- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
AMANKAN PRODUKSI, PETANI POKTAN SUBUR MAKMUR LAKUKAN GERDAL OPT TIKUS

AMANKAN PRODUKSI, PETANI POKTAN SUBUR MAKMUR LAKUKAN GERDAL OPT TIKUS
Sudah 3 musim tanam ini, petani di wilayah desa Kalongan Blimbing Bruno mengalami gagal panen padi akibat serangan hama tikus. Pengendalian yang dilakukan mandiri oleh petani nyatanya belum membuahkan hasil yang nyata, bahkan menurut ketua kelompok tani Subur Makmur Bapak Ngukudul Juman malah semakin merajalela. Lokasi persawahan yang berada di tepi sungai Jali, semakin menyulitkan pengendalian tikus. Kurangnya pengetahuan petani tentang pengendalian tikus juga mempengaruhi keberhasilan pengendaliannya.
Pada kesempatan ini, Senin (10/1) seluruh anggota kelompok tani Subur Makmur Bersama POPT dan PPL wilayah Bruno melakukan Gerakan Pengendalian tikus dengan menggunakan belerang. Pengendalian yang dilakukan ini dilakukan di hamparan sawah Segrowong yang baru saja ditanami padi sekitar 20-30 HST seluas 3,5 Ha.
Kegiatan gerdal diawali dengan sosialisasi tentang hama tikus dan cara pengendaliannya oleh POPT bapak Pujo Laksono. Selanjutnya dilakukan Gerakan pengendalian tikus di blok sawah Segrowong Bersama anggota kelompok Tani. Menurut bapak Pujo Laksono (petugas POPT), tikus sawah bisa menghasilkan ribuan anakan dalam 1 musim tanam, itulah sebabnya pada musim tanam berikutnya populasi tikus semakin banyak dan tingkan kerusakannya semaki luas. Pengendalian harus dilakukan secara serentak dalam 1 hamparan dan dilakukan berulang kali. Penyebaran tikus dapat mencapai 200 m dari lubang sarangnya. Pengendalian secara mandiri oleh petani hanya bersifat mengusir dari hamparan sawah untuk sementara, karena koloni lain dapat masuk ke lokasi tersebut sehingga seolah olah serangannya semakin merajalela. Penanaman padi secara serentak dapat mengurangi tingkat kerusakan.
Cara kerja pengendalian dengan belerang yaitu dengan memasukkan stik belerang yang sudah dibakar. Asap yang dihasilkan dimasukkan dalam lubang sarang tikus dengan tujuan gas belerang tersebut menyebar dalam lubang tikus dapat membunuh koloni tikus yang berada di dalam sarang.
Gerakan ini disambut antusias Petani tidak hanya Kelompok Subur Makmur tapi juga kelompok tani di sekitarnya seperti KT Sigrak Trengginas dan Gemah Ripah. Para Petani mencari lubang aktif sarang tikus yang berada di pematang sawah dan tegalan di sekitar persawahan. Hasilnya ditemukan puluhan lubang aktif, dan beberapa lubang ada tikus yang berusaha melarikan diri.
Harapan dari kegiatan pengendalian tikus ini adalah berkurangnya populasi tikus, sehingga tanaman padi pada musim tanam ini dapat menghasilkan panen dengan hasil yang memuaskan.
Pengirim : Martina Dewi K






