ATASI KETERGANTUNGAN PUPUK KIMIA, PENYULUH AJARKAN PETANI MEMBUAT NITROBACTER

By DINPPKP 05 Feb 2024, 10:51:20 WIB Penyuluhan
ATASI KETERGANTUNGAN PUPUK KIMIA,  PENYULUH AJARKAN PETANI MEMBUAT NITROBACTER

ATASI KETERGANTUNGAN PUPUK KIMIA,

PENYULUH AJARKAN PETANI MEMBUAT NITROBACTER

 

KEMIRI KEREN NEWS –– Subsidi pupuk yang semakin dikurangi menjadi 2 jenis pupuk dan terbatas pada 9 komoditas saja, imbas dari adanya kenaikan harga bahan baku pupuk, keterbatasan anggaran dan juga dari sisi teknis yang dievaluasi mengenai produktivitas yang sudah tidak setinggi dulu lagi, sehingga diterbitkannya Peraturan Menteri Pertanian Nomor 10 Tahun 2022 yang mengatur alokasi dan harga eceran pupuk subsidi. Hal tersebut tentu saja menimbulkan gejolak dikalangan petani karena mahalnya pupuk subsidi. Apalagi jika hanya terbatas pada 9 komoditas, bagaimana dengan tanaman yang lain yang juga membutuhkan pupuk. Adakah alternatif lain supaya tanamannya juga tetap subur dan memberikan hasil yang tetap melimpah? sekaligus untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia?

Hal tersebut disampaikan Koordinator BPP Kecamatan Kemiri, Umul Khasunah, SP., MAP., dalam Pelatihan Pengendalian Hama Terpadu pada Kamis (01/02/2024) di Balai Desa Kroyolor, Kecamatan Kemiri.

Dalam sambutannya, Koordinator BPP Kecamatan Kemiri memaparkan, kelebihan pupuk kimia memang dapat menyuburkan tanah yang tidak subur secara cepat, karena pupuk kimia memiliki kandungan yang mudah terurai sehingga mineral di dalamnya dapat dengan cepat terserap oleh tanaman

“Penggunaan pupuk kimia yang terus menerus dapat membuat tanah mengeras dan kehilangan porositasnya. Konsentrasi nitrogen yang tinggi dari pupuk kimia akan masuk terus ke dalam tanah dan akan mencemari pasokan air bersih di dalamnya. Selain masuk ke dalam air tanah, nitrogen dapat terbawa pada tumbuhan atau hewan yang dimakan manusia dan menimbulkan berbagai masalah kesehatan,” tegasnya lagi.

 

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Desa Kroyolor, menyampaikan bahwa, pada zaman dahulu menanam padi membutuhkan waktu yang lama namun karena perkembangan teknologi sekarang menanam padi menjadi lebih pendek umurnya. Zaman dulu juga pernah merasakan swasembada beras.

 

“Salah satu teknologi untuk mendukung swasembada beras yaitu anjuran penggunaan pupuk kimia. Namun demikian, penggunaan pupuk kimia yang terus menerus ternyata tidak sebanding dengan peningkatan produktifitas yang semakin melandai,” imbuhnya lagi.

 

Menyadari hal tersebut, dia berharap bahwa dengan pelatihan ini, semoga petani Desa Kroyolor dapat memanfaatkan ilmu yang diperoleh sehingga mampu mendongkrak peningkatan produktifitas padi yang ditanam.

Selain peserta pelatihan yang berjumlah 25 orang, turut hadir dalam acara tersebut Penyuluh Wibi Desa Kroyolor, Whisnu Agung Nugraha, SP., Koordinator BPP Kecamatan Kemiri, Umul Khasunah, SP., MAP, dan Pengamat Hama Wilayah Kecamatan Kemiri, Sugiyo.

Acara dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Pengamat Hama Wilayah Kecamatan Kemiri, Sugiyo. Menurut beliau, dalam prinsip pengendalian hama terpadu (PHT) ada empat komponen, diantaranya budidaya tanaman sehat, pelestarian musuh alami, pengamatan rutin dan menjadikan petani sebagai ahli PHT.

Sistem pengendalian hama terpadu sebaiknya dikembangkan oleh petani sendiri, karena penerapan PHT harus disesuaikan dengan keadaan ekosistem setempat, mengingat setiap wilayah atau daerah memiliki ekosistem yang berbeda-beda. Sehingga suatu sistem PHT yang dikembangkan pada suatu wilayah tertentu belum tentu cocok jika diterapkan pada wilayah lainnya. Agar setiap petani mampu menerapkan PHT di wilayahnya masing-masing, maka setiap petani harus proaktif untuk mempelajari konsep PHT,” ujarnya.

 

Seperti yang dipaparkan, Sugiyo mengatakan bahwa, tanaman yang sehat memiliki daya tahan yang cukup baik terhadap serangan hama penyakit. Tanaman yang sehat juga memiliki kemampuan yang lebih cepat mengatasi dan memulihkan dirinya sendiri dari kerusakan akibat serangan hama dan penyakit.

"Strategi dalam budidaya tanaman sehat yaitu dengan memadukan semua tehnologi budidaya berbasis ramah lingkungan sehingga dihasilkan tanaman yang sehat. Berawal dari tanaman yang sehat ini maka akan menjadi makanan yang sehat yang akan mendukung pola hidup sehat bagi anak cucu kita," terang beliau.

 

Sementara itu, Penyuluh Wibi Desa Kroyolor, Whisnu Agung Nugraha, SP., juga menyampaikan bahwa salah satu teknologi berbasis ramah lingkungan yang bisa diterapkan oleh petani yaitu pembuatan bakteri pengikat nitrogen atau disebut nitrobacter. Teknologi ini dipilih karena tidak membutuhkan alat dan bahan yang sulit dicari sehingga mempermudah petani.

“Adapun manfaat dari pembuatan bakteri pengikat nitrogen ini, diantarnya memfiksasi nitrogen, merombak racun dalam tanah, menyediakan unsur hara dari bahan alami, dari segi ekonomi mampu memperkecil biaya pengeluaran untuk membeli pupuk kimia sehingga mengurangi ketergantungan penggunaan pupuk kimia,” ungkapnya lagi.

 

Dia menegaskan, untuk mempraktekkan pembuatan nitrobacter di rumah, petani hanya membutuhkan beberapa alat dan bahan yang cukup sederhana, diantaranya tanah di bawah kandang apa saja (paling baik kotoran unggas karena unggas tidak buang air kecil), gula atau tetes tebu sebagai makanan bakteri, urea untuk menyediakan nitrogen agar bisa berkembang biak dan air sebagai pelarut sebanyak 1 liter.

“Untuk proses pembuatannya juga sangat mudah, pertama siapkan botol bekas air mineral ukuran 1,5 liter, masukkan air 1 liter agar 0,5 liter jadi ruang udara. Masukkan gula 3 sdm, tutup dan kocok larutan pertama serta kedua sampai larut sempurna. Masukkan urea 3 sdm, tutup rapat kemudian kocok hingga campurannya larut sempurna. Masukkan tanah kandang 3 sdm, tutup rapat dan kocok kembali sampai larut dan difermentasi secara aerob selama 10 hari di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung,” jelas beliau.

 

Sejalan dengan itu, Whisnu menegaskan bahwa tujuan pencampuran urea dan gula, supaya memunculkan nitrobacter karena dalam tanah ada banyak sekali mikroba. Patokan keberhasilan pembuatan larutan ini adalah adanya bau yang menyengat, berarti nitrobacter siap digunakan. Menariknya, penggunaannya juga sangat hemat, dengan takaran 1 liter nitrobcter bisa dicampurkan dengan 17 liter air. Penggunaannya juga bisa di semua tanaman, murah, bahan dari alam, mudah didapat dan tentunya menekan cost pengeluaran. Acara diakhiri dengan praktek langsung pembuatan bakteri pengikat nitrogen atau nitrobacter. --





Berita Purworejo

Counter Pengunjung