Agensia Hayati, Bagian dari Pertanian Ramah Lingkungan

By DINPPKP 19 Jun 2023, 13:57:38 WIB Penyuluhan
Agensia Hayati, Bagian dari Pertanian Ramah Lingkungan

AGENSIA PENGENDALI HAYATI (APH)

SEBAGAI SALAH SATU BAGIAN

BUDIDAYA PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN

 

 

Pada Hari Selasa, tanggal 13 Juni 2023, bertempat di rumah Kepala Desa Sendangsari, Kecamatan Purwodadi telah dilaksanakan Kursus dan Rembug Tani, yang merupakan kegiatan Climate Smart Agriculture (CSA) SIMURP. Kegiatan yang  dilaksanakan di 24 kelompok tani di Kecamatan Purwodadi ini merupakan kegiatan untuk meningkatkan sumber daya manusia petani, dalam rangka menjaga ketahanan pangan ditengah dampak perubahan iklim. Hadir dalam kegiatan ini 25 orang anggota kelompok tani dan 2 orang penyuluh pertanian, Desty Lina Erfawati, S.P dan Jivana Zulfi, S.P sebagai narasumber.

Tak dipungkiri bahwa orientasi kegiatan budidaya pertanian adalah produksi yang tinggi. Padi merupakan komoditas tanaman pangan yang utama sebagai penghasil beras. Petani sebagai pelaku utama lebih cenderung mementingkan kuantitas daripada kualitas, produksi yang banyak ketimbang mutu gabah/beras. Setiap petani mempunyai alasan saat memilih sarana produksi yang digunakan seperti benih, pupuk maupun pengendali organisme pengganggu tanaman (OPT). Metode budidaya yang digunakan petani juga beragam, ada yang konvensional dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, ada juga petani yang telah menerapkan  metode budidaya pertanian ramah lingkungan.

Belum banyak petani yang menerapkan budidaya pertanian ramah lingkungan, meskipun mereka menyadari bahwa metode ini baik. Hal ini disebabkan karena metode konvensional dinilai lebih praktis. Pupuk dan pestisida kimia tersedia di pasaran, mudah digunakan dan hasilnya lebih cepat terlihat, sedangkan sarana produksi untuk pertanian ramah lingkungan seperti pupuk organic, harus membuat sendiri, jumlah yang diperlukan banyak, memerlukan tenaga kerja lebih banyak dan respon tanaman tidak cepat terlihat, seperti yang dikemukakan oleh Soim, salah satu anggota Kelompok Tani Tani Makmur.

Namun demikian, sejak dimulainya revolusi industri, dampak dari penggunaan pupuk  dan pestisida kimia yang terus menerus serta cenderung berlebihan ternyata tidak baik bagi tanah, lingkungan budidaya dan mutu produknya. Struktur tanah jadi rusak dan tidak subur, jumlah serta jenis hama dan penyakit semakin beragam serta tingginya residu kimia pada produk pertanian. Untuk itu penyuluh mengajak para petani untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida kimia, dan mulai menerapkan budidaya ramah lingkungan.

Salah satu alternatif pengendalian OPT pada metode budidaya padi ramah lingkungan adalah menggunakan Agensia Pengendali Hayati (APH). Agensia Pengendali Hayati adalah setiap organisme atau mahluk hidup, terutama serangga, cendawan, cacing, bakteri, virus dan binatang lainnya yang dapat dipergunakan untuk pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Pengendalian Hayati adalah pemanfaatan musuh alami untuk mengendalikan populasi OPT baik yang diintroduksi maupun sudah ada disuatu daerah/lokasi. Sedangkan musuh Alami adalah setiap organisme yang dapat merusak, mengganggu kehidupan/ menyebabkan OPT itu sakit atau mati.

Penyuluh menyampaikan kepada anggota, bahwa ada 4 kelompok agensia pengendali hayati yang sudah dikenal, yaitu predator (pemangsa), parasitoid, patogen serangga dan agen antagonis.

  1. Predator adalah binatang yang memangsa binatang lain (mangsa). Umumnya pemangsa bersifat polifag atau mempunyai mangsa lebih dari satu jenis. Pemangsa ini aktif memburu mangsa atau membuat perangkap. Pemangsa berasal dari golongan laba-laba, serangga, tungau, burung, reptilia dll.
  2. Parasitoid adalah serangga yang hidup menumpang di luar atau di dalam tunuh serangga lain (sebagai inang).  Sifat parasite ini hanya terjadi pada fase larva, sedangkan parasitoid dewasa hidup bebas dengan atau tanpa pakan berupa nektar, madu dan zat-zat lain yang mengandung gula sebagai pakan.
  3. Patogen Serangga adalah mikroorganisme yang menyebabkan infeksi dan menimbulkan penyakit pada individu OPT yang terserang. Patogen ini diantaranta berupa bakteri, jamur dan virus.
  4. Agen Antagonis Patogen adalah mikroorganisme yang menghambat/ mengintervensi pertumbuhan patogen penyebab penyakit pada tanaman. Mikroorganisme agen antagonis diantaranya Pseudomonas Fluorescens yang dapat menghambat perkembangan Jamur Fusarium sp, penyebab penyakit layu. Selain itu ada Jamur Trichoderma sp yang dapat menghambat perkembangan jamur Rhizoctonia solani dan Phytium sp peneybab penyakit rebah kecambah pada persemaian.

Petani anggota Kelompok Tani Tani Makmur Desa Sendangsari telah belajar mengembangkan jamur Beauveria Bassiana dengan media air kentang, pada pertemuan sebelumnya. Anggota juga sudah diajarkan bagaimana cara kerja jamur Beauveria Bassiana sebagai agensia pengendali hayati atau biopestisida untuk mengendalikan beberapa hama pada tanaman padi, diantaranya wereng batang coklat dan walang sangit.

 

(Desty Lina Erfawati, S.P – Penyuluh Pertanian BPP Purwodadi)





Berita Purworejo

Counter Pengunjung