- Rapat Sosialisasi Pelarangan Perdagangan daging Anjing dan kucing di Jawa Tengah
- Bumbung Konservasi Inovasi Ramah Lingkungan untuk Pengendalian Penggerek Batang Padi
- Rakor Internal unsur Pimpinan DKPP
- KONSULTASI DILAKUKAN AGAR TERCAPAI KEGIATAN YANG OPTIMAL
- RUMAH PANGAN KITA SEBAGAI SOLUSI UPAYA STRATEGIS MENJAGA STABILITAS HARGA PANGAN DI TINGKAT KONSUMEN
- Persiapan penyaluran Banpang (beras dan minyak goreng) Alokasi feb-maret 2026
- Halal bi Halal: Tradisi Bersilaturahmi dan Mempererat Persaudaraan
- Hari Terakhir Pelayanan Keswan di Bulan Suci Ramadhan INi
- Upaya Percepatan Penurunan Stunting di Wilayah Cangkrep Lor Kabupaten Purworejo
- Gerdal OPT Walangsangit di KT Semi Gintungan, Gebang
Bumbung Konservasi Inovasi Ramah Lingkungan untuk Pengendalian Penggerek Batang Padi

Bumbung Konservasi Inovasi Ramah Lingkungan untuk Pengendalian Penggerek Batang Padi
BPP Grabag pada hari Senin tanggal 30 Maret 2026 melakukan penyuluhan pertanian di Desa Bendungan Kecamatan Grabag dengan materi Bumbung Konservasi. Pertemuan ini dihadiri perangkat desa dan beberapa perwakilan dari empat kelompok tani.
Bumbung Konservasi merupakan salah satu inovasi sederhana yang dapat dimanfaatkan petani untuk mengendalikan hama penggerek batang padi (PBP) secara alami. Alat ini terbuat dari bahan bambu yang mudah ditemukan di pedesaan, sehingga pembuatannya tidak memerlukan biaya yang besar. Prinsip kerja bumbung konservasi adalah dengan menyediakan tempat berkembang biak bagi musuh alami hama, terutama parasitoid telur seperti Trichogramma sp. dan Telenomus sp., yang berperan penting dalam menekan populasi PBP.
Penggerek batang padi dikenal sebagai salah satu hama utama pada tanaman padi yang dapat menyebabkan kerusakan serius, terutama pada fase vegetatif dan generatif. Serangan hama ini dapat mengakibatkan gejala sundep dan beluk yang berdampak pada penurunan hasil panen. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengendalian yang efektif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
Cara kerja dan pembuatan bumbung konservasi:
1. Bumbung konservasi dibuat dari bambu dengan memberikan lubang di beberapa ruasnya.
2. Bagian atas bumbung dipasang atap untuk melindungi telur dari hujan.
3. Disekitar lubang diberikan vaselin /gemuk/perekat yang dimaksudkan agar ulat yang menetas tidak bisa keluar.
4. Kelompok telur PBP yang ditemukan di persawahan dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam lubang-lubang bumbung tersebut.
5. Telur-telur PBP yang ditempatkan di dalam bumbung akan menetas dan menjadi parasitoid.
6. Parasitoid akan keluar dari bumbung dan mencari telur PBP lain untuk dimangsa, sehingga populasi hama PBP dapat ditekan.
Parasitoid yang berkembang di dalam bumbung akan keluar untuk mencari telur PBP lain di area persawahan. Dengan demikian, populasi hama dapat ditekan secara alami tanpa perlu menggunakan pestisida kimia. Keberadaan parasitoid ini sangat penting karena dapat menjaga keseimbangan ekosistem dan mengurangi ketergantungan petani pada bahan kimia yang berpotensi mencemari lingkungan.
Pemanfaatan bumbung konservasi memberikan banyak manfaat bagi petani. Selain efektif menekan populasi PBP, alat ini ramah lingkungan, mudah dibuat, dan biayanya murah. Dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal seperti bambu, petani dapat membuat bumbung konservasi sendiri tanpa memerlukan keterampilan khusus. Hal ini menjadikan metode ini sangat cocok diterapkan di daerah pedesaan yang mengandalkan pertanian padi.
Selain itu, bumbung konservasi juga berperan penting dalam pelestarian musuh alami hama. Dengan menyediakan habitat bagi parasitoid, keseimbangan ekosistem dapat terjaga, sehingga keberadaan hama tetap terkendali secara alami. Metode ini sekaligus mendukung sistem pertanian ramah lingkungan yang aman bagi lingkungan dan kesehatan manusia.
Secara keseluruhan, bumbung konservasi adalah solusi praktis, efektif, dan ramah lingkungan untuk mengendalikan hama penggerek batang padi. Dengan memanfaatkan musuh alami, petani tidak hanya dapat mengurangi kerusakan tanaman, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem pertanian. Penerapan metode ini diharapkan dapat terus dikembangkan dan disosialisasikan agar semakin banyak petani yang memanfaatkannya dalam budidaya padi.





