Rambutan: Dulu Diburu, Kini Mulai Terlupakan

By DINPPKP 13 Jan 2026, 09:03:05 WIB Rapat
Rambutan: Dulu Diburu, Kini Mulai Terlupakan

Rambutan: Dulu Diburu, Kini Mulai Terlupakan

KEMIRI KEREN NEWS — Dulu, setiap musim rambutan tiba, suasana kampung selalu terasa berbeda. Anak-anak berlomba memanjat pohon, orang tua menyiapkan wadah, dan rambutan menjadi buah yang paling ditunggu-tunggu. Kini, pemandangan itu mulai jarang dijumpai. Rambutan seolah kalah pamor oleh buah-buahan modern yang dianggap lebih praktis dan “tidak ribet”. Inilah realita yang diangkat dalam siaran radio Binamas FM Kemiri bersama Penyuluh Pertanian BPP Kecamatan Kemiri, Umul Khasunah, SP., MAP pada Senin, 12 Januari 2026 (12/01) yang mengajak pendengar untuk kembali menoleh pada kekayaan buah lokal.

Dalam siarannya, Umul Khasunah menyampaikan bahwa perubahan zaman memang membawa perubahan selera. Banyak masyarakat sekarang memilih buah yang bisa langsung dimakan tanpa perlu mengupas, tanpa membuat tangan lengket, dan tanpa perlu repot.

“Sekarang orang lebih suka yang praktis. Tinggal cuci, langsung makan. Rambutan dianggap ribet karena harus dikupas dan lengket di tangan. Padahal, justru di situlah keunikan dan keseruannya,” ujarnya sambil tersenyum.

Ia menegaskan bahwa rambutan bukan buah biasa. Rambutan adalah saksi kerja keras petani, buah dari kesabaran, ketelatenan, dan ketangguhan menghadapi cuaca serta hama. Setiap butir rambutan yang kita makan menyimpan cerita panjang dari kebun hingga ke tangan konsumen.

“Kalau rambutan cuma buah lengket, itu keliru besar. Di balik lengketnya itu ada keringat petani, ada harapan keluarga petani, dan ada perjuangan ekonomi desa,” tegasnya.

Rambutan, menurutnya, bukan hanya soal rasa manis dan segar, tetapi juga soal rasa peduli. Saat masyarakat memilih mengonsumsi rambutan lokal, sesungguhnya mereka sedang mengirim pesan kepada petani bahwa jerih payah mereka masih dihargai.

Ia juga menyinggung bahwa generasi sekarang perlu dikenalkan kembali pada nilai kebersamaan yang dulu hadir lewat rambutan. Dulu, makan rambutan bukan kegiatan individual, melainkan momen berkumpul, berbagi, dan bercanda bersama keluarga.

“Sekarang orang makan buah sambil pegang HP, sendiri-sendiri. Dulu, makan rambutan itu rame-rame, sambil ngobrol, sambil ketawa. Ada nilai sosial yang hilang kalau rambutan kita tinggalkan,” tambahnya.

Rambutan yang dianggap merepotkan justru mengajarkan kesabaran, kebersamaan, dan penghargaan terhadap proses. Mengupasnya pelan-pelan, membersihkan getahnya, lalu menikmati manisnya, adalah simbol bahwa sesuatu yang berharga memang butuh usaha.

“Sedikit lengket itu bukan masalah. Itu tanda kita masih mau berproses. Kalau semua harus instan, kita kehilangan makna,” katanya.

Umul Khasunah juga membagikan tips singkat budidaya rambutan agar masyarakat semakin tertarik menanam dan mengonsumsinya. Menurutnya, kunci utamanya adalah memilih bibit unggul hasil okulasi atau sambung pucuk, menanam di tempat yang cukup sinar matahari, serta menjaga tanah tetap gembur dan tidak tergenang air. Pemupukan perlu dilakukan secara rutin dengan pupuk organik dan ditunjang pupuk tambahan sesuai kebutuhan tanaman. Penyiraman teratur, pemangkasan cabang yang terlalu rimbun, serta pengendalian hama secara ramah lingkungan akan membuat tanaman lebih sehat dan cepat berbuah.

“Rambutan itu sebenarnya mudah dirawat. Asal bibitnya bagus, cukup matahari, air terjaga, dan dipupuk rutin, tanaman bisa tumbuh subur dan berbuah lebat,” ujarnya.

Ia menambahkan, menanam satu pohon rambutan di pekarangan rumah sudah menjadi langkah sederhana namun bermakna untuk melestarikan buah lokal.

“Kalau setiap rumah menanam satu pohon rambutan, kita sudah ikut menjaga keberadaan rambutan sekaligus mendukung pertanian lokal,” tambahnya.

Siaran di Binamas FM Kemiri ini terasa bukan sekadar obrolan tentang buah, tetapi tentang sikap hidup. Tentang keberanian memilih produk lokal di tengah gempuran gaya hidup instan. Tentang kebanggaan menikmati hasil bumi sendiri.

Di akhir siaran, Umul Khasunah mengajak pendengar dengan kalimat yang menggelitik sekaligus menyentuh:

“Kalau tangan kita lengket karena rambutan, itu bukan kotor. Itu tanda kita sedang membantu petani tersenyum.”

Kalimat itu menjadi penutup yang kuat, menyadarkan bahwa di balik satu buah rambutan, ada cinta pada pertanian, ada dukungan pada petani, dan ada harapan agar buah lokal tetap hidup di tengah derasnya arus modernisasi. Semoga.–





Berita Purworejo

Counter Pengunjung