- Jamin Aspek ASUH, Daging Sapi dari RPH Kutoarjo Kantongi Sertifikat Halal dan NKV
- KWT Mugi Rahayu Kelurahan Lugosobo Bagikan Bibit Cabai dan Terong untuk Perkuat Ketahanan Pangan Keluarga
- Jaring Tangguh: Perkuat Literasi Iklim dan Ketahanan Pangan Petani Desa Krandegan
- Gerdal Ulat Grayak dan Kutu Kebul Dukung Keberhasilan Program Intensifikasi Tembakau di Desa Kambangan
- *WASPADA! Banyak Kucing Mati Mendadak di Beberapa Wilayah*
- P2L KWT Sejahtera Desa Cepedak : Bersama Menanam, Bersama Mewujudkan Ketahanan Pangan Keluarga
- DKPP Purworejo Jalin Kerjasama Dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah AdakanTemu Pelanggan oleh Balai Pelayanan Veteriner
- Akselerasi Populasi Ternak, Program \"Subali Sapira\" Sukses Antarkan Sapi Peternak hingga Bunting
- Rangkaian Kegiatan Lapangan Program SUBALI SAPIRA DKPP
- MENUJU KEMANDIRIAN PANGAN, DUA PROYEK LUMBUNG PANGAN DI PURWOREJO RESMI SERAH TERIMA AKHIR
CEGAH SERANGAN WERENG BATANG COKLAT, POKTAN RUKUN, JONO BAYAN TERAPKAN BIO PESTISIDA METARIZEP

CEGAH SERANGAN WERENG BATANG COKLAT, POKTAN RUKUN, JONO BAYAN TERAPKAN BIO PESTISIDA METARIZEP
Hama wereng coklat ( WBC ) atau Nilaparvata Lugens merupakan salah satu hama tanaman padi yang menjadi momok petani yang dianggap paling berbahaya dan merugikan karena dapat menyebabkan gagal panen. Siklus hidup yang relatif pendek kurang lebih 35 hari dan WBC betina dewasa yang mampu berkembang biak menjadi anakan sebanyak 300 ekor ini diharuskan untuk pencegahan dan pengendalian harus secara tuntas. Kemarau basah dengan kelembaban yang tinggi, sangat cocok bagi perkembangan WBC.
Dalam rangka pencegahan dan pengendalian dari serangan WBC, maka perlu dilakukan penyemprotan secara dini dengan menggunakan biopestisida Metarizep untuk meminimalkan kerugian. Hal ini lah yang dilakukan oleh Poktan Rukun Desa Jono dengan melakukan pencegahan serangan WBC mengingat serangan masih dalam skala kecil yaitu 1 ekor per rumpun atas rekomendasi POPT didampingi PPL Wibi. Pengamatan yang rutin dan memanfaatkan fungsi petani sebagai ahli OPT merupakan hal yang wajib dilakukan dalam budidaya khususnya padi. Dengan ini diharapkan budidaya padi dapat berkembang dengan baik sehingga hasil akhir yang dicapai dapat maksimal.
Untuk mengantisipasi munculnya WBC generasi selanjutnya yang lebih kuat dan resisten terhadap pestisida maka perlu dilakukan pergiliran pola tanam, perubahan varietas dan jeda tanam dengan waktu minimal 1 bulan dengan kondisi lahan terolah untuk memutus siklus WBC.
Penyuluh Pertanian
Kurniawan Setyo Nugroho, S.TP






