- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
Bumbung Konservasi Salah Satu Cara Efektif Untuk Mengendalikan Hama Penggerek Batang Padi

Bumbung Konservasi Salah Satu Cara Efektif Untuk Mengendalikan Hama Penggerek Batang Padi
Penggerek batang padi merupakan salah satu hama utama tanaman padi di Indonesia. Di dunia terdapat 21 spesies penggerek batang yang beradaptasi pada agroekosistem padi, sedangkan di Indonesia terdapat enam spesies yang terdiri dari lima famili Pyralidae dan satu spesies dari famili Noctuidae.
Keenam spesies tersebut adalah penggerek batang padi kuning Scirpophaga incertulas Walker, penggerek batang padi putih Scirpophaga innotata, penggerek batang padi bergaris Chilo suppressalis Walker, penggerek batang padi kepala hitam Chilo polychrysus Meyrick, penggerek batang padi berkilat Chilo auricilius Dudgeon, dan penggerek batang padi merah jambu Sesamia inferens Walker.
Penggerek batang menyerang tanaman padi sejak di persemaian hingga tanaman pada stadia matang. Semua spesies penggerek batang melalui metamorfosa sempurna sehingga siklus hidupnya terdiri atas stadia telur, larva, pupa, dan dewasa atau imago. Larva merupakan stadia yang menggerek tanaman dan menimbulkan kerusakan. Imago bersifat nocturnal, yaitu aktif di malam hari dan disebut ngengat atau moth.
Semua spesies penggerek batang padi menjalani proses yang sama, yaitu telur diletakkan pada daun atau pelepah daun. Larva yang baru menetas dari telur, yaitu larva instar 1, bergerak ke dalam tanaman melalui celah antara pelepah dan batang dan menuju bagian tengah anakan padi. Sebagian larva mengeluarkan benang halus dan dipakai untuk bergelantung pada bagian ujung daun dan berayun-ayun sampai ke rumpun padi yang lain atau permukaan air.
Larva hidup dalam tanaman sampai instar ke-5 atau ke-6 larva, bergantung pada lingkungan dan larva pindah dari satu tunas ke tunas lainnya.
Spesies penggerek batang padi yang beradaptasi pada satu agroekosistem akan mejadi spesies yang dominan. Dari enam spesies penggerek batang yang ditemukan pada tanaman padi di Indonesia, empat di antaranya lebih dominan. Keempat spesies tersebut adalah penggerek batang padi kuning, penggerek batang padi putih, penggerek batang merah jambu, dan penggerek batang bergaris.
Pengendalian hama penggerek batang padi mengedepankan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Dalam hal ini pengendalian difokuskan pada hama sasaran dengan mempertimbangkan kelestarian ekosistem. PHT penggerek batang padi memerlukan bioekologi setiap spesies penggerek dan teknologi pengendalian sebagai komponen PHT. Penggunaan insektisida dalam PHT merupakan alternatif terakhir kalau komponen teknologi lainnya tidak efektif.
Salah satu cara yang efektif adalah pengendalian Hama penggerek batang padi di persemaian dengan menggunakan bumbung konservasi. Dua puluh tahun sudah berlalu sejak pertama kali bumbung konservasi diperkenalkan melalui Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SL PHT) yang dicanangkan Kementerian Pertanian (Kementan). Namun, hingga saat ini petani yang menerapkan Bumbung Konservasi ini masih terbilang sedikit.
Bumbung konservasi ini terbuat dari bambu yang diberikan lubang di setiap bukunya sebagai tempat untuk meletakkan kelompok telur penggerek batang padi dan diolesi oli bekas di sekitar lubang,
Ada dua keuntungan bila kita memanfaatkan bumbung konservasi di areal persawahan. Pertama, populasi penggerek padi dapat ditekan karena kita memungut kelompok telur penggerek padi untuk disimpan di bumbung konservasi. Dalam satu kelompok telur ada sekitar 200-300 buah.
Kedua, dalam kelompok telur tersebut akan menetas menjadi 4 macam yaitu hama ulat (larva penggerek) dan parasitoid sebagai musuh alami. Dengan bumung konservasi ini maka musuh alami ini akan tetap terjaga populasinya karena dari kelompok telur penggerek akan menetas beberapa jenis parasitoid diantaranya Telenomus rowani, Trichogramma japonicum dan Tetrastichus schoenobii. Tingkat parasitasi dari 3 jenis parasitoid ini sekitar 60%. Jadi jika yang keluar dari kelompok telur adalah larva penggerek maka akan terperangkap pada oli yang dioleskan disekitar lubang. Sedangkan jika parasitoid yang keluar, maka akan terbang kembali ke alam. Namun demikian, pemasangan bumbung konservasi ini sama sekali tidak akan bermanfaat jika petani enggan melakukan pemungutan kelompok telur dan memasukannya ke bumbung konservasi.
Sebanyak 30 orang petani perwakilan dari 8 Kelompok Tani di Kecamatan Banyuurip yang tergabung dalam Kelompok Tani Satelit CSA SIMURP yaitu Kelompok Tani Mandiri Desa Bajangrejo, Kelompok Tani Tani Makmur Desa Bencorejo, Kelompok Tani Tani Subur Desa Bencorejo, Kelompok Tani Tani Tri Utomo Desa Wangunrejo, Kelompok Tani Dadi Lancar Desa Cengkawakrejo, Kelompok Tani Manunggal Karya Desa Cengkawakrejo, Kelompok Tani Tani Mukti Desa Cengkawakrejo dan Kelompok Tani Lestari Widodo III Desa Popongan mengikuti kegiatan pelatihan pembuatan bumbung konservasi di Rumah Bapak Tujiyanto RT 01 RW 01 Desa Bajangrejo Kecamatan Banyuurip. Kegiatan dilaksankan pada Hari Rabu Tanggal 24 Novemvber 2021. Hadir dalam acara ini adalah Koordinator BPP Banyuurip (Sri Lastuti, SP), POPT Kecamatan Banyuurip (Wahidatun Jamaliyah, SP) dan PPL Banyuurip ( Tri Yogo Kurniawan dan Noormia Satyapeni, SP).
Petani peserta pelatihan diberikan sosialisasi terlebih dahulu tentang hama penggerek batang padi oleh POPT Kecamatan Banyuurip Wahidatun Jamaliyah, SP kemudian diajak untuk praktik membuat bumbung konservasi. Adapun Bahan yang digunakan adalah Bambu 2 / 3 ros, Gelas air mineral, dan Oli Bekas. Sedangkan alat yang diperlukan adalah Gergaji dan Gunting. Untuk Cara pembuatan adalah pertama- tama bambu dipotong 2 /3ros, bagian atas diberi lubang, lubang dolesi dengan oli bekas. Bagian bawah bambu di runcingkan untuk ditancapkan di lahan persemaian. Kemudian bagian atas diberi pelindung dari gelas air mineral.
Jadi jika yang keluar dari kelompok telur adalah larva penggerek maka akan terperangkap pada oli yang dioleskan disekitar lubang. Sedangkan jika parasitoid/ musuh alami yang keluar, maka akan terbang kembali ke alam. Namun demikian, pemasangan bumbung konservasi ini sama sekali tidak akan bermanfaat jika petani enggan melakukan pemungutan kelompok telur dan memasukannya ke bumbung konservasi.
Harapannya setelah mengikuti pelatihan petani akan semakin bijaksana dalam pengendalian hama penyakit tanaman dalam budidaya padi. Secara perlahan-lahan namun pasti penggunaan pestisida nabati akan semakin berkurang. Selain itu ongkos produksi juga dapat dikurangi. Sebanyak 30 petani tersebut diharapkan akan mempraktikan penggunaan bumbung konservasi di desa masing-masing dan menyebarkan informasi yang diperoleh kepada petani yang lainnya.
By: Noormia Satyapeni, SP
Penyuluh Pertanian Banyuurip.






