Dari Tanam Paksa ke Revolusi Hijau: Sejarah Panjang Pertanian yang Kian Dilupakan

By DINPPKP 24 Mar 2025, 07:48:52 WIB Penyuluhan

Dari Tanam Paksa ke Revolusi Hijau: Sejarah Panjang Pertanian yang Kian Dilupakan  

______________

# Sutoyo : Penyuluh Pertanian, Pegiat Literasi dan Pemerhati Pemberdayaan Petani

# CybersquadX BPP Bruno

# Bruno Berbenah Diri

______________

Pertanian memegang peran sentral dalam perjalanan sejarah Indonesia. Lebih dari sekadar sumber pangan, pertanian membentuk struktur sosial, politik, dan ekonomi bangsa. Sayangnya ditengah kemajuan teknologi dan kebijakan modern sejarah panjang pertanian Indonesia sering kali terabaikan. Padahal memahami masa lalu adalah kunci untuk menghadapi tantangan pertanian masa kini dan masa depan.  


Jejak Kolonial: Dari Kesejahteraan ke Penindasan  


Sejak masa kerajaan seperti Kerajaan Mataram Kuno pertanian menjadi fondasi utama kehidupan. Sistem irigasi canggih seperti subak di Bali menunjukkan betapa majunya pengetahuan lokal dalam mengelola sumber daya alam. Namun masa kejayaan ini berubah drastis di bawah penjajahan Belanda.  


Pada abad ke-19, pemerintah kolonial menerapkan Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang memaksa petani menanam komoditas ekspor seperti kopi, tebu, dan nila. Kebijakan ini mendatangkan keuntungan besar bagi Belanda tetapi membawa penderitaan bagi rakyat. Pola pertanian berubah dari orientasi kebutuhan lokal menjadi eksploitasi besar-besaran meninggalkan jejak kesenjangan dan kerusakan sosial.  


Revolusi Hijau: Swasembada yang Berharga Mahal 

 

Memasuki era Orde Baru Indonesia meluncurkan program Revolusi Hijau sebagai respons terhadap ancaman krisis pangan. Program ini menitikberatkan pada penggunaan teknologi modern—pupuk kimia, pestisida, dan benih unggul—demi meningkatkan produksi beras.  


Keberhasilan besar tercapai pada tahun 1984 ketika Indonesia dinyatakan swasembada beras. Namun di balik pencapaian ini muncul dampak negatif yang sering diabaikan: kerusakan ekosistem, ketergantungan petani pada input kimia, dan hilangnya kearifan lokal dalam mengelola lahan secara berkelanjutan.  


Melupakan Sejarah, Mengulang Kesalahan  


Saat ini banyak kebijakan pertanian cenderung mengulang pola masa lalu: mengejar produksi tinggi tanpa memperhatikan keberlanjutan dan kesejahteraan petani. Minimnya pemahaman terhadap sejarah membuat kebijakan sering kali berorientasi jangka pendek mengabaikan pelajaran berharga dari era Tanam Paksa hingga Revolusi Hijau.  


Ironisnya ditengah krisis iklim dan ancaman ketahanan pangan pendekatan berbasis kearifan lokalyang dulu menopang pertanian selama berabad-abad jarang diakui atau diadopsi kembali. Jika sejarah terus diabaikan, maka kesalahan masa lalu berpotensi terulang memperparah ketimpangan dan kerentanan disektor pertanian.  


Menengok Masa Lalu untuk Masa Depan Berkelanjutan  


Menggali kembali sejarah pertanian bukan sekadar romantisme masa lalu. Ini adalah langkah strategis untuk membangun kebijakan yang lebih adil dan berkelanjutan. Dengan memahami bagaimana petani dulu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dan tekanan sosial, kita dapat merumuskan solusi yang lebih holistik dan tahan uji dimasa depan.  


Sejarah panjang pertanian Indonesia mengajarkan bahwa kemajuan tidak bisa dicapai hanya dengan mengejar hasil jangka pendek. Tanpa memahami akar permasalahan dan menghormati kearifan masa lalu upaya membangun pertanian yang berdaulat dan berkelanjutan bukan tidak mungkin akan menemui jalan buntu.

______________

# Purworejo, Senin 24 Maret 2025

# Dari berbagai sumber

# Selamat menjalankan ibadah puasa





Berita Purworejo

Counter Pengunjung