- DKPP Lakukan Pengujian Sampel PSAT Pasca Idul Fitri 1447 H
- Refilling Nitrogen Cair untuk Mendukung Kegiatan Inseminasi Buatan Ternak
- Seleksi Hibah Ternak 2027 Dimulai, DKPP Purworejo Verifikasi Proposal dari 14 Kecamatan
- PEMKAB PURWOREJO DAN PERUM BULOG SIAP SALURKAN BANTUAN PANGAN BERAS DAN MINYAK GORENG ALOKASI FEBRUARI-MARET 2026
- Pemantauan Harga Bahan Pokok Penting Pasca HBKN Idul Fitri 1447H
- Puskeswan Purwodadi kembali buka!
- Pelayanan Kesehatan Hewan UPT Puskeswan Mranti di Akhir Maret
- *Dukung Program GAP Tembakau, Kelompok Tani Makmur Tani Laksanakan Persemaian di Desa Kambangan*
- KOORDINASI PELAKSANAAN HIBAH TA. 2026
- Rapat Sosialisasi Pelarangan Perdagangan daging Anjing dan kucing di Jawa Tengah
Dukung Petani Milenial, Penyuluh Pertanian Berikan Solusi Bijak terkait Lahan Kritis

Dukung Petani Milenial, Penyuluh Pertanian Berikan Solusi Bijak terkait Lahan Kritis
___________
*Tim Peliput BPP Kaligesing
____
Kaligesing , 22 Desember 2025
Penyuluhan Pertanian Lapang (PPL) Wilayah Desa Jelok Kecamatan Kaligesing, Munif Rismawan, S.Pt. bersama tim, menyambangi Yatin Julita petani cabai milenial desa Jelok, Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo Senin, 22 Desember 2025. Petani muda ini sangat inspiratif, karena berhasil mengubah lahan kritis di bukit cadas berbatu miliknya, menjadi ladang cuan yang sangat menghasilkan. Lahan miliknya berada di dusun Ngesong, Jelok, Kaligesing hanyalah berupa bukit cadas berbatu-batu yang solum tanahnya begitu dangkal, sehingga hanya belukar yang sanggup menghinggapinya. Namun sejak 3 tahun lalu, Yatin bertekad bulat untuk menyulap lahan itu agar bisa menghasilkan. Beliau mengumpulkan tanah dan membentuk bedengan, menata batu2an supaya bisa terbentuk terasiring sehingga meminimalkan longsor. Namun tantangannya sungguh berat. Selain sebagai petani, beliau juga bekerja sebagai Kaur Perencanaan desa Jelok, praktis Waktu yang tersisa untuk beliau di lahan hanyalah pagi dan sore sebelum bertugas di kantor desa. Oleh karena itu pengolahan dan persiapan lahan untuk menanam cabai membutuhkan Waktu sekitar satu tahun.
Tantangan lain adalah, lokasi lahan di punggung bukit yang cukup terjal, sehingga menyusahkan dalam transportasi pupuk dan bahan organik lain, padahal dengan solum tanah dangkal serta berbatu-batu, lahan sangat membutuhkan bahan organik tambahan dalam volume yang besar.
Untuk itu dalam kunjungannya, PPL wibi menyampaikan ide berupa usulan teknis untuk mengolah bahan organik yang tersedia di bukit tersebut, menggunakan Aplikasi Nitrobacter, sehingga bisa menambah dan memudahkan pembuatan pupuk organik langsung di lokasi lahan tersebut. Bahan mentahnya bisa menggunakan potongan sampah ataupun semak belukar yang tersedia di sekitar lahan, ataupun menggunakan kotoran kambing.
Walaupun tantangan begitu berat, namun Yatin Julita cukup Tangguh menghadapinya, terbukti beliau sanggup menanami bukit berbatu itu dengan tanaman cabai kurang lebih 2300 batang, yang usianya bisa bertahan hingga 1 tahun lebih dan saat kunjungan ini, masih produktif. Bahkan di sela-sela tanaman cabai, masih bisa ditanami dengan tanaman sayuran lain, seperti gambas dan terong. Dengan panenan cabai dan sayuran tersebut, Yatin Julita mampu menghidupi keluarga dan menambah penghasilannya. Sebuah kisah inspiratif yang perlu diteladani petani-petani kita.






