BERDASARKAN TITIK KERANGKA SAMPEL AREA (KSA) DESA KEREP, KEMIRI ADAKAN GERDAL RAMAH LINGKUNGAN

By DINPPKP 04 Mar 2024, 10:26:10 WIB Penyuluhan
BERDASARKAN TITIK KERANGKA SAMPEL AREA (KSA)  DESA KEREP, KEMIRI ADAKAN GERDAL RAMAH LINGKUNGAN

BERDASARKAN TITIK KERANGKA SAMPEL AREA (KSA)

DESA KEREP, KEMIRI ADAKAN GERDAL RAMAH LINGKUNGAN

 

KEMIRI KEREN NEWS –– Seperti yang diketahui bahwa permasalahan sektor pangan terutama beras selalu ramai dibicarakan. Hal ini dikarenakan data produksi padi disinyalir berbagai pihak tidak akurat. Data yang tidak akurat tersebut dapat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya data luas bahan baku sawah yang berbeda- beda dari berbagai lembaga, metode perhitungan luas yang kurang ilmiah, akurasi data yang belum terukur, dan kurangnya objektif dalam menghitung luas lahan. Sementara tersedianya informasi dan data produksi padi yang lebih cepat dan akurat sangat penting untuk mengambil keputusan kebijakan di sektor pangan nasional. Berdasarkan permasalahan tersebut, BPS membuat suatu metode yang lebih Objective Measurement yang disebut dengan Kerangka Sampel Area (KSA).

 

Hal tersebut disampaikan Koordinator BPP Kecamatan Kemiri, Umul Khasunah, SP., MAP., dalam Gerdal Ramah Lingkungan pada Jumat (01/03/2024) di lahan sawah Desa Kerep, Kecamatan Kemiri.

Dalam sambutannya, Koordinator BPP Kecamatan Kemiri memaparkan bahwa metode Kerangka Sampel Area (KSA) ini merupakan kumpulan sampel area (segmen) berbentuk persegi, dengan ukuran 300mx300m yang dipilih secara acak dalam suatu wilayah administrasi yang memiliki suatu populasi areal pertanian atau sawah. Lokasi KSA ini tetap dan tidak boleh dipindah. Nomer untuk masing masing segmen juga telah ditentukan dan tidak boleh diubah. Satu segmen terdiri dari 9 subsegmen yang berbentuk persegi berukuran 100mx100m. Titik- titik yang terletak di dalam sampel segmen merupakan titik tengah dari sub segmen. Jadi dalam satu segmen terdapat 9 titik pengamatan. Setiap titik pengamatan ini lah yang akan dikunjungi dalam waktu tertentu untuk dicatat fase pertumbuhan padinya.

 

“Berbeda dari gerdal (gerakan pengendalian) sebelumnya, kali ini gerdal di titik beratkan pada titik KSA. Salah satunya di Desa Kerep. Kecamatan Kemiri memiliki 4 titik KSA untuk padi, yang berlokasi di Desa Rejosari, Desa Samping, Desa Gesikan dan Desa Kerep. Sedangkan untuk jagung, titik KSA ada 3 lokasi, yaitu Desa Loning, Desa Samping dan Desa Sutoragan,” ungkap beliau.

 

Beliau juga mengungkapkan bahwa tidak hanya gerdal yang menggunakan titik KSA ini, kedepannya bantuan benih juga didasarkan pada pendekatan KSA. Pengawalan di titik KSA ini, dimulai dari persiapan lahan hingga panen.

 

“Tujuan utama dari pendekatan KSA ini adalah untuk memperbaiki metode pengumpulan data yang konvensional menjadi lebih obyektif, ilmiah, dan modern dengan melibatkan peranan teknologi di dalamnya sehingga data pertanian yang dikumpulkan menjadi lebih akurat dan tepat waktu,” tegas beliau lagi.

 

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Desa Kerep, menyampaikan bahwa, beliau sangat mengapresiasi kegiatan ini dan semoga dapat membantu petani untuk mengendalikan OPT secara ramah lingkungan agar produksi padinya meningkat, apalagi dengan harga gabah saat ini tentu akan meningkatkan pendapatan petani juga.

 

“Semoga, gerdal ini tidak hanya di titik KSA saja tetapi juga di lokasi lain. Karena serangan hama harus dikendalikan secara menyeluruh agar lebih efektif hasilnya,” imbuhnya lagi.

 

Menyadari hal tersebut, beliau berharap bahwa dengan kegiatan ini, semoga petani Desa Kerep selalu kompak untuk mengendalikan OPT dan tidak selalu mengandalkan pestisida kimia.

Hadir dalam acara tersebut Penyuluh Wibi Desa Kerep, Etik Setyowati, Koordinator BPP Kecamatan Kemiri, Umul Khasunah, SP., MAP, Pengamat Hama Wilayah Kecamatan Kemiri, Sugiyo, Koordinator POPT, Wakhidatun Jamaliyah, SP., Kabid Sarlintan DKPP, Jayadi, S.TP., Kepala Desa Kerep dan peserta gerdal yang berjumlah 30 orang.

Acara dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Koordinator POPT, Wakhidatun Jamaliyah, SP. Menurut beliau, seperti halnya penggunaan pupuk kimia, sistem pengendalian hama juga sudah seharusnya dilakukan secara ramah lingkungan dengan menerapkan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Dengan PHT berarti kita merubah minset atau cara berpikir dalam upaya pengendalian populasi, atau tingkat serangan OPT dengan menerapkan berbagai teknik pengendalian, yang dipadukan dalam satu kesatuan untuk mencegah kerusakan tanaman dan timbulnya kerugian secara ekonomis, serta mencegah kerusakan lingkungan dan ekosistem.

Pengendalian terhadap hama khususnya hama penggerak batang padi harus dilaksanakan secara terpadu mulai dari pra tanam sampai menjelang panen. Hama penggerak batang padi merupakan hama utama pada tanaman padi. Kerugian hasil akibat serangan hama ini cukup besar, dengan menurunkan kuantitas dan kualitas produksi padi. Hama penggerek batang padi dapat menyerang tanaman padi stadia umur muda/vegetatif yang dikenal sebagai hama sundep dan menyerang tanaman stadia generatif atau dikenal sebagai hama beluk,” ujarnya.

 

Seperti yang dipaparkan, Wakhidatun Jamaliyah, SP mengatakan bahwa, pengendalian OPT dapat dilakukan secara indvidu mandiri, maupun secara berkelompok dengan metode gerakan pengendalian (gerdal). Gerakan ini dilakukan sebagai upaya pencegahan bila tanaman belum terserang OPT, namun juga dapat dikatakan sebagai pengendalian apabila sudah ditemukan OPT di areal pertanaman.

"Bahan pengendalian yang digunakan adalah Agen Pengendali Hayati (APH) yaitu Beauveria Bassiana. Fungsi Beauveria Bassiana untuk mengendalikan OPT padi seperti walang sangit, wereng coklat dan penggerek batang padi," terang beliau.

 

Beliau menambahkan, untuk cara aplikasinya, sebanyak 1 – 2 gram Beauveria Bassiana diencerkan dalam 1 liter air kemudian ditambahkan 3 sendok gula pasir per tangki. Sedangkan waktu penyemprotan sebaikanya dilakukan pagi atau sore hari. Ambang ekonomi untuk walang sangit 1 ekor/m2 padi masak susu, sedang ambang ekonomi wereng coklat 1 ekor/tunas.  Beauveria Bassiana ini disemprotkan di persemaian umur 14 hari, 2 minggu setelah tanam dan umur 7 minggu setelah tanam.

“Sistem kerja Beauveria Bassiana tidak secepat pestisida kimia, Beauveria Bassiana berbentuk spora jamur yang masuk ketubuh serangga inang. Jamur ini selanjutnya akan mengeluarkan racun beauverin yang membuat kerusakan jaringan tubuh serangga. Dalam hitungan hari, serangga akan mati dengan tubuh mengeras seperti mumi dan tertutup oleh benang-benang hifa berwarna putih.,” ungkapnya lagi.

 

Di akhir acara, beliau menegaskan bahwa Beauveria Bassiana memiliki banyak keunggulan yaitu selektif terhadap serangga sasaran sehingga tidak membahayakan serangga lain bukan sasaran, seperti predator, parasitoid, serangga penyerbuk, dan tidak meninggalkan residu beracun pada hasil pertanian, dalam tanah maupun pada aliran air alami, tidak menyebabkan fitotoksin (keracunan) pada tanaman, mudah diproduksi dengan teknik sederhana. Prospek penggunaan jamur Beauveria Bassiana cukup baik karena dari hasil penelitian bahwa jamur tersebut mampu mematikan 95% serangga yang diuji. --





Berita Purworejo

Counter Pengunjung