ANTISIPASI SERANGAN OPT DI MT II

By DINPPKP 23 Mar 2022, 13:04:06 WIB Penyuluhan
ANTISIPASI SERANGAN OPT DI MT II

ANTISIPASI SERANGAN OPT DI MT II
Mencermati perkiraan kondisi iklim cuaca 2022, yang cenderung ekstrim dan dapat memicu serangan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) yang berakibat pada penurunan produksi pada tanaman padi, maka dari itu koordinator  POPT Kabupaten Purworejo (Pujo Leksono) melakukan pengamatan keliling bersama PPL Wibi Desa Winong Kecamatan Kemiri Poktan Tambah Rejeki (Ibu Kasmirah), Rabu 23 Maret 2022. Pengamatan Keliling adalah pengamatan yang dilakukan secara berkala dengan menjelajahi wilayah pengamatan untuk mengetahui keadaan serangan OPT, banjir dan kekeringan, serta informasi tentang penggunaan dan penyimpanan bahan pengendali OPT.
 
Dari hasil pengamatan terindikasi nimfa WBC (Wereng Batang Coklat) dan 
Penyakit Kresek/Hawar Daun Bakteri. 
Wereng batang coklat adalah salah satu hama padi yang paling berbahaya dan merugikan, terutama di Asia Tenggara dan Asia Timur. Serangga kecil ini menghisap cairan tumbuhan dan sekaligus juga menyebarkan beberapa virus (terutama reovirus) yang menyebabkan penyakit tungro). Dalam taksonomi hama, wereng batang coklat masuk kedalam Kelas: Insecta; Ordo Hemiptera; Famili Delphacidae; Genus Nilaparvata; Spesies: N. lugens dengan nama binomial Nilaparvata lugens (Stal).
Wereng batang coklat berkembangbiak secara sexual, masa pra peneluran 3-4 hari untuk brakiptera (bersayap kerdil) dan 3-8 hari untuk makroptera (bersayap panjang). Telur biasanya diletakkan pada jaringan pangkal pelepah daun, tetapi kalau populasinya tinggi telur diletakkan di ujung pelepah dan tulang daun.

Telur diletakkan berkelompok, satu kelompok telur terdiri dari 3-21 butir.  Satu ekor betina  mampu  meletakkan  telur  100-500  butir. Telur menetas setelah 7-10 hari. Muncul wereng muda yang disebut nimfa dengan masa hidup 12-15 hari dan setelah fase ini menjadi wereng dewasa. Dalam perkembangan hidupnya, wereng batang coklat mempunyai tiga stadium pertumbuhan yaitu stadium telur, nimfa dan dewasa. Kemudian yang kedua yaitu Hawar Daun Bakteri/Kresek. 


Penyakit hawar daun bakteri (HDB) merupakan salah satu penyakit padi utama yang tersebar di berbagai ekosistem padi di negara-negara penghasil padi, termasuk di Indonesia. Penyakit disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo). Patogen ini dapat mengenfeksi tanaman padi pada semua fase pertumbuhan tanaman dari mulai pesemaian sampai menjelang panen. Penyebab penyakit (patogen) menginfeksi tanaman padi pada bagian daun melalui luka daun atau lobang alami berupa stomata dan merusak klorofil daun. Hal tersebut menyebabkan menurunnya kemampuan tanaman untuk melakukan fotosintesis yang apabila terjadi pada tanaman muda mengakibatkan mati dan pada tanaman fase generative mengakibatkan pengisian gabah menjadi kurang sempurna.

Cara pengendalian penyakit HDB yaitu dengan teknik budidaya (tanam benih/bibit sehat), pemupukan dengan nitrogen yang berkorelasi positif dengan keparahan HDB, sanitasi lingkungan
Untuk pengendalian WBC yaitu menggunakan pergiliran varietas, menggunakan agensi hayati yaitu Metharizium anisopleae atau Beuveria sp, banyak pengendalian lain dengan cara memanfaatkan musuh alami yaitu laba laba, capung jarum, kepik. 
Dari pengamatan yang dilakukan POPT beserta PPL wibi, masih pada vase stadium awal dengan usia tanaman +- 30 HST


Sasmitha Wening - BPP Kemiri





Berita Purworejo

Counter Pengunjung