- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
- JARINGAN IRIGASI TERSIER (PITER) TA. 2026
BPP NGOMBOL GIATKAN SEKOLAH LAPANG SIMURP UNTUK GENJOT PERTANIAN CERDAS IKLIM

GENJOT PERTANIAN CERDAS IKLIM, BPP NGOMBOL GIATKAN SEKOLAH LAPANG SIMURP
Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP) merupakan kegiatan modernisasi dan rehabilitasi jaringan irigasi yang mendesak dan penting. Tujuan pelaksanaan CSA yaitu (1) peningkatan indeks pertanaman, produktivitas dan pendapatan sektor pertanian, (2) penguatan adaptasi dan ketangguhan petani terhadap dampak perubahan iklim (DPI) (3) penurunan dan atau menghilangkan emisi gas rumah kaca (GRK).
Senin, 11 Juli 2022 BPP Kecamatan Ngombol mengadakan sekolah lapang program CSA SIMURP di Kelompok Tani Mukti Desa Wasiat yang hadiri oleh Turoso selaku Training Of Master SIMURP, Kepala Desa Wasiat Sulit Sukesi, Koordinator PPL Kecamatan Ngombol Bakti Woro Haryanti, PPL Wibi Rustanti, Petugas POPT M. Rifqi Pradana, dan peserta sebanyak 25 orang petani.
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, Pertanian Cerdas Iklim memiliki dampak positif untuk pertanian dan proyek SIMURP ini sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Pertanian yang difokuskan pada tiga tujuan pembangunan pertanian. "Tepatnya, penyediaan pangan bagi 273 juta rakyat Indonesia, meningkatkan kesejahteraan petani, dan meningkatkan ekspor," ujar Mentan SYL
Dalam sambutannya, Turoso selaku TOM SIMURP Kabupaten Purworejo menyampaikan dengan adanya program SIMURP dapat menurunkan emisi GRK pada sektor pertanian, melalui teknologi berbasis pertanian cerdas iklim. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan monitoring dan pengawasan secara berkala, sehingga dapat dipantau dan ditekan kuantitasnya.
Sulit Sukesi selaku Kepala Desa Wasiat menyampaikan bahwa Pemerintah Desa Wasiat sangat mendukung kegiatan sekolah lapang ini. “Untuk lahan demplot yang digunakan untuk praktek teknologi CSA yaitu lahan bengkok perangkat desa seluas 1 hektar yang dilakukan pada musim tanam ketiga 2022 ini, dengan melibatkan petani peserta kegiatan sekolah lapang ini”. “Dengan adanya kegiatan ini nantinya diharapkan semua petani dapat mengadopsi teknologi yang diterapkan di lahan demplot sehingga dapat meningkatkan produktivitas padi”, tambahnya.
Pada sekolah lapang ini, petani diajak melakukan praktek menentukan dosis pupuk dasar N, P, K dan Ph dengan menggunakan perangkat uji tanah sawah (PUTS). Tanah sawah diambil dengan kedalaman 20 cm secara acak sebanyak 9 titik lalu campur menjadi satu. Ambil bagian tanah sebanyak 0,5 gram lalu tambahkan dengan larutan kimia sesuai petunjuk. Dari hasil analisis diperoleh kadar N yaitu dengan status rendah, kadar P dengan status tinggi, kadar K tinggi dan ph netral. Dengan rekomendasi pupuk sebagai berikut. Rekomendasi urea untuk tanah berpasir 300 kg/ha dan tanah berliat yaitu 250 kg/ha, Pupuk SP-36 sebanyak 50 kg/ha Pupuk KCL sebanyak 50 kg/ ha apabila ditambah dengan jerami sebanyak 5 ton jerami/ ha. Dengan mengetahui kadar status hara yang ada didalam tanah petani dapat memberikan pupuk N, P, dan K dengan tepat sehingga dapat diperoleh penghematan pupuk.
Selanjutnya untuk mendapatkan benih yang bernas dan bermutu, petani diberi pemahaman dengan mempraktekan secara langsung perlakuaan seleksi benih dengan menggunakan larutan air garam dengan telur. Apabila telur mengapung, benih dimasukan ke larutan tersebut dan benih yang tenggelam adalah benih yang akan digunakan untuk persemaian. Benih dicuci dengan air bersih dan direndam selama 48 jam kemudian ditiriskan selama 24 jam. Setelah seleksi benih, tahan selanjutnya yaitu pengenalan sistem tanam jajar legowo untukmeningkatkan produktivitas tanaman padi.
Selain itu, petani secara aktif terlibat dalam praktek pembuatan pupuk organik padat yaitu bokashi dengan bahan dasar kotoran hewan sebanyak 2 ton, 2 L EM4, 2 L tetes tebu dan air secukupnya. Pembuatan pupuk organik ini sebagai cara untuk mengambalikan kesuburan tanah akibat penggunaan pupuk kimia yang terus menerus.
Untuk Teknologi Hemat Air, petani diberi pemahaman dengan berdiskusi bahwa tanaman pad bukan tanaman air tetapi tanaman yang membutuhkan air. Sehingga tanaman padi tidak selalu digenangi air terus menerus, kadang diairi dan kadang dikeringkan. Selanjutnya petani peserta diajarkan membuat pralon AWD yang digunakan sebagai indikator ketinggian air di sawah.
Sebagai pendukung penerapan teknologi pengendalian OPT ramah lingkungan, petani belajar bersama dengan praktek pembuatan pestisida nabati dengan bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar yaitu 1 buah maja, daun mimba, 1 ons lengkuas, 1 ons serai, 1 ons jahe dan 1 ons kunyit. Bahan tersebut ditumbuk dan dicampurkan dengan 10 L air direndam selama 24 jam. Dosis penggunan yaitu 1: 10 dan dapat diaplikasikan setiap 1 minggu sekali. Penggunaan pestisida nabati bersifat mudah terurai di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia.
Sebagai penutup kegiatan SL, petani belajar bersama mengembangkan Agensia Pengendali Hayati (APH) yaitu Jamur Beauveria Bassiana dengan alat fermentor dan media Ekstrak Kentang Gula (EKG), yang dapat digunakan sebagai pengendali hama walang sangit, ulat penggerek dan wereng batang coklat. Jamur Beauveria Bassiana merupakan salah satu APH yang sesuai dengan tujuan pengendalian OPT ramah lingkungan yaitu tidak mengandung racun dan tidak meninggalkan residu.
Pengirim : Yeni rahmawati,AMd PPL Kecamatan Ngombol






