- Gerakan Pengendalian Menggunakan Agen Hayati Ramah Lingkungan di Desa Kerep Kemiri
- RUMAH PANGAN KITA DKPP PURWOREJO SENANTIASA HADIR MENEMANI SETIAP JUM’AT PAGI
- PEMANTAUAN DISTRIBUTOR BAPOKTING OLEH PENGAWAS HARGA PANGAN DI KABUPATEN PURWOREJO
- Refilling Nitrogen Cair Guna Sukseskan Inseminasi Buatan Ternak
- Menyulam Ilmu di Hamparan Tembakau
- Gerakan Pengendalian Tikus Serempak di Lima Kecamatan Kabupaten Purworejo
- BPP Purworejo Gelar Gerdal Tikus Susulan di Cangkreplor, Amankan Produksi Padi MT II
- Jamin Daging Kurban Aman, Tim DKPP Purworejo Sisir Belasan Kecamatan
- Prosesi Penyembelihan Sapi Kurban Bantuan Presiden Republik Indonesia ????✨
- PENYERAHAN BANTUAN PANGAN SECARA SIMBOLIS OLEH WAKIL BUPATI PURWOREJO DI DESA TEGALSARI
BPP Purworejo Fasilitasi Gerakan Pengendalian Hawar Daun Bakteri Guna Selamatkan Panen Petani

BPP Purworejo Fasilitasi Gerakan Pengendalian Hawar Daun Bakteri Guna Selamatkan Panen Petani
Sektor pertanian di Kecamatan Purworejo memiliki peran vital dalam menopang ketahanan pangan lokal. Dengan hamparan sawah yang subur, mayoritas petani di wilayah ini menggantungkan hidupnya pada budidaya padi. Namun, upaya menjaga kualitas dan kuantitas panen seringkali menghadapi tantangan serius, salah satunya adalah serangan hama dan penyakit tanaman. Pada Senin, 8 Desember 2025, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Purworejo bertindak cepat memfasilitasi pelaksanaan Gerakan Pengendalian Hawar Daun Bakteri (HDB) atau Bacterial Leaf Blight yang menyerang areal persawahan Kelompok Tani Maju Jaya di Kelurahan Sindurjan..
Hawar Daun Bakteri (HDB) adalah salah satu penyakit penting pada tanaman padi yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae. Penyakit ini dikenal sangat merugikan karena dapat menyebabkan penurunan hasil panen yang signifikan, bahkan dapat memicu gagal panen jika serangan terjadi pada fase kritis pertumbuhan padi. Gejala awal penyakit ini sering ditandai dengan munculnya bercak kebasahan pada daun yang kemudian meluas dan mengering, membuat daun tampak seperti terbakar (hawar).
Serangan Hawar Daun Bakteri memiliki dampak ekonomi yang sangat besar. Pada kondisi serangan yang parah dan tidak terkendali, HDB dapat menyebabkan kehilangan hasil panen padi mulai dari 20% hingga mencapai 50%. Kerugian ini tidak hanya berdampak pada kerentanan ekonomi para petani, tetapi juga langsung mengancam ketahanan pangan di tingkat lokal maupun regional.
Menurunnya produksi padi akibat HDB berarti berkurangnya pasokan beras di pasar, yang berpotensi memicu kenaikan harga dan mempersulit akses masyarakat terhadap pangan pokok. Oleh karena itu, Gerakan Pengendalian yang diinisiasi BPP Purworejo ini merupakan upaya strategis untuk melindungi potensi produksi pangan, memastikan ketersediaan beras, dan menjaga stabilitas harga pangan.
Bakti Woro Haryanti selaku PPL Kecamatan Purworejo menyampaikan gerakan pengendalian ini dilatarbelakangi oleh laporan peningkatan intensitas serangan HDB di beberapa petak sawah anggota Kelompok Tani Maju Jaya. “Serangan yang terus meluas dikhawatirkan akan mengancam produksi padi secara keseluruhan menjelang masa panen khususnya pada MT I tahun 2025/2026 ini, semoga segera dapat dikendalikan dan kondisi tanaman bisa pulih dan menghasilkan produktivitas yang tinggi pada saat panen, tambahnya. Berdasarkan hal tersebut, BPP Kecamatan Purworejo segera menginisiasi gerakan ini dengan tujuan utama:
1. Menekan laju penyebaran penyakit Hawar Daun Bakteri.
2. Meningkatkan kesadaran dan kemampuan petani dalam mengidentifikasi dan menangani serangan HDB secara tepat dan terpadu.
3. Meminimalisasi kerugian hasil panen akibat serangan penyakit, demi menjaga ketahanan pangan wilayah.
Kegiatan ini dihadiri oleh 30 orang yang terdiri dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kecamatan Purworejo, serta seluruh pengurus dan anggota Kelompok Tani Maju Jaya. Dalam Gerakan Pengendalian ini, PPL dan POPT memberikan bimbingan teknis mengenai penerapan strategi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, bukan hanya berfokus pada penggunaan bahan kimia. Langkah-langkah pengendalian yang diterapkan meliputi:
· Sanitasi dan Pengaturan Air: Petani diajarkan pentingnya mengurangi genangan air di sawah (irigasi berselang/intermiten) dan membuang sisa-sisa tanaman terinfeksi dari lahan (sanitasi) untuk memutus siklus hidup bakteri.
· Aplikasi Hayati/Pestisida Nabati: Dilakukan demonstrasi penggunaan agen hayati dan pestisida nabati sebagai alternatif untuk menekan perkembangan bakteri, yang lebih aman bagi ekosistem sawah dan kesehatan petani.
· Edukasi Penggunaan Pupuk: PPL menekankan pentingnya pupuk berimbang, terutama menghindari dosis Nitrogen (N) yang berlebihan, karena kadar N yang tinggi dapat memicu serangan HDB menjadi lebih parah.
Ketua Kelompok Tani Maju Jaya, Achmad Solichin, menyampaikan apresiasinya atas respon cepat BPP. "Kami sangat terbantu dengan adanya gerakan ini. Serangan HDB sudah mulai mengkhawatirkan. Dengan bimbingan PPL, kami jadi tahu bahwa pengendalian tidak selalu harus dengan kimia, tapi juga dengan pengelolaan air dan pupuk yang benar," ujarnya.
Sementara itu, Wagiyanti, POPT Kecamatan Purworejo, menegaskan bahwa Gerakan Pengendalian ini adalah langkah awal. "Kami berharap setelah ini, petani konsisten menerapkan prinsip PHT. Kunci utama pengendalian HDB adalah pemilihan varietas tahan, pengaturan jarak tanam, dan pengelolaan air yang tepat. BPP akan terus memantau perkembangan di lapangan," tutupnya. Gerakan ini menjadi bukti komitmen Balai Penyuluhan Pertanian Purworejo dalam mendampingi petani, memastikan budidaya padi berjalan optimal, dan mengamankan hasil panen demi ketahanan pangan di wilayah Kecamatan Purworejo.
Disusun Oleh : Bakti Woro Haryanti, SP (PPL Kecamatan Purworejo)






