- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
- JARINGAN IRIGASI TERSIER (PITER) TA. 2026
Biosaka: dari alam kembali ke alam

Biosaka: dari alam kembali ke alam
Peserta sekolah lapang KT Mugi Makmur Desa Wareng bersama-sama belajar mempraktekkan pembuatan biosaka di kediaman ketua kelompok tani pada hari Rabu, 12 Juli 2023. Kegiatan ini dihadiri oleh 20 orang peserta Sekolah Lapang KT Mugi Makmur, Kepala Desa Wareng, PPL beserta POPT Kecamatan Butuh.
Kegiatan ini diawali dengan penjelasan materi dari PPL Kecamatan Butuh mengenai biosaka. Menurut penemu ramuan Biosaka, larutan ini dapat menghemat penggunaan pupuk kimia sebanyak 50%. Oleh karena itu, penting bagi petani untuk bisa mengetahui tentang biosaka. Biosaka sendiri bukan pupuk dan pestisida, melainkan elisitor yang dapat memicu respon fisiologi dan morfologi pada tanaman menjadi lebih baik, serta memberikan sinyal positif bagi membran sel pada akar sehingga lebih energik dan produktif. Sebelum pelaksanan Sekolah Lapang, peserta sudah diintruksikan untuk membawa minimal 5 jenis rumput-rumputan atau dedaunan yang sehat kurang lebih segenggam, baskom, saringan, corong, dan botol. Peserta Sekolah Lapang sangat antusias pada saat penyampaian materi dan praktek pembuatan biosaka.
Biosaka dibuat dengan meremas segenggam bahan minimal 5 jenis rumput/daun yang sehat sempurna dengan dicampur 2-5 liter air dalam wadah selama kurang lebih 10-20 menit sampai larutan tersebut homogen, tanpa berhenti dan tidak berganti orang. Ciri-ciri larutan biosaka yang homogen adalah tidak mengendap, tidak timbul gas, dan tidak ada butiran. Untuk warna larutan yang dihasilkan bisa berbeda-beda sesuai dengan warna rumput atau daun yang digunakan. Larutan biosaka yang homogen sempurna dapat disimpan dan digunakan sampai 5 tahun kemudian.
Biosaka yang sudah jadi dapat langsung diaplikasikan oleh petani pada tanamannya, bisa untuk tanaman pangan seperti padi dan jagung serta tanaman hortikultura seperti sayur-sayuran dan bawang merah. Dosis untuk padi dan jagung sebanyak 40ml Biosaka/15-16 liter air yang disemprotkan pada tanaman dengan cara pengabutan minimal 1 meter di atas tanaman dengan nozzle menghadap ke atas dan tidak boleh diulang-ulang. Penyemprotan disarankan dilakukan pagi atau sore hari dengan memperhatikan cuaca dan arah angin. Penyemprotan cukup dilakukan dari atas pematang dengan stik diperpanjang hingga 2-3 meter. Penyemprotan dilakukan sebanyak 7 kali dalam musim tanam diawali sejak tanaman berusia 8 HST. Jika penyemprotan tidak sesuai cara dan dosis, maka daun akan menguning atau menggulung. Untuk pemulihannya, dapat dilakukan penyemprotan yang sesuai dosis dan cara pada hari berikutnya. Harapan dari penyampaian materi ini adalah petani dapat mempraktekkan dan mengaplikasikan biosaka untuk usaha taninya serta dapat menyebarluaskan informasi ini kepada petani lainnya.






