DUKUNG PENINGKATAN IP, KEMENTAN DORONG PENGGUNAAN KINCIR ANGIN DAN POMPANISASI DI PURWOREJO

By DINPPKP 13 Mei 2024, 08:42:49 WIB Penyuluhan
DUKUNG PENINGKATAN IP, KEMENTAN DORONG PENGGUNAAN KINCIR ANGIN DAN POMPANISASI DI PURWOREJO

DUKUNG PENINGKATAN IP, KEMENTAN DORONG PENGGUNAAN KINCIR ANGIN DAN POMPANISASI DI PURWOREJO

 

Kecamatan Ngombol merupakan salah satu lumbung pangan di Kabupaten Purworejo yang memiliki potensi sumber daya alam yang sangat mendukung budidaya tanaman padi.

Awal Mei 2024 bertempat di Kelompok Tani Merdi Luhur Desa Rasukan Kecamatan Ngombol, Dirjen Tanaman Pangan mengunjungi dan berdiskusi tentang peningkatan indeks pertanaman padi dengan pompanisasi dan penggunaan kincir angin. Acara ini dihadiri Dirjen Tanaman Pangan Kementan, Kepada Dinas Ketahanan pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo, Koramil Ngombol, PPL Kecamatan Ngombol, Pemerintah Desa dan Pengurus Kelompok Tani.

Kincir angin adalah sebuah alat yang dibuat untuk mengubah energi angin menjadi energi mekanik. Ada banyak manfaat kincir angin untuk industri pertanian. Salah satu manfaat kincir angin untuk pertanian ialah membantu sistem irigasi. Sistem irigasi adalah salah satu faktor penting dalam industri pertanian dan perkebunan. Tanpa sistem irigasi dan pengairan yang baik, maka tumbuhan yang ditanam tidak bisa tumbuh dengan subur dan menghasilkan hasil panen yang baik.

Energi kinetik yang dihasilkan oleh kincir angin bisa digunakan untuk membantu mengalihkan aliran air dari satu saluran irigasi ke saluran irigasi yang lainnya dengan efektif, membuat sistem irigasi dapat berjalan dengan baik dan lancar. Selain itu, kincir angin juga bisa digunakan untuk membantu menimba air dari sumur dan yang lainnya.

Pada Tahun 2021, di Kecamatan Ngombol terdapat 2 Kelompok Tani yaitu Merdi Luhur Rasukan Desa Rasukan  dan Usodo Bogo Desa Piyono,  yang mendapatkan fasilitasi ATD dan kincir angin, tetapi kondisinya sekarang rusak dan tidak dapat digunakan untuk membantu pengairan di lahan petani. Sutopo selaku Ketua Kelompok Tani menyampaikan bahwa kincir angin sangat membantu pengairan pada tanaman padi pada musim kemarau, sedangkan kerusakan terjadi pada tahun 2022 disebabkan karena disapu angin yang cukup kencang. Kincir angin rusak pada bagian bilah baling-balingnya. Hal itu disebabkan terjangan angin cukup kuat di area sawah pada waktu itu. “Pada waktu itu, angin berembus cukup kencang. Saking kencangnya, baling-baling sampai rusak semua dan ringsek,” jelas Sutopo.

Menanggapi hal tersebut, Dirjen Tanaman Pangan Suwandi menyampaikan agar kelompok tani membuat RAB untuk memperbaiki kincir angin yang rusak sehingga dapat digunakan kembali sehingga pengairan pada tanaman padi menjadi lancar kembali. “Pemanfaatan sumberdaya air yang optimal dapat dipergunakan dalam peningkatan Indeks Pertanaman (IP), sehingga apabila nanti kincir angin sudah dapat diperbaiki dan digunakan kembali,yang tadinya pada mudim tanam III belum bisa semua lahan ditanami, harapannya semua lahan sawah dapat 100% tertanami padi sehingga dapat mendukung produksi padi di Kecamatan Ngombol”,tambahnya.

Pada kesempatan tersebut, Suwandi juga meninjau pompanisasi yang sudah banyak dilakukan di lahan petani. Suwandi mengapresiasi petani Kecamatan Ngombol yang sudah bnayak melakukan pompanisasi untuk mengairi lahan sawah pada musim tanam ini. “Pompanisasi ditujukan untuk wilayah komoditas padi yang bertujuan mengatasi masalah kekeringan, pengurangan ketergantungan pada curah hujan, meningkatkan produktivitas pertanian dan antisipasi darurat pangan”, tambahnya.

Suwandi mengajak semua pihak mulai dari petani, kelompok tani, petugas, OPD dan Babinsa untuk terus bersinergi dan berkolaborasi dalam upaya bersama untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat pedesaan. “Semua pihak mari bekerjasama memanfaatkan sumber air terdekat untuk mengantisipasi cuaca ekstrim yang berlangsung sejak 2023 yang lalu, Kementan juga bekerjasama dengan TNI untuk memperkuat sistem pengairan menggunakan pompa pada budidaya tanaman padi sehingga diharapkan indeks pertanaman padi secara nasional meningkat yang pada akhirnya berdampak pada produksi beras nasional”, jelasnya.





Berita Purworejo

Counter Pengunjung