- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
Amankan Produksi IP400, BPP Ngombol Adakan Gerdal Hama Wereng Batang Coklat Menggunakan Beauveria Bassiana

Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk Indonesia, diperlukan kemandirian pangan untuk menjamin ketersediaan beras nasional. Konsekuensi logis dengan adanya pertambahan jumlah penduduk yaitu adanya alih fungsi lahan pertanian menjadi perumahan dan industri., di sisi lain pemerintah dituntut dapat mencukupi kebutuhan dalam negeri (pangan mandiri) yang pada akhirnya mampu meningkatkan pendapatan petani. Oleh karena itu diperlukan strategi, salah satunya melalui Peningkatan Indeks Pertanaman 400 yang diharapkan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar pada produksi tanaman padi mendatang.
Dirjen Tanaman Pangan, Suwandi menyampaikan bahwa IP-400 merupakan salah satu upaya dalam teknik budidaya yang mendorong petani dalam melakukan penanaman hingga panen sebanyak 4 kali dalam satu tahun pada hamparan yang sama, di mana varietas yang digunakan varietas umur sangat genjah. Selain itu juga persemaian dilakukan minimal 15 hari menjelang panen dan dilakukan di luar areal pertanaman (sebar pethuk).
Kelompok Tani Wargo Tani II Desa Rasukan Kecamatan Ngombol Kabupaten Purworejo merupakan salah satu kelompok tani yang menerapkan teknik budidaya model IP-400. Pada Bulan September ini sudah memasuki musim tanam 3, dengan perkiraan panen pada Bulan November 2021. Dalam prakteknya, ditemukan adanya serangan OPT yaitu hama wereng batang coklat. Petugas POPT, PPL dan Ketua Kelompok Tani melakukan pengamatan di lahan sawah dan ditemukan adanya populasi hama wereng sejumlah 4 ekor/rumpun dengan Varietas M70D dan umur tanaman 35 HST, sehingga perlu melakukan pengendalian untuk menekan serangan hama tersebut yang dapat mempengaruhi produktivitas tanaman sehingga petani akan mengalami kerugian dalam usahataninya.
Laboratorium PHP Temanggung bekerjasama dengan Konstratani Ngombol melakukan gerakan pengendalian hama wereng pada Hari Rabu Tanggal 15 September 2021 dengan menggunakan agensia hayati Beauveria bassiana. Dalam mengendalikan hama terutama golongan serangga, Beauveria bassiana akan menginfeksi tubuh serangga melalui permukaan kulit atau saluran pencernaan selanjutnya cendawan ini akan berkembang biak dan memproduksi racun Beauveria bassiana yang akan merusak tubuh dari serangga tersebut. Serangga yang terserang jamur Beauveria bassiana ini akan mati dengan kulit mengeras dan tubuh yang tertutup hifa berwarna putih.
Keunggulan penggunaan agen hayati dalam hal ini Beauveria bassiana dibandingkan dengan penggunaan insektisida kimia adalah tetap terjaganya keseimbangan ekosistem seperti populasi musuh alami hama wereng dan walang sangit yang tidak ikut mati seperti dalam penyemprotan pestisida kimia. Gerdal ini dihadiri oleh POPT dan PPL Kecamatan Ngombol, Pemerintah Desa Rasukan, Pengurus dan anggota kelompok tani sebanyak 20 orang. Dengan adanya gerakan pengendalian ini diharapkan dapat mengendalikan hama wereng dengan tetap memperhatikan keseimbangan ekosistem dan ramah lingkungan. Respon cepat pemerintah menangani permasalahan hama dan penyakit tanaman selaras dengan pernyataan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. "Semua harus bergerak membantu petani mengamankan produksi padi dari ancaman serangan hama wereng ataupun hama lainnya yang mengancam produksi pangan nasional," tegas Mentan.






