- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
- JARINGAN IRIGASI TERSIER (PITER) TA. 2026
Bumbung Konservasi Ampuh Mengendalikan Telur Penggerek Batang Padi

Bumbung Konservasi Ampuh Mengendalikan Telur Penggerek Batang Padi
Kamis , 22 Desember 2022 bersama seluruh anggota Poktan Sido Makmur ,POPT Kecamatan Loano Ibu Wagiyanti, SP, PPL Winaryanti dan Deni Haryanto, SP pada kegiatan SL IPDMIP . Di Desa Kedungpoh Kecamatan Loano mempraktekan pembuatan alat untuk mengamati keberadaan hama penggerek batang yang ada pada tanaman padi atau yang sering disebut istilah Bumbung Konservasi. Ini salah satu cara konservasi musuh alami terutama parasitoid.
Adapun cara menggunakan bumbung konservasi ini cukup mudah yakni ditancapkan disekitar tanaman padi, dengan ruas paling atas di lubangi dan disekitar lubang diolesi dengan stampad. Untuk langkah selanjutnya yaitu memasukan kelompok kelompok telur penggerek batang yang ditemukan kedalam lubang pada bambu tadi, yang menetas menjadi larva penggerek batang akan menempel di stampad dan mati, kemudian parasitoid akan keluar dari bumbung dan siap memarasit (memakan) telur-telur penggerek batang yang ada di tanaman padi.
Cara membuat alat ini cukup mudah yaitu dengan menyiapkan bahan seperti bambu dan jerigen bekas sebagai penutup atas agar lubang bambu tidak termasuki air hujan, dan alat yang diperlukan yakni gergaji, parang, martil, dan paku.
Ada dua keuntungan jika kita memanfaatkan bumbung konservasi di areal persawahan. “Pertama” populasi penggerek batang padi bisa ditekankarena kita memungut kelompok telur penggerek padi untuk disimpan di bumbung konservasi. “Kedua” parasitoid sebagai musuh alami akan terjaga populasinya karena dari kelompok telur penggerek akan menetas beberapa jenis parasitoid diantaranya telenomusrowani, Trichogramma japonicumdan, Tetrastichus schoenobii.
Namun demikian, pemasangan bumbung konservasi ini sama sekali tidak akan bermanfaat jika petani enggan melakukan pemungutan kelompok telur dan memasukan ke bumbung konservasi. “Jadi” inti dari keberhasilan pada pengendalian hama padi tergantung kesadaran dan peran aktif petani untuk mulai menggerakkan pemakaian bumbung konservasi ini.
Diharapkan dengan adanya pelatihan IPDMIP ini dapat meningkatkan peran aktif/ partisipasi kelembagaan petani dalam menerapkan inovasi teknologi guna meningkatkan produksi hasil pertanian, dan kemudian bisa meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani / pelaku utama.
Winaryanti (PPL BPP Loano)






