BPP Grabag Suport Desa Ketawangrejo Belajar Pertanian Organik

By DINPPKP 14 Agu 2024, 10:29:35 WIB Penyuluhan
BPP Grabag Suport Desa Ketawangrejo Belajar Pertanian Organik

Grabag News Update,,

Penggunaan bahan kimia anorganik yang berlebihan mengakibatkan dampak buruk terhadap lahan dan tanaman. Di tengah masyarakat muncul kecemasan akan tingginya kandungan residu pestisida pada produk pertanian. Diperlukan pengembangan sistem pertanian alternatif yang mampu menghasilkan kuantitas dan kualiatas produk yang sehat secara berkelanjutan. Salah satu sistem pertanian yang mendukung konsep tersebut adalah sistem pertanian organic.  Konsep pengembangan dan gambaran teknologi pertanian organik  yang berkembang saat ini mengacu pada konsep pendekatan sistem pertanian tradisional yang hanya bertumpu pada teknologi sederhana termasuk bahan-bahan organik,  sistem pertanian yang berasal dari bahan organic seperti pupuk organik, pestisida organik dan bahan-bahan organik lainnya, serta sistem pertanian campuran yang melibatkan berbagai sistem usaha tani yang memproduksi bahan organik seperti peternakan, perikanan, dan mikroorganisme pengurai untuk menghasilkan pupuk guna mendukung system produksinya secara berkelanjutan.

Hal tersebut yang mendorong kelompok tani Mukti Barokah Desa Ketawangrejo untuk sama-sama belajar mengenai pertanian organik. Kelompok tani yang sebagian besar beranggotakan petani millenial ini meminta untuk diadakan praktik pembuatan pupuk organik padat. Pada hari Selasa, 6 Agustus 2024 bertempat dirumah ketua kelompok tani (Mujiyono) diadakan praktik pembuatan bokashi. Bahan yang digunakan yaitu kotoran ternak sebanyak 1 ton, molase, em4, sekam dan bekatul. Proses pembuatan diawali dengan mencampurkan kotoran ternak  dengan sekam, dedak padi, dan diaduk merata. Setelah itu Siramkan EM4 secara perlahan-lahan kedalam adonan secara merata  sampai kandungan air adonan mencapai 30% Bila adonan dikepal dengan tangan, air tidak menetes  dan bila kepalan tangan dilepas  maka adonan mudah pecah. Tahap selanjutnya yaitu adonan digundukan diatas lantai dengan ketinggian 20 cm dan ditutup dengan terpal. Suhu yang digunakan tidak boleh melebihi dari 50˚ C. Apabila suhu terlalu panas maka adonan segera diaduk. Setelah 14-30 hari bokashi telah selesai terfermentasi  dan siap digunakan sebagai pupuk organik.

Mujiyono selalu ketua kelompok mengucapkan terima kasih kepada PPL Wibi dan PPL Kecamatan Grabag yang telah melakukan pendampingan dalam proses pembuatan pupuk organik, ia berharap semoga bokashi yang dibuat berhasil yang selanjutnya akan digunakan untuk budidaya papaya California. “Saya berharap semoga kegiatan praktik pembuatan bokashi ini berhasil sehingga bisa langsung saya terapkan untuk budidaya tanaman papaya”. Mujiyono juga berharap pada pertemuan selanjutnya dilaksanakan praktik pembuatan pestisida atau bahan organik lain yang dapat digunakan untuk mengendalikan dan pencegahan OPT pada tanaman budidayanya.





Berita Purworejo

Counter Pengunjung