Lahan Sawah Bero Tetap Produktif, Petani Plandi Buktikan Jagung Bisa Jadi Peluang di Musim Kemarau

By DINPPKP 28 Okt 2026, 09:39:25 WIB Penyuluhan
Lahan Sawah Bero Tetap Produktif, Petani Plandi Buktikan Jagung Bisa Jadi Peluang di Musim Kemarau

Lahan Sawah Bero Tetap Produktif, Petani Plandi Buktikan Jagung Bisa Jadi Peluang di Musim Kemarau


*PURWOREJO* – Musim kemarau bukan berarti lahan pertanian harus dibiarkan menganggur. Hal inilah yang ditunjukkan melalui penanaman jagung di lahan sawah kering atau bero di Desa Plandi, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo. Memanfaatkan lahan yang tidak ditanami padi pada Musim Tanam (MT) III, penanaman jagung varietas BISI menjadi salah satu upaya untuk mendorong pemanfaatan lahan secara produktif sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.


Pada Selasa, 27 Oktober 2026, Petugas Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo, Bapak Sumarsono, melaksanakan monitoring pertanaman jagung di lahan milik salah satu perangkat Desa Plandi. Dalam kegiatan tersebut, tanaman jagung terpantau telah memasuki tahap siap panen. Kondisi ini menjadi bukti nyata bahwa lahan sawah yang biasanya tidak ditanami padi pada musim kemarau masih berpeluang memberikan hasil dan nilai ekonomi melalui pemilihan komoditas yang sesuai.


## Mengubah Lahan Bero Menjadi Peluang Ekonomi


Selama ini, sebagian lahan sawah tidak dimanfaatkan pada MT III karena keterbatasan ketersediaan air untuk budidaya padi. Padahal, apabila kondisi lahan dan sumber daya yang tersedia memungkinkan, lahan tersebut dapat dimanfaatkan untuk komoditas alternatif yang lebih sesuai dengan kondisi musim kemarau, salah satunya jagung.


Penanaman jagung di Desa Plandi menjadi contoh yang dapat dilihat langsung oleh masyarakat bahwa lahan bero tidak selalu harus dibiarkan kosong. Dengan pemilihan varietas yang tepat, pengelolaan budidaya yang baik, serta penyesuaian waktu tanam dengan kondisi air dan cuaca, lahan yang sebelumnya tidak produktif berpeluang menghasilkan tambahan pendapatan bagi petani.


Jagung juga memiliki nilai ekonomi yang dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan komoditas pada musim kemarau. Dengan harga jagung kering panen sebesar *Rp7.300 per kilogram* sebagaimana diinformasikan dalam kegiatan ini, hasil panen berpotensi memberikan tambahan penerimaan bagi petani. Besarnya keuntungan tetap bergantung pada produktivitas lahan, volume hasil panen, biaya benih, pupuk, tenaga kerja, pengairan, dan biaya produksi lainnya.


## Tidak Harus Menunggu Musim Hujan untuk Tetap Produktif


Pemanfaatan lahan bero untuk jagung bukan sekadar upaya mengisi kekosongan musim tanam. Langkah ini merupakan bentuk adaptasi pertanian terhadap keterbatasan air dan perubahan pola musim yang semakin perlu diperhatikan. Ketika air tidak mencukupi untuk budidaya padi, petani dapat mempertimbangkan alternatif komoditas yang sesuai dengan kondisi lahan, ketersediaan air, dan kebutuhan pasar.


Namun, keberhasilan budidaya jagung pada musim kemarau tetap memerlukan perencanaan. Petani perlu memperhatikan kondisi kelembapan tanah, ketersediaan air pada fase pertumbuhan penting, waktu tanam, pemilihan varietas, serta potensi serangan organisme pengganggu tumbuhan. Dengan perencanaan tersebut, pemanfaatan lahan bero diharapkan dapat memberikan hasil yang optimal tanpa menambah risiko kerugian bagi petani.


## Sejalan dengan Upaya Memperkuat Ketahanan Pangan


Penanaman jagung di Desa Plandi juga sejalan dengan upaya mendorong diversifikasi komoditas pertanian, optimalisasi pemanfaatan lahan, serta peningkatan produksi pangan. Jagung memiliki peran penting sebagai bahan pangan, pakan ternak, dan bahan baku berbagai produk olahan. Peningkatan produksi jagung dari lahan yang sebelumnya tidak ditanami dapat turut mendukung ketersediaan komoditas pangan dan pakan, sekaligus memperluas sumber pendapatan masyarakat pertanian.


Upaya ini dapat disinergikan dengan program pembangunan pertanian lainnya, seperti pendampingan budidaya oleh petugas pertanian, penguatan kelompok tani, penyediaan benih bermutu sesuai program yang tersedia, penerapan teknologi budidaya yang efisien, serta penguatan akses pemasaran hasil panen. Dukungan lintas pihak diperlukan agar pemanfaatan lahan bero tidak berhenti sebagai kegiatan percontohan, tetapi berkembang menjadi praktik budidaya yang dapat diterapkan oleh lebih banyak petani.


## Dari Plandi, Tumbuh Motivasi untuk MT III Mendatang


Kegiatan monitoring ini diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran dan motivasi bagi masyarakat Desa Plandi maupun desa-desa lain di Kabupaten Purworejo yang memiliki lahan sawah tidak ditanami padi pada musim kemarau. Keberhasilan pertanaman jagung hingga siap panen memberikan gambaran bahwa keterbatasan air untuk budidaya padi masih dapat direspons melalui pilihan komoditas alternatif yang sesuai.


Ke depan, diharapkan semakin banyak petani yang tertarik memanfaatkan lahan bero pada MT III dengan menanam jagung atau komoditas lain yang sesuai dengan kondisi setempat. Tentu, keputusan budidaya perlu mempertimbangkan ketersediaan air, kesesuaian lahan, kebutuhan biaya, dan peluang pasar agar manfaat ekonomi yang diperoleh benar-benar dapat dirasakan petani.


Dari Desa Plandi, sebuah pesan sederhana dapat menjadi inspirasi bagi pembangunan pertanian: *lahan yang tidak ditanami padi bukan berarti kehilangan peluang untuk menghasilkan.* Dengan inovasi, pendampingan, dan sinergi program pertanian, lahan bero pada musim kemarau dapat menjadi salah satu pintu untuk meningkatkan produktivitas lahan, memperkuat pendapatan petani, dan mendukung ketahanan pangan Kabupaten Purworejo.





Berita Purworejo

Counter Pengunjung