketua Komisi Penyuluhan Pertanian Kabupaten Purworejo bahwasanya dibutuhkan adanya aplikasi yang dapat digunakan untuk mempermudah pemasaran produk pertanian, perbanyak menmabah ilmu pengethaun dengan menggunakan berbagai sumber informasi mulai dari internet, buku dan sumber lainnya.

Sektor pertanian Indonesia dinilai susah berkembang, bahkan terus mundur, karena kebijakan pangan nasional tidak berdasar data yang kuat dan mengikat semua pemangku kepentingan (stakeholder). Adanya alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian, penggunaan pupuk dan pestisida yang semakin lama semakin pesat menyebabkan degradasi lahan pertanian. Petani perlu diberikan provokasi positif sehingga lebih terpacu untuk berinteraksi, bekerjasama dalam penyebran pengetahuan, ide bisnis, mebuka cakrawala yang tidak terbatas ruang dan waktu dengan petani yang lainnya.

Pendapat lain disampaikan  Joko Petani Milenial Kecamatn Purworejo, bahwa terkait nilai jual petani yang masih rendah, bisa menanam tapi tidak bisa menjual. Ada 2 permasalahan yang dialami petani yaitu pupuk dan pemasaran, perlu ada regenerasi petani milenial.

Turut serta Edi Prayitno PPL Kecamatan Ngombol menambahkan  adanya alih fungsi lahan pertanian, kepemilikan lahan pertanian yang terbatas, susah mendapatkan akses perbankan, dampak perubahan iklim, harga produk pertanian yang tidak stabil, kebijakan/regulasi pemerintah, adanya gengsi, sehingga dibutuhkan rencan atindak lanjut rumusan mengenai petani milenial, seperti diadakannya sekolah tani milenial untuk memberi stimulan dan member ruang untuk munculnya petani milenial baru dan mewadahi petani organik yang ada di Kabupaten Purworejo.

Berdasarkan rangkaian diskusi panel tersebut diperoleh kesimpulan yaitu petani milenial harus ditumbuhkan dan dibina, berkolaborasi dan ditumbuhkan dengan melibatkan berbagai stakeholder yang terkait. Sedangkan kesuksesan petani milenial tergantung pada karakter masing-masing, dengan kunci keberhasilan : karakter, kompetensi, komunikasi, kolaborasi, kreativitas. Untuk rencana tindak lanjut yang disuulkan adalah diaadakan pelatihan sekolah lapang bagi petani milenial untuk mewujudkan pertanian yang dapat maju mandiri dan modern.

 

Penyusun : Bakti Woro Haryanti, SP

Notulen Rapat

 

 





Berita Purworejo

Counter Pengunjung