- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
ANTUSIAS, SISWA SDN LONING KECAMATAN KEMIRI IKUTI EDUKASI KONSUMSI PANGAN BERAGAM BERGIZI SEIMBANG DAN AMAN (B2SA) GUNA CEGAH STUNTING

ANTUSIAS, SISWA SDN LONING KECAMATAN KEMIRI IKUTI EDUKASI KONSUMSI PANGAN BERAGAM BERGIZI SEIMBANG DAN AMAN (B2SA) GUNA CEGAH STUNTING
KEMIRI KEREN NEWS –– Stunting merupakan masalah kesehatan serius yang terjadi pada anak akibat kekurangan asupan gizi, terserang infeksi, maupun stimulasi yang tak memadai. Ini menyebabkan terhambatnya pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak, khususnya pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Dalam jangka panjang, stunting tidak hanya berdampak pada tinggi badan anak yang terhambat, tetapi juga bisa memberikan dampak lain seperti penurunan prestasi belajar, masalah ekonomi, hingga munculnya beragam penyakit. Pencegahan stunting perlu untuk dilakukan sedini mungkin, salah satunya dengan perbaikan kualitas makanan melalui pangan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman.
Hal tersebut disampaikan Kepala SDN Loning, Kemiri, Suharini, S.Pd.SD., dalam Edukasi Konsumsi Pangan Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA) pada Rabu (07/08/2024), bertempat di halaman SDN Loning. Kegiatan ini diikuti oleh kurang lebih 150 siswa dengan antusiasme yang tinggi, juga dihadiri Kepala Desa Loning, TP PKK Kabupaten Purworejo, TP PKK Kecamatan dan Desa, Camat Kemiri, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo, Penyuluh Pertanian dan sebagian wali siswa.
Beliau menyampaikan bahwa edukasi konsumsi pangan B2SA penting diberikan sejak usia dini, yaitu semenjak usia sekolah dasar.
“Usia SD merupakan masa penting untuk pertumbuhan, sehingga dalam usia tersebut perlu dilatih untuk mengkonsumsi makanan yang memenuhi unsur B2SA dengan harapan akan membentuk generasi yang sehat dan produktif,” paparnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Desa Loning, Subur mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada Desa Loning khususnya di SDN Loning atas kegiatan Edukasi Konsumsi Pangan B2SA tersebut. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini, para siswa dapat memahami tentang menu makanan yang sehat untuk dikonsumsi.
“Alhamdulillah, Desa Loning diberi kepercayaan mendapat kegiatan edukasi B2SA. Diharapkan agar proses kegiatan ini dapat berjalan lancar sampai akhir di tahap 3. Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi para siswa dan menjadi langkah awal dalam membangun generasi penerus bangsa yang sehat," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo yang diwakili oleh Kepala Bidang Pangan, Tri Astuti Andayani, STP., MM., memaparkan bahwa selain mengedukasi siswa tentang menu B2SA, kegiatan ini juga dikenalkan tentang bagaimana cara menyusun dan memasak menu yang beragam, bergizi, seimbang dan aman. Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah juga telah memberikan bantuan alat- alat untuk memasak yang dapat dimanfaatkan untuk membuat menu pangan yang sehat.
“Dalam kegiatan ini, nantinya anak- anak akan diperkenalkan komposisi makanan B2SA yang terdiri dari nasi, sayur, lauk dan buah juga ditambahkan susu sehingga asupan makanan anak- anak nantinya lebih lengkap dan sehat,” terang beliau.
Beliau juga menambahkan bahwa, pengetahuan akan pentingnya konsumsi pangan B2SA tersebut perlu disosialisasikan sampai pada tingkat terkecil dalam kelompok masyarakat, yaitu keluarga. Didalam suatu keluarga, ibu yang berperan sebagai penentu dan penyedia menu keluarga dan memegang peranan penting terhadap kualitas konsumsi pangan setiap individu dalam keluarganya.
“Kenyataannya sampai saat ini, pola konsumsi pangan masyarakat masih menunjukan kecenderungan kurang beragam dari jenis maupun keseimbangan gizinya. Bahkan tidak sedikit para orang tua lebih suka memberikan makanan yang cepat saji atau instan dengan alasan lebih praktis dan tidak merepotkan,” pungkasnya.
Lebih lanjut, Dra Erna Setyowati Said Romadhon, ketua TP PKK Kabupaten Purworejo menyampaikan tentang bahaya stunting apabila tidak dicegah dan ditangani secara tepat. Stunting dapat memberikan dampak negatif pada kualitas sumber daya manusia. Pencegahan stunting perlu untuk dilakukan sedini mungkin.Semakin dini mencegahnya, sejak remaja perempuan, maka akan semakin baik hasilnya. Perlu juga perubahan perilaku, karena mencegah stunting itu penting.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini karena salah satu cara untuk mencegah stunting yaitu dengan perbaikan dari pola makan. B2SA adalah pola makan sehat yang sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak- anak kita,” sambungnya.
Beliau juga menyampaikan dalam mencegah stunting, diperlukan usaha kolektif dari berbagai pihak. Dimulai dari peran keluarga hingga pemerintah, bahkan sejak janin berada di kandungan, ibu hamil sudah harus memulai usaha untuk mencegah stunting untuk bayinya yang akan lahir kelak. Pada kegiatan tersebut, beliau juga melakukan dialog dengan para siswa.
“Sebagian siswa, masih diberikan mi instan ketika sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah dengan alasan lebih cepat dalam memasaknya dan lebih enak. Jadi saya mohon kepada siswa jangan mau kalau diberi makan mi instan atau makanan cepat saji lainnya karena tidak baik untuk kesehatan,” tambahnya lagi.
Menyadari hal tersebut, Camat Kemiri yang diwakili oleh Kasi Pemberdayaan, Ristiyanto, ST juga menuturkan bahwa di wilayah Kecamatan Kemiri masih banyak dijumpai kasus stunting. Kegiatan edukasi pangan B2SA ini sangat bagus sebagai usaha mencegah stunting. Sehingga diharapkan kegiatan ini tidak berhenti di SDN Loning saja, tapi bisa direplikasi di desa lainnya melalui TP PKK nya.
“Kami sangat mengapresiasi dengan adanya kegiatan edukasi konsumsi pangan B2SA ini. Kami juga berharap, ibu-ibu dalam menyiapkan konsumsi di rumah, ada keseimbangan gizi, menyangkut protein hewani dan nabati, termasuk sayuran dan susu. Dengan gizi yang terpenuhi maka anak-anak akan tumbuh dengan sehat, tumbuh dengan cerdas, terutama untuk protein hewani yang bisa membuat anakanak menjadi cerdas, menjadi baik, sehingga tidak terjadi stunting," katanya.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa tidak hanya disuguhi materi edukasi tentang B2SA, tetapi juga diajak untuk mendengarkan dongeng B2SA yang disampaikan dengan cara yang asik dan menarik, terlihat dari antusias siswa dalam menyimaknya. Dongeng ini menjadi media yang efektif untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya makan sayur dan buah setiap hari. Selain dongeng, para siswa juga diajak untuk mengikuti edukasi permainan yang berkaitan dengan B2SA. Permainan ini membantu para siswa untuk memahami materi dengan lebih mudah dan menyenangkan. Sebagai bentuk komitmen dalam mendorong pola konsumsi B2SA, di akhir acara para siswa dibagikan menu lunchbox B2SA dan susu UHT.
Semoga dengan usaha kecil ini mampu mengurangi kasus stunting di Kabupaten Purworejo tercinta ini
--






