- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
BERDASARKAN TITIK KERANGKA SAMPEL AREA (KSA) DESA KEREP, KEMIRI ADAKAN GERDAL RAMAH LINGKUNGAN
.jpg)
BERDASARKAN
TITIK KERANGKA SAMPEL AREA (KSA)
DESA KEREP,
KEMIRI ADAKAN GERDAL RAMAH LINGKUNGAN
KEMIRI KEREN NEWS –– Seperti yang
diketahui bahwa permasalahan sektor pangan terutama beras selalu ramai
dibicarakan. Hal ini dikarenakan data produksi padi disinyalir berbagai pihak
tidak akurat. Data yang tidak akurat tersebut dapat disebabkan oleh beberapa
hal diantaranya data luas bahan baku sawah yang berbeda- beda dari berbagai
lembaga, metode perhitungan luas yang kurang ilmiah, akurasi data yang belum terukur,
dan kurangnya objektif dalam menghitung luas lahan. Sementara tersedianya
informasi dan data produksi padi yang lebih cepat dan akurat sangat penting
untuk mengambil keputusan kebijakan di sektor pangan nasional. Berdasarkan
permasalahan tersebut, BPS membuat suatu metode yang lebih Objective
Measurement yang disebut dengan Kerangka Sampel Area (KSA).
Hal tersebut disampaikan Koordinator BPP
Kecamatan Kemiri, Umul Khasunah, SP., MAP., dalam Gerdal Ramah Lingkungan pada Jumat
(01/03/2024) di lahan sawah Desa Kerep, Kecamatan Kemiri.
Dalam sambutannya,
Koordinator BPP Kecamatan Kemiri memaparkan bahwa metode Kerangka Sampel Area
(KSA) ini merupakan kumpulan sampel area (segmen) berbentuk persegi, dengan
ukuran 300mx300m yang dipilih secara acak dalam suatu wilayah administrasi yang
memiliki suatu populasi areal pertanian atau sawah. Lokasi KSA ini tetap dan
tidak boleh dipindah. Nomer untuk masing masing segmen juga telah ditentukan
dan tidak boleh diubah. Satu segmen terdiri dari 9 subsegmen yang berbentuk persegi
berukuran 100mx100m. Titik- titik yang terletak di dalam sampel segmen
merupakan titik tengah dari sub segmen. Jadi dalam satu segmen terdapat 9 titik
pengamatan. Setiap titik pengamatan ini lah yang akan dikunjungi dalam waktu
tertentu untuk dicatat fase pertumbuhan padinya.
“Berbeda
dari gerdal (gerakan pengendalian) sebelumnya, kali ini gerdal di titik
beratkan pada titik KSA. Salah satunya di Desa Kerep. Kecamatan Kemiri memiliki
4 titik KSA untuk padi, yang berlokasi di Desa Rejosari, Desa Samping, Desa
Gesikan dan Desa Kerep. Sedangkan untuk jagung, titik KSA ada 3 lokasi, yaitu
Desa Loning, Desa Samping dan Desa Sutoragan,” ungkap beliau.
Beliau juga mengungkapkan
bahwa tidak hanya gerdal yang menggunakan titik KSA ini, kedepannya bantuan
benih juga didasarkan pada pendekatan KSA. Pengawalan di titik KSA ini, dimulai
dari persiapan lahan hingga panen.
“Tujuan
utama dari pendekatan KSA ini adalah untuk memperbaiki metode pengumpulan data
yang konvensional menjadi lebih obyektif, ilmiah, dan modern dengan melibatkan
peranan teknologi di dalamnya sehingga data pertanian yang dikumpulkan menjadi
lebih akurat dan tepat waktu,” tegas beliau lagi.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Desa Kerep, menyampaikan
bahwa, beliau sangat mengapresiasi kegiatan ini dan semoga dapat membantu
petani untuk mengendalikan OPT secara ramah lingkungan agar produksi padinya
meningkat, apalagi dengan harga gabah saat ini tentu akan meningkatkan
pendapatan petani juga.
“Semoga,
gerdal ini tidak hanya di titik KSA saja tetapi juga di lokasi lain. Karena
serangan hama harus dikendalikan secara menyeluruh agar lebih efektif hasilnya,”
imbuhnya lagi.
Menyadari hal tersebut, beliau berharap bahwa
dengan kegiatan ini, semoga petani Desa Kerep selalu kompak untuk mengendalikan
OPT dan tidak selalu mengandalkan pestisida kimia.
Hadir dalam acara tersebut Penyuluh Wibi Desa
Kerep, Etik Setyowati, Koordinator BPP Kecamatan Kemiri, Umul Khasunah, SP.,
MAP, Pengamat Hama Wilayah Kecamatan Kemiri, Sugiyo, Koordinator POPT,
Wakhidatun Jamaliyah, SP., Kabid Sarlintan DKPP, Jayadi, S.TP., Kepala Desa
Kerep dan peserta gerdal yang berjumlah 30 orang.
Acara dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh
Koordinator POPT, Wakhidatun Jamaliyah, SP. Menurut beliau, seperti halnya
penggunaan pupuk kimia, sistem pengendalian hama juga sudah seharusnya
dilakukan secara ramah lingkungan dengan menerapkan Pengendalian Hama Terpadu
(PHT). Dengan PHT berarti kita merubah minset atau cara berpikir dalam upaya
pengendalian populasi, atau tingkat serangan OPT dengan menerapkan berbagai
teknik pengendalian, yang dipadukan dalam satu kesatuan untuk mencegah
kerusakan tanaman dan timbulnya kerugian secara ekonomis, serta mencegah
kerusakan lingkungan dan ekosistem.
“Pengendalian terhadap
hama khususnya hama penggerak batang padi harus dilaksanakan secara terpadu
mulai dari pra tanam sampai menjelang panen. Hama penggerak batang padi
merupakan hama utama pada tanaman padi. Kerugian hasil akibat serangan hama ini
cukup besar, dengan menurunkan kuantitas dan kualitas produksi padi. Hama
penggerek batang padi dapat menyerang tanaman padi stadia umur muda/vegetatif
yang dikenal sebagai hama sundep dan menyerang tanaman stadia generatif atau dikenal
sebagai hama beluk,” ujarnya.
Seperti yang dipaparkan, Wakhidatun Jamaliyah,
SP mengatakan bahwa, pengendalian OPT dapat dilakukan secara indvidu mandiri,
maupun secara berkelompok dengan metode gerakan pengendalian (gerdal). Gerakan
ini dilakukan sebagai upaya pencegahan bila tanaman belum terserang OPT, namun
juga dapat dikatakan sebagai pengendalian apabila sudah ditemukan OPT di areal
pertanaman.
"Bahan pengendalian
yang digunakan adalah Agen Pengendali Hayati (APH) yaitu Beauveria Bassiana. Fungsi
Beauveria Bassiana untuk mengendalikan OPT padi seperti walang sangit, wereng
coklat dan penggerek batang padi," terang beliau.
Beliau menambahkan, untuk cara aplikasinya,
sebanyak 1 – 2 gram Beauveria Bassiana diencerkan dalam 1 liter air
kemudian ditambahkan 3 sendok gula pasir per tangki. Sedangkan waktu
penyemprotan sebaikanya dilakukan pagi atau sore hari. Ambang ekonomi untuk
walang sangit 1 ekor/m2 padi masak susu, sedang ambang ekonomi
wereng coklat 1 ekor/tunas. Beauveria
Bassiana ini disemprotkan di persemaian umur 14 hari, 2 minggu setelah
tanam dan umur 7 minggu setelah tanam.
“Sistem kerja Beauveria Bassiana tidak
secepat pestisida kimia, Beauveria Bassiana berbentuk spora jamur yang masuk
ketubuh serangga inang. Jamur ini selanjutnya akan mengeluarkan racun beauverin
yang membuat kerusakan jaringan tubuh serangga. Dalam hitungan hari, serangga
akan mati dengan tubuh mengeras seperti mumi dan tertutup oleh benang-benang
hifa berwarna putih.,” ungkapnya lagi.
Di akhir acara, beliau menegaskan bahwa Beauveria Bassiana memiliki banyak keunggulan yaitu selektif terhadap serangga sasaran sehingga tidak membahayakan serangga lain bukan sasaran, seperti predator, parasitoid, serangga penyerbuk, dan tidak meninggalkan residu beracun pada hasil pertanian, dalam tanah maupun pada aliran air alami, tidak menyebabkan fitotoksin (keracunan) pada tanaman, mudah diproduksi dengan teknik sederhana. Prospek penggunaan jamur Beauveria Bassiana cukup baik karena dari hasil penelitian bahwa jamur tersebut mampu mematikan 95% serangga yang diuji. --






