- Banter Melaju Disosialisasikan di Kemejing, Warga Antusias Sambut Peluang Ternak Kambing Jawa Randu
- Tindaklanjut Pengaduan Warga Mengenai Peternakan Ayam
- Gapoktan Desa Pakisarum Gelar Sosialisasi eRDKK 2027, Pastikan Petani Akses Pupuk Subsidi
- Ubinan Padi Varietas Inpari 32 di Desa Gowong Tunjukkan Produktivitas Menjanjikan
- Jalan Usaha Tani (JUT) DKPP Tahun Anggaran 2026
- DKPP Lakukan Pengujian Sampel PSAT Pasca Idul Fitri 1447 H
- Refilling Nitrogen Cair untuk Mendukung Kegiatan Inseminasi Buatan Ternak
- Seleksi Hibah Ternak 2027 Dimulai, DKPP Purworejo Verifikasi Proposal dari 14 Kecamatan
- PEMKAB PURWOREJO DAN PERUM BULOG SIAP SALURKAN BANTUAN PANGAN BERAS DAN MINYAK GORENG ALOKASI FEBRUARI-MARET 2026
- Pemantauan Harga Bahan Pokok Penting Pasca HBKN Idul Fitri 1447H
BPP GRABAG, GELAR PELATIHAN TEMATIK PEMBUATAN PUPUK ORGANIK

BPP GRABAG, GELAR PELATIHAN TEMATIK PEMBUATAN PUPUK ORGANIK
Grabag News – Petani Kecamatan Grabag mendapat pelatihan tematik pembuatan pupuk organik yang diselenggarakan oleh BPP Kecamatan Grabag pada hari ini Senin (10/10/2022) di Aula BPP Kecamatan Grabag.
Koordintor BPP Kecamatan Grabag, Umiyatun Wijayanti, STP mengatakan bahwa kegiatan tersebut diselenggarakan dalam rangka pengembangan kapasitas kelembagaan petani sekaligus untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia.
“Alhamdulillah, karena BPP Kecamatan Grabag dipercaya mendapat kegiatan pelatihan tematik pembuatan pupuk organik dan berharap kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan sebaik- baiknya. Kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang cara pembutan pupuk organik yang benar dan efektif, dan ketika dipraktekkkan di lapang, petani harus benar- benar menerapkan hal ini” ungkap Umiyatun Wijayanti, STP mengawali sambutannya.
Dalam kegiatan tersebut, diikuti oleh 25 petani dan menggandeng Penyuluh Kecamatan Grabag sebagai narasumber untuk penyampaian materi dan dilanjutkan praktek langsung pembutaan pupuk organik.
Acara dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh penyuluh. Menurut narasumber, Umul Khasunah, SP., MAP, bahwa jika musim panen padi tiba banyak limbah jerami yang didiamkan saja. Bahkan sebagian besar petani sering membakar jerami dengan alasan mengejar waktu tanam, kalo jerami dikembalikan ke sawah nanti olah tanahnya berat karena jeraminya belum hancur tetapi waktu pembajakan sudah dimulai, budaya ternak belum begitu banyak, sehingga jerami tidak dimanfaatkan untuk pakan akhirnya hanya dibakar.
“Kita memang harus memahami posisi petani yang sudah terbiasa dengan budaya instan yang membuat para petani ketika selesai panen tergopoh- gopoh untuk segera mengolah lahannya untuk ditanami kembali. Beberapa kasus malah menjelang panen para petani sudah membuat persemaian padi, sehingga lahan memang tidak ada kesempatan untuk istirahat. Peluang membuat kompos dari bahan jerami untuk saat ini memang mensyaratkan agar ada jeda lahan (masa istirahat) selama minimum 3-4 minggu. Jika alokasi waktu istirahat sangat pendek misal 1-2 minggu, nyaris sangat sulit untuk mengajak petani mengomposkan jerami pada lahan, meskipun dengan teknik sederhana,” tambahnya lagi.
Beliau juga menyampaikan, selama ini, pengetahuan petani dalam membuat pupuk organik sekedar dicacah, ditutup terpal dan hanya dibalik- balik saja, jadi kalo skalanya untuk jerami satu hektar mereka merasa repot membalikknya. Hal seperti ini yang membuat petani malas mengolah jerami. Jika butuh pupuk organik maka mereka memilih untuk membeli dengan anggapan lebih praktis.
Dilanjutkan dengan praktek pembuatan pupuk organik yang dipandu oleh penyuluh yang juga praktisi dalam pembuatan pupuk organik, Suharyanto, A.Md. Beliau menyampaikan bahwa ada banyak cara dalam proses pembuatan pupuk organik, salah satunya ialah dengan memanfaatkan EM4 (Efective microorganisme 4). Metode pengomposan EM4 ini merupakan cara yang sangat sederhana, efektif dan sangat cepat. Dengan menggunakan EM4 ini, maka dalam produksi kompos jadi lebih cepat, dikarenakan EM4 ini mengandung banyak sekali microba yang mampu mempercepat proses fermentasi. Mikroba yang terdapat didalam didalam EM4 ini adalah lactobacillus sp., cendawan pengurai selulosa, bakteri fotosintetik, dan juga azotobacter sp.
“Dalam pembuatan pupuk organik ini sebenanrnya tak hanya memanfaatkan jerami saja, namun semua bahan organik bisa digunakan dalam pembuatan pupuk organik ini. Seperti contohnya dedak, rerumputan, limbah dapur, dedaunan kering, batang dan daun pisang, dan masih banyak lagi. Dedak memiliki peranan penting dalam proses pembuatan pupuk organik ini, dikarenakan dedak ini menjadi media yang sangat baik untuk perkembangbiakan mikroba,” ungkapnya lagi sekaligus menutup acara pelatihan tersebut.






