- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
BPP Banyuurip Lakukan Uji Hasil Susut saat Panen Padi Guna Edukasi Pasca Panen Bagi Petani
BPP
BANYUURIP LAKSANAKAN UJI HASIL KEHILANGAN SAAT PANEN PADI AGAR PETANI DAPAT
MENERAPKAN TEHNOLOGI PENANGANAN PASCAPANEN
Upaya peningkatan produksi padi harus dibarengi dengan penanganan
pascapanen yang tepat. Penanganan pascapanen padi yang kurang tepat dapat
menimbulkan kehilangan hasil, menurunkan mutu gabah dan beras. Penanganan
pascapanen padi meliputi kegiatan pemanenan (pemotongan padi), perawatan,
perontokan, pengeringan, penggilingan, pengolahan, transportasi, penyimpanan,
standardisasi mutu, dan penanganan limbah.
Pada hari Rabu, 15 Mei 2024 dilakukan uji hasil
kehilangan panen padi bertempat di Kelompok Tani Dadi Lancar, Desa Cengkawakrejo,
Kecamatan Banyuurip Kabupaten Purworejo. Kegiatan ini dilaksanakan oleh petugas
Sarlintan DKPP, PPL WIBI, dan anggota kelompok Tani Dadi Lancar. Pada
kesempatan ini, uji hasil kehilangan panen padi dilakukan untuk mengetahui persentase
kehilangan saat panen padi. Dari hasil pengamatan didapatkan hasil kehilangan
saat panen dengan menggunakan sampel dengan ukuran ubinan 5m x 5m. Kehilangan
saat memotong padi di areal sawah tedapat 24 butir, kehilangan pada saat
menggunakan mesin perontok padi 0,35 ons.
Dari hasil pengamatan ini akan memberikan informasi kepada para
petani mengenai persentase kehilangan hasil saat proses pemanenan cukup
merugikan bagi Petani ,maka perlu adanya Tehnologi untuk mengurangi persentase
kehilangan hasil dari proses pemanenan tersebut.
Teknologi
penanganan pascapanen ditujukan untuk mengurangi atau menekan kehilangan hasil,
memperbaiki kualitas gabah dan beras, serta meningkatkan rendemen giling dan
harga jual beras.
Pemanenan
Teknologi
pemanenan yang dapat mengurangi kehilangan hasil adalah sebagai berikut:
1. Panen pada umur yang optimal.
Padi yang dipanen pada umur yang optimal akan
menghasilkan gabah berkualitas baik dan rendemen giling yang tinggi. Umur panen
optimal dapat ditentukan dengan dua cara, yaitu:
a. Melihat kenampakan padi pada hamparan
sawah. Umur
panen optimal padi dicapai setelah
90–95% gabah pada malai padi sudah berwarna
kuning atau kuning keemasan.
b. Berdasarkan deskripsi varietas dan
mengukur kadar air gabah. Berdasarkan deskripsi, umur
panen padi berkisar antara 30–35 hari
setelah berbunga rata, atau 135–140 hari setelah tanam.
Sementara berdasarkan kadar air gabah, umur
panen optimum dicapai setelah kadar air gabah
mencapai
22–23% pada musim kemarau dan 24–26% pada musim hujan.
2. Menggunakan alat pemotong malai padi yang
tepat.
Sabit
bergerigi dari bahan baja yang sangat tajam dapat memotong malai padi dengan
cepat dan
mampu mengurangi kehilangan hasil sebesar 3%.
3. Cara panen
Pemilihan cara panen padi bergantung pada
cara perontokan yang akan digunakan. Jika padi digebot atau dirontokkan dengan
alat perontok tipe pedal maka padi dipanen dengan cara potong bawah. Namun,
bila menggunakan alat perontok power
thresher, cara panennya dengan potong atas atau potong tengah.
4. Sistem panen
Petani
dianjurkan untuk memanen padi dengan sistem berkelompok. Menurut penelitian BB Padi,
sistem ini mampu mengurangi kehilangan hasil sampai 4,8%.
5. Pengumpulan dan penumpukan padi
Setelah dipanen, padi dikumpulkan dan
ditumpuk di lahan. Untuk mengurangi kehilangan hasil, tempat penumpukan dan
pengangkutan padi diberi alas plastik sehingga gabah yang rontok dan tercecer
dapat ditampung dalam alas tersebut. penggunaan alas pada saat penumpukan dan
pengangkutan dapat menekan kehilangan hasil 0,9–2,4%.
Untuk mengatasi makin berkurangnya tenaga
pemanen dan mempercepat proses panen, Balitbangtan telah menghasilkan mesin
pemanen padi yang disebut combine
harvester. Selain memotong batang padi, mesin ini sekaligus
dapat merontokkan, membersihkan, dan memasukkan gabah ke dalam karung dalam
sekali proses sehingga sangat efisien.
Perontokan
Setelah
dipanen, padi dirontokkan agar gabah terlepas dari malai. menunda perontokan
padi mengakibatkan gabah menjadi berkecambah, berwarna kuning, berjamur, atau
rusak. Oleh karena itu, sebaiknya jangan menunda proses perontokan padi lebih
dari satu malam dengan tinggi tumpukan lebih dari 1 meter. ara tersebut dapat
mengurangi kehilangan hasil antara 1,3–3,1% dan terjadinya butir kuning dan
rusak sekitar 1,8–2,2%.
Kehilangan
hasil pada perontokan padi disebabkan oleh tindakan kurang hati-hati, cara
penggebotan dan frekuensi pembalikan padi, kecepatan silinder perontok, dan
besarnya alas plastik yang digunakan pada saat merontok. Penggunaan mesin
perontok (power thresher)
dapat mengurangi jumlah gabah yang tidak lepas dari malai padi dan menghasilkan
gabah yang lebih bersih dan bermutu baik. perontokan padi dengan mesin perontok
tipe TH-6 menurunkan kehilangan gabah menjadi 4,5–4,9%.
Anang Sulistio, SP- BPP Banyuurip






