- DKPP Purworejo Kembali Pastikan Kualitas Kambing Jawa Randu untuk Penerima Hibah 2026
- KTNA Kecamatan Bener Gelar Pertemuan dan Tanam Benih Padi Metode PM-AAS
- PERUM BULOG DAN DKPP PURWOREJO GELAR EVALUASI BANTUAN PANGAN CPP
- KWT Margo Dadi Prapaglor Belajar Buat PSB
- Seleksi Tahap Kedua Tuntas, DKPP Pastikan 55 Domba Hibah Siap Disalurkan kepada Kelompok
- Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo Gelar Monev Alsintan di Pituruh
- PERINGATI HKG PKK KE-54, RATUSAN KADER PKK PURWOREJO ANTUSIAS SERBU GERAKAN PANGAN MURAH DI PENDOPO PURWOREJO
- Tingkatkan Angka Kebuntingan Sapi Peternak, Program Subali Sapira Beraksi Lagi di Kedungpomahan Kulon
- RAKOR PEMANTAUAN STOK DAN HARGA DI TINGKAT PRODUSEN DAN KONSUMEN BULAN AGUSTUS 2026
- RAPAT KOORDINASI PERCEPATAN PELAKSANAAN PEMBANGUNAN JUT
DKPP Purworejo Jalin Kerjasama Dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah AdakanTemu Pelanggan oleh Balai Pelayanan Veteriner

DKPP Purworejo Jalin Kerjasama Dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah AdakanTemu Pelanggan oleh Balai Pelayanan Veteriner
Dalam rangka meningkatkan kapasitas SDM Veteriner di Jawa Tengah, pada hari Rabu tanggal 17 Juni 2026 diselenggarakan kegiatan Temu Pelanggan oleh Balai Pelayanan Veteriner Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah yang berlokasi di Jl. MT Haryonp N0.53 Sidomulyo, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang.
Kegiatan tersebut diikuti oleh petugas medik veteriner dinas yang menangani peternakan dan Kesehatan hewan dari 35 kabupaten/Kota se Jawa Tengah, dengan pokok pembahasan tentang “Parasit Darah”. Adapun tujuan dari terselenggaranya acara tersebut adalah:
1. Meningkatkan pemahaman tentang penyakit parasit darah pada ruminansia
2. Mengidentifikasi agen penyebab dan cara penularan
3. Mengetahui gejala klinis dan dampak penyakit
4. Menentukan strategi pengendalian dan pencegahan
Parasit darah merupakan infeksi mematikan yang menyerang sel darah hewan. Biasanya ditularkan melalui gigitan kutu atau caplak, penyakit ini kerap disebut mirip demam berdarah dan bisa menyebabkan kematian mendadak jika terlambat ditangani.
Parasit darah adalah infeksi yang disebabkan oleh protozoa atau bakteri (seperti Babesia atau Mycoplasma) yang merusak sel-sel darah merah pada hewan, seperti anjing, kucing, bahkan hewan ternak. Di Indonesia, penyakit ini menjadi momok karena sering menjadi penyebab utama kematian mendadak pada hewan peliharaan.
Parasit darah pada ruminansia merupakan salah satu permasalahan utama dalam sektor peternakan, khususnya di wilayah tropis seperti Indonesia. Penyakit ini umumnya termasuk dalam kelompok Tick-Borne Diseases (TBDs) yang ditularkan melalui vektor caplak dan memiliki dampak ekonomi yang signifikan terhadap produktivitas ternak, kerugian akibat kematian ternak, biaya pengobatan dan pengendalian serta gangguan reproduksi
Agen penyebab utama parasit darah antara lain Theileria, Babesia, dan Anaplasma, yang tersebar luas di berbagai wilayah, serta Trypanosoma (Surra) yang masih menjadi ancaman di Pulau Jawa.
Gejala Klinis Utama
· Demam Tinggi: Suhu tubuh ternak melonjak drastis hingga mencapai 40°C–41°C akibat reaksi peradangan sistemik.
· Anemia Akut: Selaput lendir pada mata, gusi, dan vagina terlihat pucat atau putih karena kekurangan sel darah merah.
· Hemoglobinuria: Urin berubah warna menjadi merah tua atau cokelat akibat hancurnya sel darah merah (merupakan gejala khas Babesiosis).
· Ikterus (Sakit Kuning): Selaput lendir dan kulit berubah kekuningan akibat penumpukan bilirubin dari kerusakan sel darah.
· Penurunan Nafsu Makan: Ternak mengalami anoreksia parah, lemas, dan lebih sering berbaring terpisah dari kelompoknya.
· Gangguan Saraf: Ternak berputar-putar, kejang, atau mengalami kebutaan mendadak (merupakan gejala khas Surra stadium lanjut).
· Pembengkakan Kelenjar: Kelenjar getah bening di area leher dan paha membengkak secara nyata (merupakan gejala khas Theileriosis).
· Penurunan Berat Badan: Terjadi penurunan bobot badan dan produksi susu secara drastis dalam waktu singkat.
· Keguguran (Aborsi): Sapi betina yang sedang bunting tua sering kali mengalami keguguran akibat demam tinggi dan anoksia jaringan.
Strategi pengendalian meliputi:
1. Pengendalian vektor (pemberantasan caplak)
2. Penggunaan obat antiparasit
3. Manajemen kandang yang baik
4. Biosecurity dan sanitasi
5. Monitoring kesehatan ternak secara rutin






