- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
ATASI KETERGANTUNGAN PUPUK KIMIA, PENYULUH AJARKAN PETANI MEMBUAT NITROBACTER

ATASI KETERGANTUNGAN
PUPUK KIMIA,
PENYULUH
AJARKAN PETANI MEMBUAT NITROBACTER
KEMIRI KEREN NEWS –– Subsidi pupuk yang
semakin dikurangi menjadi 2 jenis pupuk dan terbatas pada 9 komoditas saja,
imbas dari adanya kenaikan harga bahan baku pupuk, keterbatasan anggaran dan
juga dari sisi teknis yang dievaluasi mengenai produktivitas yang sudah tidak
setinggi dulu lagi, sehingga diterbitkannya Peraturan Menteri Pertanian Nomor
10 Tahun 2022 yang mengatur alokasi dan harga eceran pupuk subsidi. Hal
tersebut tentu saja menimbulkan gejolak dikalangan petani karena mahalnya pupuk
subsidi. Apalagi jika hanya terbatas pada 9 komoditas, bagaimana dengan tanaman
yang lain yang juga membutuhkan pupuk. Adakah alternatif lain supaya tanamannya
juga tetap subur dan memberikan hasil yang tetap melimpah? sekaligus untuk
mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia?
Hal tersebut disampaikan Koordinator BPP
Kecamatan Kemiri, Umul Khasunah, SP., MAP., dalam Pelatihan Pengendalian Hama
Terpadu pada Kamis (01/02/2024) di Balai Desa Kroyolor, Kecamatan Kemiri.
Dalam sambutannya, Koordinator BPP Kecamatan
Kemiri memaparkan, kelebihan pupuk kimia memang dapat menyuburkan tanah yang
tidak subur secara cepat, karena pupuk kimia memiliki kandungan yang mudah
terurai sehingga mineral di dalamnya dapat dengan cepat terserap oleh tanaman
“Penggunaan pupuk kimia yang terus menerus dapat membuat tanah mengeras
dan kehilangan porositasnya. Konsentrasi nitrogen yang tinggi dari pupuk kimia
akan masuk terus ke dalam tanah dan akan mencemari pasokan air bersih di
dalamnya. Selain masuk ke dalam air tanah, nitrogen dapat terbawa pada tumbuhan
atau hewan yang dimakan manusia dan menimbulkan berbagai masalah kesehatan,” tegasnya lagi.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Desa Kroyolor, menyampaikan
bahwa, pada zaman dahulu menanam padi membutuhkan waktu yang lama namun karena
perkembangan teknologi sekarang menanam padi menjadi lebih pendek umurnya.
Zaman dulu juga pernah merasakan swasembada beras.
“Salah
satu teknologi untuk mendukung swasembada beras yaitu anjuran penggunaan pupuk
kimia. Namun demikian, penggunaan pupuk kimia yang terus menerus ternyata tidak
sebanding dengan peningkatan produktifitas yang semakin melandai,” imbuhnya
lagi.
Menyadari hal tersebut, dia berharap bahwa
dengan pelatihan ini, semoga petani Desa Kroyolor dapat memanfaatkan ilmu yang
diperoleh sehingga mampu mendongkrak peningkatan produktifitas padi yang
ditanam.
Selain peserta pelatihan yang berjumlah 25
orang, turut hadir dalam acara tersebut Penyuluh Wibi Desa Kroyolor, Whisnu
Agung Nugraha, SP., Koordinator BPP Kecamatan Kemiri, Umul Khasunah, SP., MAP,
dan Pengamat Hama Wilayah Kecamatan Kemiri, Sugiyo.
Acara dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh
Pengamat Hama Wilayah Kecamatan Kemiri, Sugiyo. Menurut beliau, dalam prinsip pengendalian
hama terpadu (PHT) ada empat komponen, diantaranya budidaya tanaman sehat,
pelestarian musuh alami, pengamatan rutin dan menjadikan petani sebagai ahli
PHT.
“Sistem pengendalian
hama terpadu sebaiknya dikembangkan oleh petani sendiri, karena penerapan PHT
harus disesuaikan dengan keadaan ekosistem setempat, mengingat setiap wilayah
atau daerah memiliki ekosistem yang berbeda-beda. Sehingga suatu sistem PHT
yang dikembangkan pada suatu wilayah tertentu belum tentu cocok jika diterapkan
pada wilayah lainnya. Agar setiap petani mampu menerapkan PHT di wilayahnya
masing-masing, maka setiap petani harus proaktif untuk mempelajari konsep PHT,”
ujarnya.
Seperti yang dipaparkan, Sugiyo mengatakan
bahwa, tanaman yang sehat memiliki daya tahan yang cukup baik terhadap serangan
hama penyakit. Tanaman yang sehat juga memiliki kemampuan yang lebih cepat
mengatasi dan memulihkan dirinya sendiri dari kerusakan akibat serangan hama
dan penyakit.
"Strategi dalam budidaya
tanaman sehat yaitu dengan memadukan semua tehnologi budidaya berbasis ramah
lingkungan sehingga dihasilkan tanaman yang sehat. Berawal dari tanaman yang
sehat ini maka akan menjadi makanan yang sehat yang akan mendukung pola hidup
sehat bagi anak cucu kita," terang beliau.
Sementara itu, Penyuluh Wibi Desa Kroyolor,
Whisnu Agung Nugraha, SP., juga menyampaikan bahwa salah satu teknologi
berbasis ramah lingkungan yang bisa diterapkan oleh petani yaitu pembuatan
bakteri pengikat nitrogen atau disebut nitrobacter. Teknologi ini
dipilih karena tidak membutuhkan alat dan bahan yang sulit dicari sehingga
mempermudah petani.
“Adapun manfaat dari pembuatan bakteri
pengikat nitrogen ini, diantarnya memfiksasi nitrogen, merombak racun dalam
tanah, menyediakan unsur hara dari bahan alami, dari segi ekonomi mampu
memperkecil biaya pengeluaran untuk membeli pupuk kimia sehingga mengurangi ketergantungan
penggunaan pupuk kimia,” ungkapnya lagi.
Dia menegaskan, untuk mempraktekkan pembuatan nitrobacter
di rumah, petani hanya membutuhkan beberapa alat dan bahan yang cukup sederhana,
diantaranya tanah di bawah kandang apa saja (paling baik kotoran unggas karena
unggas tidak buang air kecil), gula atau tetes tebu sebagai makanan bakteri,
urea untuk menyediakan nitrogen agar bisa berkembang biak dan air sebagai
pelarut sebanyak 1 liter.
“Untuk
proses pembuatannya juga sangat mudah, pertama siapkan botol bekas air mineral
ukuran 1,5 liter, masukkan air 1 liter agar 0,5 liter jadi ruang udara. Masukkan
gula 3 sdm, tutup dan kocok larutan pertama serta kedua sampai larut sempurna.
Masukkan urea 3 sdm, tutup rapat kemudian kocok hingga campurannya larut
sempurna. Masukkan tanah kandang 3 sdm, tutup rapat dan kocok kembali sampai
larut dan difermentasi secara aerob selama 10 hari di tempat yang tidak terkena
sinar matahari langsung,” jelas beliau.
Sejalan dengan itu, Whisnu menegaskan bahwa tujuan
pencampuran urea dan gula, supaya memunculkan nitrobacter karena dalam
tanah ada banyak sekali mikroba. Patokan keberhasilan pembuatan larutan ini adalah
adanya bau yang menyengat, berarti nitrobacter siap digunakan. Menariknya,
penggunaannya juga sangat hemat, dengan takaran 1 liter nitrobcter bisa
dicampurkan dengan 17 liter air. Penggunaannya juga bisa di semua tanaman,
murah, bahan dari alam, mudah didapat dan tentunya menekan cost pengeluaran.
Acara diakhiri dengan praktek langsung pembuatan bakteri pengikat nitrogen atau
nitrobacter. --






