DORONG GERAKAN DESA MANDIRI PUPUK, PEMERINTAH DESA PIYONO-KELOMPOK TANI ADAKAN PELATIHAN PEMBUATAN PUPUK ORGANIK

By DINPPKP 07 Feb 2022, 15:24:43 WIB Penyuluhan
DORONG GERAKAN  DESA MANDIRI PUPUK, PEMERINTAH DESA PIYONO-KELOMPOK TANI ADAKAN PELATIHAN PEMBUATAN PUPUK ORGANIK

DORONG GERAKAN  DESA MANDIRI PUPUK, PEMERINTAH DESA PIYONO-KELOMPOK TANI ADAKAN PELATIHAN PEMBUATAN PUPUK ORGANIK

Keterbatasan jumlah pupuk bersubsidi yang terjadi di disebabkan karena tidak seimbangnya permintaan dan penawaran. Ketergantungan petani terhadap pupuk kimia tidak lepas dari peran pemerintah yang memberikan subsidi harga pupuk kimia. Hal tersebut dapat diduga karena kekuatiran Pemerintah, jika pupuk kimia tidak tersedia dalam kondisi tepat jumlah, jenis, dosis, waktu, bentuk/formula dan cara akan mengancam ketahanan pangan dan mengakibatkan gejolak sosial di masyarakat. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, petani dapat menggunakan pupuk non subsidi atau dapat juga dengan menggunakan pupuk organik.

Desa Piyono merupakan salah satu desa di Kecamatan Ngombol yang memiliki potensi sumbe dayaalam melimpah yaitu salah satunya luas lahan baku 73 Ha. Selain bertani, sebagian besar juga memiliki ternak sapi, kambing, dan domba. Limbah ternak dan unggas tersebut berpotensi tinggi jika dimanfaatkan sebagai substitusi pupuk kimia.

Penggunaan pupuk kandang sebagai upaya menambah bahan organik tanah merupakan upaya yang dianjurkan pemerintah (pertanian) dalam peningkatan produktivitas tanah, dibandingkan penggunaan pupuk kimia. Limbah yang dihasilkan dari dapur juga dapat diolah menjadi pupuk organik cair sekaligus menjadi pestisida alami bagi tanaman.

Salah satu Kelompok Tani yang ada di Desa Piyono yaitu Kelompok Tani Usodo Bogo, dimana kelompok tersebut aktif mengadakan pertemuan rutin untuk ajang silaturahim dan koordinasi terkait kegiatan bidang pertanian. Mengingat potensi trenak yang luar biasa serta adanya keterbatasan jumlah pupuk subsidi, pada musyawarah kelompok tani anggota mengusulkan untuk diadakan pelatihan pembuatan sampah organik dengan memanfaatkan kotoran ternak dan limbah rumah tangga. Hal ini disampaikan ke Pemerintah Desa dan mendapatkan respon yang positif. Di tahun 2022 ini, Pemerintah Desa Piyono menganggarkan Rp 16.000.000,- untuk pemberdayaan masyarakat.

Pada Hari Sabtu Tanggal 5 Februari 2022 bertempat di Balai Desa Piyono, diadakan pelatihan pembuatan pupuk organik menggunakan bahan baku kotoran ternak dan ember tumpuk untuk mengolah limbah rumah tangga menjadi pupuk organik cair, dengan Narasumber yaitu Ir Purwoto dari Desa Pringgowijayan Kecamatan Kutoarjo.

 Ember tumpuk merupakan alat pemroses pupuk yang dibuat dengan menyatukan 2 buah ember (misal bekascat)  yang disusun bertingkat. Ember tumpuk digunakan untuk mengolah sampah dengan bantuan larva Hi (Hermetia illucens) pada skala rumah tangga. Hermetia illucens dikenal juga sebagai BSF (Black Soldier Fly) atau lalat tentara hitam. Larva Hi dapat membantu proses pengomposan aerob dan mempercepat proses penguraian sampah organik di reaktor tumpuk. Reaktor ember tumpuk juga memungkinkan aliran lindi terpisah dan material padat sehingga menghasilkan pupuk cair.

Komponen Ember Tumpuk :

  1. Ember Bawah

Untuk ember bagian bawah disiapkan dengan memasang kran (kran dispenser yang ada seal ganda dipilih agar rapat), posisi di samping bawah ember, sekitar 5 cm di atas dasar. Tutup ember dipotong, diambil bagian tepinya saja, digunakan sebagai penyangga ember atas. Fungsi ember bawah sebagai penampung lindi, yang kemudian akan diolah menjadi pupuk organik cair.

  1. Ember Atas

Ember atas disiapkan dengan membuat lubang-lubang kecil (diameter 5 mm) sebanyak mungkin pada bagian bawah untuk pengatusan. Lubang kecil dibuat sebanyak empat buah (diameter 5 mm), pada bagian samping atas ember di bawah tutup. Fungsi lubang kecil tersebut untuk mengatur sirkulasi udara dan tempat masuk telur atau larva muda yang baru saja menetas. Fungsi ember di atas sebagai penampung sampah yang diolah.

Cara Kerja Ember Tumpuk :

  1. Buah (busuk) dimasukkan secara berkala ke dalam ember, apa adanya, tidak perlu dipotong-potong atau dicuci. Ember ditutup kembagi agar rapat sehingga tidak ada lalat yang berkerumun masuk. Dalam suasana panas dan lembab di dalam ember, mikrobia bawaan dari buah akan cepat berkembang. Aroma senyawa volatil yang dihasilkan akan keluar melalui lubang kecil, mengundang induk lalat Hi untuk datang meletakkan telur.
  2. Dalam beberapa jam, telur akan menetas menjadi larva muda dan bergerak masuk menuju material buah yang mulai terombak. Larva Hi ditunggu sampai terlihat banyak dan aktif bekerja (dua minggu), baru sampah yang mudah busuk lainnya (sayuran atau sisa dapur) dapat ditambahkan. Sampah dapur dapat dimasukkan secara berkala sampai ember penuh.
  3. Lindi yang dihasilkan dibiarkan saja di dalam ember bawah, tunggu setelah dua bulan baru dapat diteruskan dengan proses pematangan menjadi pupuk organik cair (POC). Cara pematangan yaitu dengan cara kran dibuka, lindi dimasukkan ke dalam botol bening, separuh saja, tutup dikendorkan, kemudian dijemur di terik matahari sampai warna berubah menjadi hitam coklat dan aroma lembut di hidung.
  4. POC yang sudah jadi dapat dipakai dengan cara diencerkan menjadi 5%, sekitar tiga sendok makan POC ditambahkan 1 liter air. POC dapat pula disimpan dalam drum tanpa batas kadaluarsa untuk digunakan pada musim berikutnya.
  5. Larva Hi dan kompos, dapat dipanen secara berkala. Larva Hi (magot) mengandung protein 40% dan lemak 30%, sangat baik dipakai sebagai pakan ikan dan ayam. Magot dapat diberikan langsung atau ditepungkan terlebih dahulu. Kompos yang dihasilkan dapat ditiriskan dan diayak untuk dipakai langsung. Kompos dapat juga dipakai sebagai sumber mikroba perombak untuk pengomposan bahan yang lain seperti kotoran kandang ternak atau dedaunan.

 

Disusun Oleh :

BAKTI WORO HARYANTI, SP

BPP KECAMATAN NGOMBOL





Berita Purworejo

Counter Pengunjung