- RUMAH PANGAN KITA DKPP PURWOREJO SENANTIASA HADIR MENEMANI SETIAP JUM’AT PAGI
- PEMANTAUAN DISTRIBUTOR BAPOKTING OLEH PENGAWAS HARGA PANGAN DI KABUPATEN PURWOREJO
- Refilling Nitrogen Cair Guna Sukseskan Inseminasi Buatan Ternak
- Menyulam Ilmu di Hamparan Tembakau
- Gerakan Pengendalian Tikus Serempak di Lima Kecamatan Kabupaten Purworejo
- BPP Purworejo Gelar Gerdal Tikus Susulan di Cangkreplor, Amankan Produksi Padi MT II
- Jamin Daging Kurban Aman, Tim DKPP Purworejo Sisir Belasan Kecamatan
- Prosesi Penyembelihan Sapi Kurban Bantuan Presiden Republik Indonesia ????✨
- PENYERAHAN BANTUAN PANGAN SECARA SIMBOLIS OLEH WAKIL BUPATI PURWOREJO DI DESA TEGALSARI
- DKPP Gelar Rakor Pengawasan Hewan Kurban 2026, Tekankan Kelayakan dan Higienitas untuk Hasilkan Daging ASUH
Demam Tiga hari Pada Sapi

Demam Tiga
hari Pada Sapi
Pada hari Senin, 10 Pebruari 2025, masuk laporan kejadian sapi jantan yang tidak mau makan semenjak pagi, kesulitan berdiri dan dari hidungnya keluar lendir bening dalam jumlah yang banyak. Sapi tersebut milik Bapak Sudiyono, Mudal, Purworejo. Kepala UPT menugaskan medik veteriner untuk menangani kasus tersebut.
Sapi Yang
sakit
Dari
pemeriksaan oleh medik veteriner ditemukan kondisi bahwa sapi mengalami demam,
nafas pendek dan cepat, tidak mampu berdiri dan keluar leleran bening dari
hidungnya. Berdasar anamnesa, pemilik menyatakan bahwa sapinya sehari
sebelumnya masih normal baik nafsu makan maupun perilakunya. Pemilik mulai
curiga sapinya tidak baik-baik saja pada tanggal 10 Pebruari 2025 pagi dimana
sapinya tidak mau makan dan nampak pincang pada salah satu kakinya. Pak
Sudiyono merupakan peternak senior dengan pengalaman puluhan tahun, fokus pada
penggemukan sapi jantan dengan target dipanen menjelang Iedul Qurban untuk
membantu masyarakat yang akan melaksanakan ibadah qurban dengan menyediakan
sapi jantan yang sehat, gemuk dan memenuhi syarat sebagai hewan qurban. Berdasarkan
hasil pemeriksaan umum pada sapi yang sakit dan keterangan pemilik, medik
veteriner menyimpulkan bahwa sapi tersebut terkena penyakit Demam tiga hari (3-day
sickness) atau BEF (Bovine Ephemeral Disease) dan di masyarakat
peternak sapi Purworejo disebut dengan Penyakit Gomen.
BEF atau Demam tiga hari
Bovine ephemeral
fever disebabkan oleh virus RNA beruntai tunggal (ssRNA) sense-negatif, genus
Ephemerovirus, famili Rhabdoviridae (Walker, 2005; Strauss and Strauss, 2008;
Walker and Klement, 2015). Penyakit BEF sering jugadisebut `three days
sickness’, stiff sickness, dengue fever of cattle, bovine epizootic fever dan
lazy man’s disease (Kirkland, 2016). Penyakit BEF pertama kali ditemukan tahun
1867 pada sapi di Afrika Tengah, setelah itu ditemukan di Afrika, Asia, dan
Australia (Trinidad et al., 2014). Laporan
kejadian BEF di Indonesia, diduga pertama kali terjadi pada tahun 1920 di
Sumatera dan pada tahun 1979 penyakit yang sama muncul kembali pada sapi ongole
di Tuban dan Lamongan, Jawa Timur (Soeharsono et al., 1983).
Meskipun tidak
menunjukkan gejala klinis, antibodi terhadap virus BEF juga terdeteksi pada
banyak hewan liar seperti termasuk kerbau Afrika (Syncerus caffer), hartebeest
(Alcelaphalus buselaphus), waterbuck (Kobus ellipsiprymnus), wildebeest
(Connochaetes taurinus), kudu (Tragelaphus strepsiceros), jerapah (Giraffa
camelopardalis), gajah (Loxodonta africana), kuda nil (Hippopotamus amphibius),
babi hutan (Phacochoerus aethiopicus) dan berbagai spesies rusa dan antelop
(Davies et al., 1975; Barnard, 1997; Anderson and Rowe, 1998; Hamblin, 2008;
Aziz-Boaron et al., 2015).
Bovine ephemeral
fever
(BEF) adalah penyakit viral yang ditularkan oleh serangga (arthropod borne
virus), termasuk dalam famili Rhabdoviridae dan genus Ephemerovirus.
Penyebabnya adalah virus Double Stranded Ribonucleic Acid (ds-RNA),
memiliki amplop dan berbentuk peluru dengan ukuran 80 x 120 x 140 nm yang
mempunyai tonjolan pada amplopnya (Murphy et al., 1972; Calisher et al., 1989).
Bovine ephemeral fever memiliki berbagai nama lokal seperti demam 3 hari
(3-day sickness), bovine enzootic fever, bovine influenza atau stiffseitke
(Akakpo, 2015; Walker and Klement, 2015). Virus BEF masih satu kelompok dengan
virus rabies, vesicular stomatitis dan strain yang ada memiliki kesamaan
secara antigenik, meskipun berbeda dalam hal virulensi (Walker et al., 1991). Berdasarkan
hasil hasil penelitian, saat ini di seluruh dunia dikenal 4 serotipe dan hanya
satu serotipe virus BEF yang bersifat patogen (Kemp et al., 1973; Kaneko et
al., 1986; Kato et al., 2009).
Penularan BEF
telah diketahui sejak lama tidak dapat terjadi dari sapi ke sapi secara kontak
langsung (Mackerras et al., 1940). Pendapat tersebut didukung oleh St George
(1988) dan Nandi and Negi (1999) yang menyatakan bahwa BEF tidak ditularkan
melalui kontak secara langsung, urin, feses, daging, susu atau aerosol. Hasil
penelitian dan observasi menunjukkan adanya bukti bahwa peningkatan risiko
penyebaran BEF virus antar benua dapat melalui transportasi hewan atau
translokasi vektor (Aziz-Boaron et al., 2012; Trinidad et al., 2014). Penyakit
BEF ditransmisikan melalui vektor serangga, yang banyak terdapat di daerah
tropis dan subtropis seperti Asia, Afrika dan Australia (Cybinski and
Zakrzewski, 1983; Hamblin et al., 1990; Maiti et al., 2013). Nyamuk dari golongan
Culicoides sp., Aedes sp. dan Culex sp. dapat bertindak
sebagai vektor penyakit BEF (Muller and Standfast, 1986; Stram et al., 2005)
dan telah dibuktikan dengan hasil isolasi virus BEF dari berbagai spesies
nyamuk tersebut (Venter et al., 2003).
Virus BEF hanya
menyebar setelah multipliksi pada tubuh vektor nyamuk dan masa inkubasi
bervariasi antara 2-5 hari dengan maksimum 10-11 hari. Viremia dalam banyak
kasus biasanya berlangsung singkat yaitu 3 atau 5 hari (St George, 1994).
Epidemiologi BEF
Di Indonesia,
penyakit Bovine Ephemeral Fever (BEF) dilaporkan telah ada sejak jaman
penjajahan Belanda, dan ada dugaan kuat bahwa Australia mendapatkan penyakit
BEF dari Indonesia (Astiti, 2010). Berdasarkan gejala klinis, BEF yang
menyebabkan kematian pada sapi dewasa pertama kali dilaporkan tahun 1978.
Setelah itu kasus BEF banyak dilaporkan dengan tingkat kematian saat itu
mencapai 73% di Jawa Timur. Namun demikian, tingginya angka kematian tersebut
diduga merupakan komplikasi dengan infeksi bakteri Hemorrhagic Septicaemia
(HS) (Ronohardjo dan Rastiko 1982). Winoto dan Sjafarjanto (2014) menyatakan
bahwa tingkat Prevalensi kejadian BEF selama bulan April2012 hingga Juni 2013
di 23 desa di kecamatan Soko Kabupaten Tuban, sangat kecil sekali, yaitu hanya
terjadi 81 kasus atau 0,54% dari populasi sapi 15.000 ekor. Lebih lanjut,
menurut Winoto dan Sjafarjanto (2014) iklim di Indonesia menguntungkan untuk
keberlangsungan hidup vektor sepanjang tahun, sehingga penyakit BEF
diperkirakan bersifat enzootik. Nururrozi et al. (2017) mencatat kejadian BEF
di Gunungkidul, DIY selama periode Oktober hingga Desember 2016. Hasil anamnesa
dan pemeriksaan gejala klinis di empat Unit Pengembangan Teknis (UPT) Puskeswan
Nglipar, Karangmojo, Patuk dan Panggang pada periode tersebut diketahui tingkat
kejadian BEF sangat tinggi mencapai 48% yakni 134 kasus dari 277 kasus berbagai
macam penyakit pada sapi yang ditangani. Lebih lanjut, hasil pengamatan
tersebut juga menunjukkan adanya kecenderungan bahwa pada bulan basah atau musim
penghujan yang dimulai pada bulan Oktober-November biasanya akan terjadi
peningkatan jumlah vektor pembawa penyakit BEF yakni artropoda seperti nyamuk
yang dapat terbang bersama angin dan banyak diamati di kandang.
Tindakan
pengendalian yang efektif yang melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan
diperlukan untuk mencegah infeksi BEF. Hasil penelitian penelitian diatas dapat
mendorong negara negara lain yang terkait untuk bekerja sama dalam pencegahan
dari BEF. Studi epidemiologi di berbagai negara menunjukkan bahwa vektor
biologis memiliki peran penting dalam kejadian BEF. Oleh sebab itu, pantauan
secara menyeluruh terhadap kondisi lingkungan termasuk iklim dan cuaca yang
mempengaruhi pergerakan vektor sangatlah diperlukan pada saat wabah BEF
terjadi. Pantauan tersebut perlu dilakukan guna menerapkan langkah-langkah
pengendalian yang efektif. Selain hal tersebut, deteksi dini dan pengobatan
selanjutnya dari kasus yang teridentifikasi adalah kunci keberhasilan untuk
mengendalikan penyakit BEF.
Gejala dan Diagnosa
BEF
Diagnosis BEF
dapat dilakukan dengan melihat gejala klinis dan uji laboratoris seperti
hematologis, pemeriksaan patologis, serologis, dan virologis (Bayer, 1998).
Namun demikian, konfirmasi diagnosa laboratorium tersebut membutuhkan waktu,
tenaga dan biaya yang mahal, selain itu, metode deteksi virus tidak selalu
dapat diandalkan dan tidak jarang menghasilkan negatif palsu (Nandi and Negi,
1999). Bovine Ephemeral Fever
kemungkinan memiliki distribusi yang lebih luas daripada yang mungkin terdokumentasi
karena gejala klinis yang relatif ringan dan tingkat pemulihan kesehatan yang
baik dalam banyak kasus. Untuk alasan yang sama kemungkinan dapat menyebabkan
ketidak tepatan diagnosis atau diagnosis tidak dikonfirmasi lebih lanjut dengan
metode pendukung oleh praktisi.
Tanda klinis
penyakit BEF yang sering teramati adalah demam tinggi selama 2-5 hari dan
kemungkinan dapat sembuh spontan tanpa pengobatan (Burgess and Sprawbrow,
1977;Hsieh et al., 2005). Gejala klinis lain yang sering muncul adalah adanya
leleran hidung, radang sendi dan kekakuan otot (Walker, 2005). Namun demikian
konfirmasi lanjut untuk peneguhan diagnosa masih perlu dilakukan dengan uji
serologis ataupun virologis dengan isolasi dan identifikasi virus karena gejala
klinis yang muncul tidak bersifat patognomonik.
Tabel Tanda
Klinis BEF
|
Tanda
Klinis |
Hewan |
Pustaka |
|
Demam,
pembengkakan limfoglandula superfisial, hipersalivasi, kekakuan otot, leleran
hidung, penurunan produksi susu |
Sapi
Perah |
Theodoridis
et al., 1973 |
|
Demam,
anoreksia gangguan pernapasan, pincang, malas bergerak |
Sapi
Potong |
Abu
Elzein et al., 1977 |
|
Anoreksi,
pincang dan/atau gaya berjalan kaku; pembengkakan limfoglandula superfisial,
demam, atoni rumen, depresi produksi susu menurun tajam |
Sapi
Perah |
Prasad
et al., 1997 |
|
Demam tinggi,
anoreksi, pincang, produksi susu menurun tajam, konstipasi/diare, kekakuan
otot |
Sapi
Perah |
Sah,
2002 |
|
penurunan
produksi susu, demam, kekakuan dan kepincangan alat gerak, ambruk |
Sapi
Perah |
Thabet
et al., 2011 |
|
Demam,
anoreksia, dyspnea, ambruk, kekakuan otot, pincang, leleran hidung, penurunan
produksi susu |
Sapi
Perah |
Zaghawa
et al., 2017 |
|
Demam,
anoreksia, ambruk, leleran hidung |
Sapi
Potong |
Barigye
et al., 2017 |
|
Anoreksi,
demam, pincang, ambruk, leleran hidung, hipersalivasi |
Sapi
Potong |
Nururrozi
et al., 2017 |
Terapi dan
Pencegahan BEF
Pengobatan mungkin tidak diperlukan
dalam kasus BEF ringan, tetapi pada kondisi yang lebih parah perlu diberikan
obat anti radang (Uren etal., 1989). Pada kondisi lebih berat dimana hewan
ambruk dengan menunjukkan gejala hipokalsemia sekunder maka perlu diberikan
terapi tambahan dengan kalsium boroglukonat (St George, 1988). Terapi
kejadian BEF pada sapi potong lokal jenis peranakan ongole (PO) oleh para
praktisi dokter hewan di Gunungkidul, DIY sebagian besar menggunakan kombinasi
antara antipiretik, antibiotik, antihistamin dan vitamin. Kombinasi tersebut
memberikan tingkat kesembuhan yang baik berdasarkan informasi dari petugas yang
mendapat laporan dari peternak pasca penanganan dengan tidak adanya kejadian
berulang (Nururrozi et al., 2017).
Pada kasus sapi milik Bapak Sudiyono,
medikasi menggunakan kombinasi antibiotik, antihistamin, antipiretik dan
multivitamin. Antibiotik untuk mengantisipasi kemungkinan adanya infeksi
sekunder, antipiretik untuk menekan demam yang terjadi, antihistamin untuk
mengontrol tingginya histamin pada fase peradangan dan multivitamin untuk
meningkatkan daya tahan tubuh sapi.
Upaya juga pencegahan penyakit BEF
didasarkan pada pengendalian vektor arthropoda dan menerapkan kebersihan ternak
serta lingkungannya untuk mengurangi risiko penyebaran. Cara lain upaya
pencegahan BEF adalah melalui kontrol risiko yang terkait dengan pergerakan
sapi terinfeksi. Pergerakan sapi terinfeksi melalui transportasi cepat dengan
jarak tempuh yang relatif pendek serta waktu karantina yang singkat dalam
daerah bebas vektor harus dikontrol secara cermat untuk menghindari penularan
BEF dari lain daerah terkait dengan singkatnya kejadian viremia (3-5 hari)
segera setelah terinfeksi virus BEF (Kirkland, 2002; St George 2004; Trinidad
et al., 2014). Pada akhirnya, pengendalian dan kontrol penyakit BEF sangat
tergantung pada pembatasan ruang gerak ternak, karantina ternak terduga maupun
penderita, pelaksanaan karantina ternak baru pada area bebas vektor, kontrol
vektor, vaksinasi dan pengobatan hewan sakit
Kesimpulan
Bovine
ephemeral fever (BEF) adalah penyakit viral yang
ditularkan oleh serangga(arthropod borne virus), famili Rhabdoviridae
dan genus Ephemerovirus. Teknik diagnosis yang cepat dan akurat perlu
dikembangkan baik uji serologi maupun deteksi virus sehingga wabah penyakit BEF
dapat diantisipasi lebih dini. Meskipun pengobatan dinilai tidak efektif, namun
pemberian antibiotik, antiinflamasi, pemberian cairan dinilai cukup efektif
untuk mengurangi terjadinya infeksi sekunder, yang dapat memperparah kondisi
hewan, dan dapat berakibat fatal. Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan
memperhatikan hygiene dan sanitasi kandang dan ternak yang optimal.






