- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
CEGAH SERANGAN WERENG BATANG COKLAT, POKTAN RUKUN, JONO BAYAN TERAPKAN BIO PESTISIDA METARIZEP

CEGAH SERANGAN WERENG BATANG COKLAT, POKTAN RUKUN, JONO BAYAN TERAPKAN BIO PESTISIDA METARIZEP
Hama wereng coklat ( WBC ) atau Nilaparvata Lugens merupakan salah satu hama tanaman padi yang menjadi momok petani yang dianggap paling berbahaya dan merugikan karena dapat menyebabkan gagal panen. Siklus hidup yang relatif pendek kurang lebih 35 hari dan WBC betina dewasa yang mampu berkembang biak menjadi anakan sebanyak 300 ekor ini diharuskan untuk pencegahan dan pengendalian harus secara tuntas. Kemarau basah dengan kelembaban yang tinggi, sangat cocok bagi perkembangan WBC.
Dalam rangka pencegahan dan pengendalian dari serangan WBC, maka perlu dilakukan penyemprotan secara dini dengan menggunakan biopestisida Metarizep untuk meminimalkan kerugian. Hal ini lah yang dilakukan oleh Poktan Rukun Desa Jono dengan melakukan pencegahan serangan WBC mengingat serangan masih dalam skala kecil yaitu 1 ekor per rumpun atas rekomendasi POPT didampingi PPL Wibi. Pengamatan yang rutin dan memanfaatkan fungsi petani sebagai ahli OPT merupakan hal yang wajib dilakukan dalam budidaya khususnya padi. Dengan ini diharapkan budidaya padi dapat berkembang dengan baik sehingga hasil akhir yang dicapai dapat maksimal.
Untuk mengantisipasi munculnya WBC generasi selanjutnya yang lebih kuat dan resisten terhadap pestisida maka perlu dilakukan pergiliran pola tanam, perubahan varietas dan jeda tanam dengan waktu minimal 1 bulan dengan kondisi lahan terolah untuk memutus siklus WBC.
Penyuluh Pertanian
Kurniawan Setyo Nugroho, S.TP






