Demam Tiga hari Pada Sapi

By DINPPKP 11 Feb 2025, 09:46:33 WIB Peternakan dan Keswan
Demam Tiga hari Pada Sapi

Demam Tiga hari Pada Sapi

Pada hari Senin, 10 Pebruari 2025, masuk laporan kejadian sapi jantan yang tidak mau makan semenjak pagi, kesulitan berdiri dan dari hidungnya keluar lendir bening dalam jumlah yang banyak. Sapi tersebut milik Bapak Sudiyono, Mudal, Purworejo. Kepala UPT menugaskan medik veteriner untuk menangani kasus tersebut.

Sapi Yang sakit

Dari pemeriksaan oleh medik veteriner ditemukan kondisi bahwa sapi mengalami demam, nafas pendek dan cepat, tidak mampu berdiri dan keluar leleran bening dari hidungnya. Berdasar anamnesa, pemilik menyatakan bahwa sapinya sehari sebelumnya masih normal baik nafsu makan maupun perilakunya. Pemilik mulai curiga sapinya tidak baik-baik saja pada tanggal 10 Pebruari 2025 pagi dimana sapinya tidak mau makan dan nampak pincang pada salah satu kakinya. Pak Sudiyono merupakan peternak senior dengan pengalaman puluhan tahun, fokus pada penggemukan sapi jantan dengan target dipanen menjelang Iedul Qurban untuk membantu masyarakat yang akan melaksanakan ibadah qurban dengan menyediakan sapi jantan yang sehat, gemuk dan memenuhi syarat sebagai hewan qurban. Berdasarkan hasil pemeriksaan umum pada sapi yang sakit dan keterangan pemilik, medik veteriner menyimpulkan bahwa sapi tersebut terkena penyakit Demam tiga hari (3-day sickness) atau BEF (Bovine Ephemeral Disease) dan di masyarakat peternak sapi Purworejo disebut dengan Penyakit Gomen.

 

  BEF atau Demam tiga hari

Bovine ephemeral fever disebabkan oleh virus RNA beruntai tunggal (ssRNA) sense-negatif, genus Ephemerovirus, famili Rhabdoviridae (Walker, 2005; Strauss and Strauss, 2008; Walker and Klement, 2015). Penyakit BEF sering jugadisebut `three days sickness’, stiff sickness, dengue fever of cattle, bovine epizootic fever dan lazy man’s disease (Kirkland, 2016). Penyakit BEF pertama kali ditemukan tahun 1867 pada sapi di Afrika Tengah, setelah itu ditemukan di Afrika, Asia, dan Australia (Trinidad et al., 2014). Laporan kejadian BEF di Indonesia, diduga pertama kali terjadi pada tahun 1920 di Sumatera dan pada tahun 1979 penyakit yang sama muncul kembali pada sapi ongole di Tuban dan Lamongan, Jawa Timur (Soeharsono et al., 1983).

Meskipun tidak menunjukkan gejala klinis, antibodi terhadap virus BEF juga terdeteksi pada banyak hewan liar seperti termasuk kerbau Afrika (Syncerus caffer), hartebeest (Alcelaphalus buselaphus), waterbuck (Kobus ellipsiprymnus), wildebeest (Connochaetes taurinus), kudu (Tragelaphus strepsiceros), jerapah (Giraffa camelopardalis), gajah (Loxodonta africana), kuda nil (Hippopotamus amphibius), babi hutan (Phacochoerus aethiopicus) dan berbagai spesies rusa dan antelop (Davies et al., 1975; Barnard, 1997; Anderson and Rowe, 1998; Hamblin, 2008; Aziz-Boaron et al., 2015).

Bovine ephemeral fever (BEF) adalah penyakit viral yang ditularkan oleh serangga (arthropod borne virus), termasuk dalam famili Rhabdoviridae dan genus Ephemerovirus. Penyebabnya adalah virus Double Stranded Ribonucleic Acid (ds-RNA), memiliki amplop dan berbentuk peluru dengan ukuran 80 x 120 x 140 nm yang mempunyai tonjolan pada amplopnya (Murphy et al., 1972; Calisher et al., 1989). Bovine ephemeral fever memiliki berbagai nama lokal seperti demam 3 hari (3-day sickness), bovine enzootic fever, bovine influenza atau stiffseitke (Akakpo, 2015; Walker and Klement, 2015). Virus BEF masih satu kelompok dengan virus rabies, vesicular stomatitis dan strain yang ada memiliki kesamaan secara antigenik, meskipun berbeda dalam hal virulensi (Walker et al., 1991). Berdasarkan hasil hasil penelitian, saat ini di seluruh dunia dikenal 4 serotipe dan hanya satu serotipe virus BEF yang bersifat patogen (Kemp et al., 1973; Kaneko et al., 1986; Kato et al., 2009).

Penularan BEF telah diketahui sejak lama tidak dapat terjadi dari sapi ke sapi secara kontak langsung (Mackerras et al., 1940). Pendapat tersebut didukung oleh St George (1988) dan Nandi and Negi (1999) yang menyatakan bahwa BEF tidak ditularkan melalui kontak secara langsung, urin, feses, daging, susu atau aerosol. Hasil penelitian dan observasi menunjukkan adanya bukti bahwa peningkatan risiko penyebaran BEF virus antar benua dapat melalui transportasi hewan atau translokasi vektor (Aziz-Boaron et al., 2012; Trinidad et al., 2014). Penyakit BEF ditransmisikan melalui vektor serangga, yang banyak terdapat di daerah tropis dan subtropis seperti Asia, Afrika dan Australia (Cybinski and Zakrzewski, 1983; Hamblin et al., 1990; Maiti et al., 2013). Nyamuk dari golongan Culicoides sp., Aedes sp. dan Culex sp. dapat bertindak sebagai vektor penyakit BEF (Muller and Standfast, 1986; Stram et al., 2005) dan telah dibuktikan dengan hasil isolasi virus BEF dari berbagai spesies nyamuk tersebut (Venter et al., 2003).

Virus BEF hanya menyebar setelah multipliksi pada tubuh vektor nyamuk dan masa inkubasi bervariasi antara 2-5 hari dengan maksimum 10-11 hari. Viremia dalam banyak kasus biasanya berlangsung singkat yaitu 3 atau 5 hari (St George, 1994).

 

Epidemiologi BEF

Di Indonesia, penyakit Bovine Ephemeral Fever (BEF) dilaporkan telah ada sejak jaman penjajahan Belanda, dan ada dugaan kuat bahwa Australia mendapatkan penyakit BEF dari Indonesia (Astiti, 2010). Berdasarkan gejala klinis, BEF yang menyebabkan kematian pada sapi dewasa pertama kali dilaporkan tahun 1978. Setelah itu kasus BEF banyak dilaporkan dengan tingkat kematian saat itu mencapai 73% di Jawa Timur. Namun demikian, tingginya angka kematian tersebut diduga merupakan komplikasi dengan infeksi bakteri Hemorrhagic Septicaemia (HS) (Ronohardjo dan Rastiko 1982). Winoto dan Sjafarjanto (2014) menyatakan bahwa tingkat Prevalensi kejadian BEF selama bulan April2012 hingga Juni 2013 di 23 desa di kecamatan Soko Kabupaten Tuban, sangat kecil sekali, yaitu hanya terjadi 81 kasus atau 0,54% dari populasi sapi 15.000 ekor. Lebih lanjut, menurut Winoto dan Sjafarjanto (2014) iklim di Indonesia menguntungkan untuk keberlangsungan hidup vektor sepanjang tahun, sehingga penyakit BEF diperkirakan bersifat enzootik. Nururrozi et al. (2017) mencatat kejadian BEF di Gunungkidul, DIY selama periode Oktober hingga Desember 2016. Hasil anamnesa dan pemeriksaan gejala klinis di empat Unit Pengembangan Teknis (UPT) Puskeswan Nglipar, Karangmojo, Patuk dan Panggang pada periode tersebut diketahui tingkat kejadian BEF sangat tinggi mencapai 48% yakni 134 kasus dari 277 kasus berbagai macam penyakit pada sapi yang ditangani. Lebih lanjut, hasil pengamatan tersebut juga menunjukkan adanya kecenderungan bahwa pada bulan basah atau musim penghujan yang dimulai pada bulan Oktober-November biasanya akan terjadi peningkatan jumlah vektor pembawa penyakit BEF yakni artropoda seperti nyamuk yang dapat terbang bersama angin dan banyak diamati di kandang.

Tindakan pengendalian yang efektif yang melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan diperlukan untuk mencegah infeksi BEF. Hasil penelitian penelitian diatas dapat mendorong negara negara lain yang terkait untuk bekerja sama dalam pencegahan dari BEF. Studi epidemiologi di berbagai negara menunjukkan bahwa vektor biologis memiliki peran penting dalam kejadian BEF. Oleh sebab itu, pantauan secara menyeluruh terhadap kondisi lingkungan termasuk iklim dan cuaca yang mempengaruhi pergerakan vektor sangatlah diperlukan pada saat wabah BEF terjadi. Pantauan tersebut perlu dilakukan guna menerapkan langkah-langkah pengendalian yang efektif. Selain hal tersebut, deteksi dini dan pengobatan selanjutnya dari kasus yang teridentifikasi adalah kunci keberhasilan untuk mengendalikan penyakit BEF.

Gejala dan Diagnosa BEF

Diagnosis BEF dapat dilakukan dengan melihat gejala klinis dan uji laboratoris seperti hematologis, pemeriksaan patologis, serologis, dan virologis (Bayer, 1998). Namun demikian, konfirmasi diagnosa laboratorium tersebut membutuhkan waktu, tenaga dan biaya yang mahal, selain itu, metode deteksi virus tidak selalu dapat diandalkan dan tidak jarang menghasilkan negatif palsu (Nandi and Negi, 1999). Bovine Ephemeral Fever kemungkinan memiliki distribusi yang lebih luas daripada yang mungkin terdokumentasi karena gejala klinis yang relatif ringan dan tingkat pemulihan kesehatan yang baik dalam banyak kasus. Untuk alasan yang sama kemungkinan dapat menyebabkan ketidak tepatan diagnosis atau diagnosis tidak dikonfirmasi lebih lanjut dengan metode pendukung oleh praktisi.

Tanda klinis penyakit BEF yang sering teramati adalah demam tinggi selama 2-5 hari dan kemungkinan dapat sembuh spontan tanpa pengobatan (Burgess and Sprawbrow, 1977;Hsieh et al., 2005). Gejala klinis lain yang sering muncul adalah adanya leleran hidung, radang sendi dan kekakuan otot (Walker, 2005). Namun demikian konfirmasi lanjut untuk peneguhan diagnosa masih perlu dilakukan dengan uji serologis ataupun virologis dengan isolasi dan identifikasi virus karena gejala klinis yang muncul tidak bersifat patognomonik.

Tabel Tanda Klinis BEF

Tanda Klinis

Hewan

Pustaka

Demam, pembengkakan limfoglandula superfisial, hipersalivasi, kekakuan otot, leleran hidung, penurunan produksi susu

Sapi Perah

Theodoridis et al., 1973

Demam, anoreksia gangguan pernapasan, pincang, malas bergerak

Sapi Potong

Abu Elzein et al., 1977

Anoreksi, pincang dan/atau gaya berjalan kaku; pembengkakan limfoglandula superfisial, demam, atoni rumen, depresi produksi susu menurun tajam

Sapi Perah

Prasad et al., 1997

Demam tinggi, anoreksi, pincang, produksi susu menurun tajam, konstipasi/diare, kekakuan otot

Sapi Perah

Sah, 2002

penurunan produksi susu, demam, kekakuan dan kepincangan alat gerak, ambruk

Sapi Perah

Thabet et al., 2011

Demam, anoreksia, dyspnea, ambruk, kekakuan otot, pincang, leleran hidung, penurunan produksi susu

Sapi Perah

Zaghawa et al., 2017

Demam, anoreksia, ambruk, leleran hidung

Sapi Potong

Barigye et al., 2017

Anoreksi, demam, pincang, ambruk, leleran hidung, hipersalivasi

Sapi Potong

Nururrozi et al., 2017

Terapi dan Pencegahan BEF

Pengobatan mungkin tidak diperlukan dalam kasus BEF ringan, tetapi pada kondisi yang lebih parah perlu diberikan obat anti radang (Uren etal., 1989). Pada kondisi lebih berat dimana hewan ambruk dengan menunjukkan gejala hipokalsemia sekunder maka perlu diberikan terapi tambahan dengan kalsium boroglukonat (St George, 1988). Terapi kejadian BEF pada sapi potong lokal jenis peranakan ongole (PO) oleh para praktisi dokter hewan di Gunungkidul, DIY sebagian besar menggunakan kombinasi antara antipiretik, antibiotik, antihistamin dan vitamin. Kombinasi tersebut memberikan tingkat kesembuhan yang baik berdasarkan informasi dari petugas yang mendapat laporan dari peternak pasca penanganan dengan tidak adanya kejadian berulang (Nururrozi et al., 2017).

Pada kasus sapi milik Bapak Sudiyono, medikasi menggunakan kombinasi antibiotik, antihistamin, antipiretik dan multivitamin. Antibiotik untuk mengantisipasi kemungkinan adanya infeksi sekunder, antipiretik untuk menekan demam yang terjadi, antihistamin untuk mengontrol tingginya histamin pada fase peradangan dan multivitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh sapi.

Upaya juga pencegahan penyakit BEF didasarkan pada pengendalian vektor arthropoda dan menerapkan kebersihan ternak serta lingkungannya untuk mengurangi risiko penyebaran. Cara lain upaya pencegahan BEF adalah melalui kontrol risiko yang terkait dengan pergerakan sapi terinfeksi. Pergerakan sapi terinfeksi melalui transportasi cepat dengan jarak tempuh yang relatif pendek serta waktu karantina yang singkat dalam daerah bebas vektor harus dikontrol secara cermat untuk menghindari penularan BEF dari lain daerah terkait dengan singkatnya kejadian viremia (3-5 hari) segera setelah terinfeksi virus BEF (Kirkland, 2002; St George 2004; Trinidad et al., 2014). Pada akhirnya, pengendalian dan kontrol penyakit BEF sangat tergantung pada pembatasan ruang gerak ternak, karantina ternak terduga maupun penderita, pelaksanaan karantina ternak baru pada area bebas vektor, kontrol vektor, vaksinasi dan pengobatan hewan sakit                        

Kesimpulan

Bovine ephemeral fever (BEF) adalah penyakit viral yang ditularkan oleh serangga(arthropod borne virus), famili Rhabdoviridae dan genus Ephemerovirus. Teknik diagnosis yang cepat dan akurat perlu dikembangkan baik uji serologi maupun deteksi virus sehingga wabah penyakit BEF dapat diantisipasi lebih dini. Meskipun pengobatan dinilai tidak efektif, namun pemberian antibiotik, antiinflamasi, pemberian cairan dinilai cukup efektif untuk mengurangi terjadinya infeksi sekunder, yang dapat memperparah kondisi hewan, dan dapat berakibat fatal. Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan memperhatikan hygiene dan sanitasi kandang dan ternak yang optimal.





Berita Purworejo

Counter Pengunjung