BPP Banyuurip Lakukan Uji Hasil Susut saat Panen Padi Guna Edukasi Pasca Panen Bagi Petani

By DINPPKP 20 Mei 2024, 14:51:38 WIB Penyuluhan

BPP BANYUURIP LAKSANAKAN UJI HASIL KEHILANGAN SAAT PANEN PADI AGAR PETANI DAPAT MENERAPKAN TEHNOLOGI PENANGANAN PASCAPANEN

 

Upaya peningkatan produksi padi harus dibarengi dengan penanganan pascapanen yang tepat. Penanganan pascapanen padi yang kurang tepat dapat menimbulkan kehilangan hasil, menurunkan mutu gabah dan beras. Penanganan pascapanen padi meliputi kegiatan pemanenan (pemotongan padi), perawatan, perontokan, pengeringan, penggilingan, pengolahan, transportasi, penyimpanan, standardisasi mutu, dan penanganan limbah.

Pada hari Rabu, 15 Mei 2024 dilakukan uji hasil kehilangan panen padi bertempat di Kelompok Tani Dadi Lancar, Desa Cengkawakrejo, Kecamatan Banyuurip Kabupaten Purworejo. Kegiatan ini dilaksanakan oleh petugas Sarlintan DKPP, PPL WIBI, dan anggota kelompok Tani Dadi Lancar. Pada kesempatan ini, uji hasil kehilangan panen padi dilakukan untuk mengetahui persentase kehilangan saat panen padi. Dari hasil pengamatan didapatkan hasil kehilangan saat panen dengan menggunakan sampel dengan ukuran ubinan 5m x 5m. Kehilangan saat memotong padi di areal sawah tedapat 24 butir, kehilangan pada saat menggunakan mesin perontok padi 0,35 ons.   Dari hasil pengamatan ini akan memberikan informasi kepada para petani mengenai persentase kehilangan hasil saat proses pemanenan cukup merugikan bagi Petani ,maka perlu adanya Tehnologi untuk mengurangi persentase kehilangan hasil dari proses pemanenan tersebut.

Teknologi penanganan pascapanen ditujukan untuk mengurangi atau menekan kehilangan hasil, memperbaiki kualitas gabah dan beras, serta meningkatkan rendemen giling dan harga jual beras.


 

 

Pemanenan

Teknologi pemanenan yang dapat mengurangi kehilangan hasil adalah sebagai berikut:

1. Panen pada umur yang optimal.

Padi yang dipanen pada umur yang optimal akan menghasilkan gabah berkualitas baik dan rendemen giling yang tinggi. Umur panen optimal dapat ditentukan dengan dua cara, yaitu:

 

a. Melihat kenampakan padi pada hamparan sawah. Umur panen optimal padi dicapai setelah

    90–95% gabah pada malai padi sudah berwarna kuning atau kuning keemasan.

b. Berdasarkan deskripsi varietas dan mengukur kadar air gabah. Berdasarkan deskripsi, umur

    panen padi berkisar antara 30–35 hari setelah berbunga rata, atau 135–140 hari setelah tanam.

    Sementara berdasarkan kadar air gabah, umur panen optimum dicapai setelah kadar air gabah

    mencapai 22–23% pada musim kemarau dan 24–26% pada musim hujan.

2. Menggunakan alat pemotong malai padi yang tepat.

    Sabit bergerigi dari bahan baja yang sangat tajam dapat memotong malai padi dengan cepat dan

    mampu mengurangi kehilangan hasil sebesar 3%.

3. Cara panen

Pemilihan cara panen padi bergantung pada cara perontokan yang akan digunakan. Jika padi digebot atau dirontokkan dengan alat perontok tipe pedal maka padi dipanen dengan cara potong bawah. Namun, bila menggunakan alat perontok power thresher, cara panennya dengan potong atas atau potong tengah.

4. Sistem panen

Petani dianjurkan untuk memanen padi dengan sistem berkelompok. Menurut penelitian BB Padi, sistem ini mampu mengurangi kehilangan hasil sampai 4,8%.

5. Pengumpulan dan penumpukan padi

Setelah dipanen, padi dikumpulkan dan ditumpuk di lahan. Untuk mengurangi kehilangan hasil, tempat penumpukan dan pengangkutan padi diberi alas plastik sehingga gabah yang rontok dan tercecer dapat ditampung dalam alas tersebut. penggunaan alas pada saat penumpukan dan pengangkutan dapat menekan kehilangan hasil 0,9–2,4%.

Untuk mengatasi makin berkurangnya tenaga pemanen dan mempercepat proses panen, Balitbangtan telah menghasilkan mesin pemanen padi yang disebut combine harvester. Selain memotong batang padi, mesin ini sekaligus dapat merontokkan, membersihkan, dan memasukkan gabah ke dalam karung dalam sekali proses sehingga sangat efisien.


 

Perontokan 

Setelah dipanen, padi dirontokkan agar gabah terlepas dari malai. menunda perontokan padi mengakibatkan gabah menjadi berkecambah, berwarna kuning, berjamur, atau rusak. Oleh karena itu, sebaiknya jangan menunda proses perontokan padi lebih dari satu malam dengan tinggi tumpukan lebih dari 1 meter. ara tersebut dapat mengurangi kehilangan hasil antara 1,3–3,1% dan terjadinya butir kuning dan rusak sekitar 1,8–2,2%.

Kehilangan hasil pada perontokan padi disebabkan oleh tindakan kurang hati-hati, cara penggebotan dan frekuensi pembalikan padi, kecepatan silinder perontok, dan besarnya alas plastik yang digunakan pada saat merontok. Penggunaan mesin perontok (power thresher) dapat mengurangi jumlah gabah yang tidak lepas dari malai padi dan menghasilkan gabah yang lebih bersih dan bermutu baik. perontokan padi dengan mesin perontok tipe TH-6 menurunkan kehilangan gabah menjadi 4,5–4,9%.

Anang Sulistio, SP- BPP Banyuurip


 





Berita Purworejo

Counter Pengunjung